Arsip Kategori: marah-marah

Hakikat Kerakyatan, Lebih Cepat Melanjutkan Derita

Tiga pasangan itu sama-sama bagus. Maksudnya, bagus dalam berjanji, mencela, membusungkan dada atau membesarkan paha. Nasib kita di tangan kita, siapa pun yg terpilih tak kan memberi beda.

Dengan segala kehebohannya, mereka toh cuma sedang cari makan, sama seperti penjual es dawet ayu, yang berpeluh diterkam terik, merunduk dipukul debu. Bedanya, si penjual es ini tak merasa perlu berbohong, atau mengata-ngatai penjual es buah di sebelahnya.

Dua paragraf di atas menjadi status paling panjang sekaligus paling skeptis sepanjang sejarah saya berpesbuk. (Sejarah, Cing!) Baca lebih lanjut

Yuk, Tolak Valentine dan Semua yang Berbau Barat



Saya pernah menulis “Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian“, dan ada komen yang menarik dari pembaca dengan nick Anti Barat. Menurutnya, bukan hanya Hari Valentine, tetapi semua hal berbau barat juga harus ditolak.

Berikut ajakan dari beliau, ajakan yang memang tidak tanggung-tanggung!

Kepada sesama kawan ANTI BUDAYA BARAT, Valentine yang berasal dari budaya barat, memang harus kita tolak. Tidak peduli ada unsur positifnya atau tidak, saya rasa kita sebagai sesama anti budaya barat harus menolaknya Baca lebih lanjut

Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian!

valentine.jpg

Terus terang, bingung aku melihat penolakan – terutama yang berlebihan seperti yang dilakukan orang Pakistan dalam gambar – terhadap hari Valentine, hari kasih sayang, rahman warrahim, 14 Februari. Kebencian apa sesungguhnya yang bersarang di kepalanya, yang ditutup kopiah putih bersih itu?

Apa karena hari itu berasal dari kisah seorang pemuka agama Kristen Katolik, Valentine dan Santo Marius? So what? Kok tak kau bakari juga semua kalender internasional, yang malah lebih “parah” karena berasal dari momentum kelahiran Yesus Kristus? Trus kok mau kau libur hari Minggu, di mana orang Kristen pergi ke gereja, dan sebaliknya mau pula tetap kerja di hari Jum’at, padahal di situ kaum muslimin pergi shalat Jum’at ke masjid-masjid?

Kok tanggung-tanggung? Katanya harus kaffah, baik menjauhi larangan maupun melaksanakan perintah, nahi mungkar wa amar ma’ruf? (Jangan kau bilang aku terbalik-balik. Tanya ustadz kau, bahwa kita harus lebih dulu menjauhi yang buruk baru mendekati yang baik!) Baca lebih lanjut

Avatarku Gambar Yesus Kristus?

Ketika memutuskan untuk menggunakan gambar lukisan ini sebagai avatar, aku sudah menduga akan ada yang salah paham. Dan benar, beberapa bahkan mempertanyakannya lewat japri, on atau offline. Tapi bukan berarti biar disalahpahami maka gambar itu kuunggah (hwadoh, kata ini selalu berasa kayak alien samaku).

Itu lukisan (potret) Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib (حسين بن علي بن أﺑﻲ طالب) cucu Nabi Muhammad SAW. Mengapa dia? Karena aku mencintai dan merindukan wajah kakeknya. Lho? Begini, orang Denmark pun tau, memvisualiasikan wajah nabi, dalam bentuk apapun, dilarang dalam ajaran Islam. Nah, menurut banyak hadist, manusia yang paling mirip wajah dan perawakannya dengan Rasulullah adalah cucu kesayangannya ini.

selanjutnya…