Arsip Kategori: sahabat

Ranking 6 Itu Ngga Ada Apa-apanya!

Tulisan saya, Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?, yang berisi perenungan tentang kedurhakaan saya sebagai orang tua kepada Echa anak saya, mendapat tanggapan beragam, baik di blog ini, maupun di Facebook.

Ternyata saya tidak sendirian dalam kekeliruan itu. Hal itu tergambar dalam penuturan seorang pembaca, Sealead, pemilik Blog Cinta dan Patah Hati, dalam komennya untuk tulisan itu. Berikut saya muat utuh, mudah-mudahan bisa memperkaya refleksi kita, para orang tua atau yang pada gilirannya juga akan menjadi orang tua. Baca lebih lanjut

Sepertinya, Persahabatan Memang Lebih Bernilai daripada Cinta

Persahabatan itu juga sebuah bentuk cinta, hanya saja dilengkapi oleh pengertian. Friendship is love, with understanding. Anda tentu pernah dengar bahwa cinta itu buta. Oleh karenanya, cinta bisa menghilangkan objektivitas, menggiring kita untuk berlaku tidak adil, termasuk kepada diri sendiri.

Persahabatan juga mirip-mirip sebenarnya. Seorang sahabat sejati, akan membela kita, apapun ceritanya. Tetapi bukan karena persahabatan itu buta seperti cinta. Ia hanya memilih menutup mata. Artinya, pilihan sikap itu dibuat dengan kesadaran. Baca lebih lanjut

Sebuah Hati untuk Dibagi, Bukan Tempat untuk Sembunyi

Seberapa lama kau sanggup bertahan? Sepi itu memanggilmu pulang, seperti mimpi buruk yang berulang.

Juga, seberapa jauh kau bisa lari dari dirimu sendiri, meringkuk dalam benteng-benteng buta, perisai ketidakpedulian yang rapuh. Sepi, putus asa, sendiri; karena ketidakmampuan membuka hati untuk sebuah keterpautan. Kegagalan mengguratkan garis yang menyatukanmu dengan titik lain. Terkeping. Tersudut. Hening. Hanyut. Baca lebih lanjut

Surat Untuk Lae Sinurat, yang Bingung Aku Ini Islam, Kristen, atau… Apaan Tuh?

Lae Sinurat Yth…

Mauliate godang, terima kasih banyak Laeku, atas kunjungan dan komentarmu yang sangat berisi. Komen yang hanya berupa dua tiga karakter, atau bahkan sebutir emoticon pun sebenarnya sama berharganya, tapi yang sekelas komen Lae – tidak saja dalam pengertian kuantitas atau panjangnya, tapi juga kualitas alias muatan pesan yang dibawanya – tentu punya tempat tersendiri). Ehm.. *membetulkan posisi mikrofon* Lho, surat kok jadi pidato?

Apakah saya Islam atau Kristen?

Waduh, tajam dan beratnya ini pertanyaan. Secara administratif saya Islam, dan identitas itu “dipilihkan” orang tua saya. Saya tak cukup beruntung menemukannya sendiri. Tapi secara hakikat, entahlah. Saya belum bisa menyerahkan diri secara utuh kepada kehendak Allah SWT. Kehilangan duit dua puluh ribuan pun saya masih marah-marah. Konon lagi kehilangan-kehilangan lain yang lebih besar? Bisa-bisa saya menuduh, paling tidak dalam hati, bahwa Tuhan tidak adil. Busyet dah! Tapi emang begitulah. Baca lebih lanjut

Redefine Nesiaweekism: Tebar Pesona, Apa Salah? (Daripada Tebar Teror?)


Di negeri ini sekarang ada penyakit kronis. (Korupsi? Yang ini sih udah kebanyakan dibahas, padahal yang perlu itu diberantas). Buruk Sangka! Begitu parahnya, sampai berbuat baik pun orang sekarang takut. Ntar malah dikira tebar pesona, atau ada maunya.

Bila tengah malam di tempat agak sepi, mobil atau motor Anda mogok, lantas ada seseorang yang menawarkan bantuan, bukannya senang, Anda malah bisa-bisa makin ketakutan. Sebaliknya bila pada malam lain Anda melihat mobil atau motor orang lain mogok, Anda berpikir dua kali sebelum mendekat menawarkan bantuan. Ntar gw diteriakin rampok lagi. Cukup parah kan? Baca lebih lanjut