Arsip Kategori: fundamentalisme

Bukan Hanya Tentang Nanti di Sana, Tetapi Juga Bagaimana Kini, di Sini

Walaupun jelek, bahkan di mata saya sendiri yang menulisnya, artikel Plus Minus Konsep Tuhan “berhasil” menuai beberapa komentar yang menarik. Baca lebih lanjut

Iklan

Kutipan Wawancara dengan Hamzah Haz

Hanya wawancara biasa, dengan mantan pejabat pula.

Tapi mungkin ada gunanya.

Mantan Wakil Presiden RI dan Ketua Umum PPP ini berbicara tentang merosotnya pamor partai Islam, dinamika politik dan demokrasi Indonesia, serta nikmatnya kehidupan setelah tak lagi menjadi “orang penting” di negeri ini.

Sebelumnya, saya hanya dijadwalkan punya waktu selama 30 menit. Namun perbincangan kemudian menjadi sangat akrab, dan akhirnya molor sampai hampir 2 jam, dan baru berhenti setelah azan Ashar berkumandang di dalam rumah, tempat berlangsungnya wawancara.

Ya, di dalam rumah, karena kediamannya di Jalan Kebon Pedes, Bogor itu, memang telah diubah menjadi masjid, dan hanya menyisakan sebuah kamar tamu, kamar tidur, dan teras yang tak terlalu luas, untuk kepentingan pribadinya. Baca lebih lanjut

Sms dan Ungkapan Cinta yang Meluluhkan Hati (5)

Setelah sekian lama mengendap di kotak draft, sequel kelima dari serial laris ini dirilis juga. 😉 Hitung-hitung, menghibur para caleg yang gagal ke gedung dewan.

(47) Andai sebuah bintang akan jatuh setiap kali aku mengingatmu, bulan pasti protes. Soalnya dia bakal sendirian di angkasa.

(48) Kamu selalu punya cara buat aku ketawa, saat aku bahkan lagi ngga pengen tersenyum. Gila kamu ya!

(49) Kamu membuatku sekarang ngerti, hal paling sakit itu bukan sendiri, tp dilupakan seseorang yang ngga bisa aku lupakan. Baca lebih lanjut

Belajarlah Untuk (Menghormati Mereka yang) Percaya…

Bila seseorang menderita waham, gejala itu akan disebut gila. Bila banyak orang menderita waham, gejala itu akan disebut agama.

Sejak awal, blog ini sudah sering menjadi medan perang debat agama. Jika belum keterlaluan, saya biarkan. Kalau sudah terlalu kasar, terpaksa dihapus. Tidak saja bila yang menjadi sasaran serangan itu agama yang saya anut, tetapi agama manapun, keyakinan macam apapun.

Belakangan ada kecenderungan menarik. Beberapa komentar “menyerang” agama secara keseluruhan. Ada komentar yang sekadar menolak agama, tetapi masih mengakui Tuhan dan spiritualitas, sampai yang (kelihatannya) benar-benar atheis tulen. Baca lebih lanjut

Yuk, Tolak Valentine dan Semua yang Berbau Barat



Saya pernah menulis “Menolak Valentine? Ah, Sok Paten Kali pun Kalian“, dan ada komen yang menarik dari pembaca dengan nick Anti Barat. Menurutnya, bukan hanya Hari Valentine, tetapi semua hal berbau barat juga harus ditolak.

Berikut ajakan dari beliau, ajakan yang memang tidak tanggung-tanggung!

Kepada sesama kawan ANTI BUDAYA BARAT, Valentine yang berasal dari budaya barat, memang harus kita tolak. Tidak peduli ada unsur positifnya atau tidak, saya rasa kita sebagai sesama anti budaya barat harus menolaknya Baca lebih lanjut

Pencerahan? Ah, Sebentar Lagi Juga Bakal Redup Lagi

Sepertinya Anda yakin telah memahaminya. Tahu benar tentang itu, paham betul tentang ini. Tapi kemudian Anda mendengar, atau membaca sebuah sudut pandang lain, sebuah cara memahami yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan, dan tiba-tiba keyakinan sebelumnya menguap seperti kabut yang diterjang panas siang hari.

Dan kemudian Anda sadar, usaha memahami itu tak pernah berhenti, dan kebenaran itu bukan sebongkah batu; diam membeku.

Seperti sebuah negatif film, ada sisi lain yang kadang benar-benar berbeda. Cerah atau redup, hangat atau dingin, siapa yang tahu bagaimana Anda akan merasa esok hari. Baca lebih lanjut

Tuhan Bagai Cewek Seksi yang Diperebutkan Pemuda Mabuk

Kemarahan dan peperangan karena agama dan Tuhan, bisa digambarkan seperti perkelahian segerombol lelaki mabuk, memperebutkan seorang gadis.

Salah satu atau bahkan semua pemabuk itu bisa cedera atau mati, padahal tak satu pun dari mereka yang sebenarnya punya perhatian apalagi cinta kepada gadis itu. Mereka saling bunuh karena harga dirinya sendiri, yang sebenarnya tak punya harga!

Di bataknews saya pernah posting cerita ini. Baca lebih lanjut