Arsip Kategori: stress

Hakikat Kerakyatan, Lebih Cepat Melanjutkan Derita

Tiga pasangan itu sama-sama bagus. Maksudnya, bagus dalam berjanji, mencela, membusungkan dada atau membesarkan paha. Nasib kita di tangan kita, siapa pun yg terpilih tak kan memberi beda.

Dengan segala kehebohannya, mereka toh cuma sedang cari makan, sama seperti penjual es dawet ayu, yang berpeluh diterkam terik, merunduk dipukul debu. Bedanya, si penjual es ini tak merasa perlu berbohong, atau mengata-ngatai penjual es buah di sebelahnya.

Dua paragraf di atas menjadi status paling panjang sekaligus paling skeptis sepanjang sejarah saya berpesbuk. (Sejarah, Cing!) Baca lebih lanjut

Iklan

Jika Ajal Sudah Ditentukan, Mangapa Harus Ada yang Disalahkan Atas Sebuah Kematian

Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat, meninggal dunia di tengah kepungan unjukrasa. Dia tampaknya beberapa kali menjadi sasaran pukulan, namun penyakit jantung yang dideritanyalah, yang sepertinya menjadi penyebab kematian.

Sepeninggalnya, orang-orang berdebat. Jenazah yang semestinya langsung menjalani kifayah itu, harus dibelah, otopsi namanya, untuk menentukan penyebab pasti kematiannya.

Namun di antara kerumunan orang yang melayatnya, terdengar suara berguman, “Namanya juga sudah ajal.” Baca lebih lanjut