Arsip Kategori: interkonektivitas

Cinta: Sisi Lain

Tak pernah dan tak akan ada yang sedekat itu. Tak akan ada yang mencintaimu, dengan segala ketidaksempurnaanmu yang bahkan kau sendiri tak pernah tahu. Kau tak perlu berpura-pura, memaksa diri menjadi seseorang yang lain, yang kau tak pernah bisa.

Mencintainya, hari demi hari, adalah mencintai dirimu sendiri. Adalah mencintai kekonyolan, kelatahan, serpih-serpih terdalam di dirimu, yang selama ini kausekat rapat-rapat, kaupendam dalam-dalam.

Tak siapapun, tak juga dirimu sendiri, yang sanggup memahami segala hal tentangmu. Dan memang tak perlu, pun tak cukup waktu untuk itu. Yang penting, dalam setiap momen yang ada, ekspresikan segala yang kau rasakan, proyeksikan semua yang kau impikan. Biar menyeruak, seperti pusaran debu diterbangkan angin. Bukankah salju pun membiarkan dirinya meleleh di gerbang musim semi, tanpa pernah sempat memperkenalkan dirinya pada kuncup dan kelopak bunga. Baca lebih lanjut

Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria

Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.

Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. Baca lebih lanjut

Derita yang Menyembuhkan

Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.

Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.

Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu. Baca lebih lanjut

Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh

Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!

Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.

Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya. Baca lebih lanjut

Jauh Melanglang Buana, Agar Tahu di Mana Rumah Berada

Duduk, menunggu detik tiba di sini, mendengar angin menyelinap melalui bebukit yang mengabur bayang di pucuk malam. Pikiran menjelajah, mencari tahu di mana titik awal berada. Angin ini mestilah datang dari tempat yang lebih jauh dari Samudera Pasifik.

Kita tak akan pernah bisa menelusur gerak pertama angin, arus pertama air, perubahan pertama tekanan udara yang membawa angin sampai ke sekeliling kita.

Semua hal dalam kehidupan, apakah cuaca di lelangit atau emosi di dalam jiwa, adalah bagian dari sebuah proses, yang mengalir dan berkait-kaitan timpa-menimpa, begitu rumpil rumit, sehingga tak mungkin mengenali dan menguraikannya menjadi lapisan-lapisan tunggal yang mudah dimengerti. Baca lebih lanjut