Arsip Kategori: tragis

Berguru Agar Tak Buru-buru Cemburu

Katanya sih, ini pribahasa Arab. Whatever! Yg jelas, ini quote keren. “Susah menyembunyikan cinta, lebih susah lagi menyembunyikan kebencian. Dan yang paling susah menyembunyikan cemburu, karena itu adalah cinta dan kebencian sekaligus.” Baca lebih lanjut

Hakikat Kerakyatan, Lebih Cepat Melanjutkan Derita

Tiga pasangan itu sama-sama bagus. Maksudnya, bagus dalam berjanji, mencela, membusungkan dada atau membesarkan paha. Nasib kita di tangan kita, siapa pun yg terpilih tak kan memberi beda.

Dengan segala kehebohannya, mereka toh cuma sedang cari makan, sama seperti penjual es dawet ayu, yang berpeluh diterkam terik, merunduk dipukul debu. Bedanya, si penjual es ini tak merasa perlu berbohong, atau mengata-ngatai penjual es buah di sebelahnya.

Dua paragraf di atas menjadi status paling panjang sekaligus paling skeptis sepanjang sejarah saya berpesbuk. (Sejarah, Cing!) Baca lebih lanjut

Siapa Bilang Cinta Tak Bisa Dibeli?

Usianya sekitar 22 tahun. Mungil, rambut lurus legam, kulit halus walaupun tak begitu putih. Tak tamat SMP, keburu hamil sama pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3 x 4 m bertarif Rp 500 ribu per bulan. Dia pelacur, sejak tahun 2004 silam, saat baru berusia sekitar 18 tahun.

“Waktu baru-baru terjun dulu, aku ingat itu pas kejadian tsunami di Aceh. Sempat takut juga, seperti ada hubungannya gitu kan. Seperti diingatkan gitu, kalau Tuhan marah itu ngeri,” katanya, cekikikan. Nyatanya, ketakutannya tak sebesar tekadnya. Buktinya lanjut sampai sekarang.

Di kota ini, dia menjelma menjadi mesin pencari uang. Selain untuk membayar uang kos, keperluan perawatan wajah dan tubuh, dia juga harus memikirkan kiriman uang buat ibunya, yang kini menjadi single parent bagi dua adiknya, dan anaknya sendiri di kampung. Dan satu lagi, membiayai seorang bronces yang tinggal bersamanya di kamar kos itu. Baca lebih lanjut

Jika Ajal Sudah Ditentukan, Mangapa Harus Ada yang Disalahkan Atas Sebuah Kematian

Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat, meninggal dunia di tengah kepungan unjukrasa. Dia tampaknya beberapa kali menjadi sasaran pukulan, namun penyakit jantung yang dideritanyalah, yang sepertinya menjadi penyebab kematian.

Sepeninggalnya, orang-orang berdebat. Jenazah yang semestinya langsung menjalani kifayah itu, harus dibelah, otopsi namanya, untuk menentukan penyebab pasti kematiannya.

Namun di antara kerumunan orang yang melayatnya, terdengar suara berguman, “Namanya juga sudah ajal.” Baca lebih lanjut

Jika Harus Selingkuh, Lakukanlah dengan Baik dan Benar

Sebelumnya, saya klarifikasi dulu bahwa selingkuh yang dimaksud dalam tulisan ini adalah jenis “Selingan Indah Keluarga Utuh”. Jadi, para pelakunya tetap bertekad untuk mempertahankan keutuhan keluarga, karena satu dan lain sebab.

Perselingkuhan terjadi lebih sering karena faktor internal di diri pelaku, daripada akibat pengaruh atau sebab-sebab di luar dirinya. Buktinya, lelaki lebih rentan berselingkuh, padahal potensi ketidakpuasan kepada pasangan, rasanya sama besar baik di kalangan pria maupun bagi kaum wanita. (Jangan-jangan malah lebih besar di kalangan wanita, sebenarnya).

Makanya seorang kawan pernah bilang, wanita perlu sebab yang kuat dan situasi yang kompleks untuk berselingkuh – acap kali merupakan “sarana” balas dendam atas perselingkuhan yang lebih dulu dilakukan lelakinya – sementara di sisi lain, lelaki seringkali tak memerlukan sebab apapun untuk melakukannya. Baca lebih lanjut

Bagaimana Mungkin Tuhan yang Mahacinta Mengirim Seseorang ke Neraka?

Ini pertanyaan udah jadul banget! Tantangan iman yang sangat klasik kepada semua agama, terutama yang berklasifikasi langit! (Keren nian sebutan itu, seolah agama lain agama kelas dua, made in earth).

Mau ke neraka? Pastikan Anda tidak nyasar ke mana-mana. No place like hell. source: consumptionaddict.wordpress.com

Sebenarnya, ada jawaban yang sangat tangkas, efektif, dan telak: Tuhan tidak mengirim siapapun ke neraka. Manusialah yang mengirim dirinya sendiri ke sana. Tuhan justru sudah all out, abis-abisan mencegah manusia dari mengirim dirinya sendiri ke tempat api dan derita abadi itu.

Dalam perspektif Islam misalnya, Dia harus “berepot-repot” menurunkan 25 utusan, menerbitkan 4 kitab! Dalam perspektif Kristen bahkan lebih dahsyat lagi. Dia rela mengorbankan anak tunggalnya. Buat apa? Semata-mata mencegah manusia dari tindakan bodoh mengirim dirinya sendiri ke neraka itu. Keren kan?

But… our problem then… Daripada sebegitu “repot” dan “tragisnya” mencegah kita migrasi ke neraka, lha kok ga nerakanya aja yang di-delete? Ctrl A neraka, trus delete. Beres kan? Ga ada masalah dong, buat yang Mahakuasa, yang Mahaberkehendak? Baca lebih lanjut

Haruskah Berhenti (Belajar) Menulis Tentang Agama?

Walau niatnya untuk menumbuhkan saling pengertian, tulisan bertema agama kerap malah menjadi bibit perdebatan yang menjurus kepada “permusuhan”. Inikah saatnya berhenti menulis tentang topik itu?

Kayaknya nggak deh!

Toh masih lebih banyak kawan yang mengekspresikan perasaan yang sama, bahwa kita harus bisa berdamai di tengah perbedaan, saling mengerti dan menghargai pendirian orang lain, sepakat untuk tidak sepakat dengan tetap menaruh hormat. Masih lebih banyak sahabat yang setuju, bahwa korban pertama dari setiap permusuhan adalah kebenaran, dan yang pertama kali diuntungkan oleh perdamaian adalah kehidupan itu sendiri. Baca lebih lanjut