Arsip Kategori: pernikahan

Pada Awalnya Cinta, dan Persahabatan yang Membuatnya Bertahan

Seharusnya cinta tidak seperti banjir; sesaat meluap-luap menggenangi dan menenggelamkanmu dalam bahagia, tapi kemudian surut perlahan dan yang tersisa hanya lumpur kenangan.

Apalagi seperti kembang api; menyilaukanmu dalam gemerlap sekejap, dan kemudian menghilang lenyap dan kau terkatung dalam senyap.

Tantangan terbesar bagi cinta adalah waktu. Musuh terbesar bagi cinta bukanlah pengkhianatan, tetapi kebosanan. Baca lebih lanjut

Menikah, Menerima Takdir yang Indah…

Untuk istriku, ibu dari anak-anakku, takdirku yang indah…

Mencintai sepenuh hati itu tak sulit, bahkan kadang hati kita bukan lagi penuh, tetapi sampai meluap. Yang sulit adalah untuk tetap mencintai sepenuh hati karena waktu adalah tantangan terbesar bagi cinta.

Tubuh, sifat, persoalan hidup, pengetahuan, termasuk perasaan terdalam, semuanya (bisa)  berubah. Apakah bisa mencintainya dengan totalitas yang sama, baik ketika dia masih cantik dan mulus maupun saat sudah tua, mengerut, dan berbau? (Dikutip dari posting lama: Cinta, Kerumitan yang Sederhana).

Walau bukan fans Om Mario Teguh, cukup banyak kata-katanya yang tak bisa terhapus dari file ingatan, terutama yang ini; “Untuk membangun jodoh, sedari awal tuntutlah yang terbaik. Setelah menikah terima apa adanya!” Baca lebih lanjut

Berguru Agar Tak Buru-buru Cemburu

Katanya sih, ini pribahasa Arab. Whatever! Yg jelas, ini quote keren. “Susah menyembunyikan cinta, lebih susah lagi menyembunyikan kebencian. Dan yang paling susah menyembunyikan cemburu, karena itu adalah cinta dan kebencian sekaligus.” Baca lebih lanjut

Cinta: Sisi Lain

Tak pernah dan tak akan ada yang sedekat itu. Tak akan ada yang mencintaimu, dengan segala ketidaksempurnaanmu yang bahkan kau sendiri tak pernah tahu. Kau tak perlu berpura-pura, memaksa diri menjadi seseorang yang lain, yang kau tak pernah bisa.

Mencintainya, hari demi hari, adalah mencintai dirimu sendiri. Adalah mencintai kekonyolan, kelatahan, serpih-serpih terdalam di dirimu, yang selama ini kausekat rapat-rapat, kaupendam dalam-dalam.

Tak siapapun, tak juga dirimu sendiri, yang sanggup memahami segala hal tentangmu. Dan memang tak perlu, pun tak cukup waktu untuk itu. Yang penting, dalam setiap momen yang ada, ekspresikan segala yang kau rasakan, proyeksikan semua yang kau impikan. Biar menyeruak, seperti pusaran debu diterbangkan angin. Bukankah salju pun membiarkan dirinya meleleh di gerbang musim semi, tanpa pernah sempat memperkenalkan dirinya pada kuncup dan kelopak bunga. Baca lebih lanjut

Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia

“Ih, cowoknya tua banget gitu? Kok dia mau sih?” Atau,  “Sorry, Bro… Cewek lu yang sekarang kok jelek amat sih? Jangan tersinggung ya, tapi ngga level gitu ama elo…” Atau malah, “Gila kali ya gw mau sama dia. Udah jelek, tua, idup lagi! Mending jomblo seumur hidup deh.”

Begitu menjijikkannyakah manusia yang sudah tua, mereka yang jelek, apalagi orang yang tua dan jelek sekaligus? Mengapa menghindari yang tua, padahal kehidupan tak membawa kita semua, siapapun!, kecuali menuju penuaan dan akhirnya kematian? Seakan mereka yang merasa jijik itu, akan tetap muda selamanya…

Mengapa menyisihkan mereka yang (berwajah) jelek dari daftar orang yang layak dipertimbangkan, menjadi teman, kekasih, suami, atau istri? Sudah yakin dirimu cakep? Jangan-jangan cuma tante, mama kamu yang menganggapmu ganteng, atau si om, papa kamu, yang selalu memujimu cantik? Siapapa pula yang mengatai anaknya jelek, kecuali dia nggak yakin, itu beneran anaknya sendiri. Baca lebih lanjut