Arsip Kategori: energi

Jauh Melanglang Buana, Agar Tahu di Mana Rumah Berada

Duduk, menunggu detik tiba di sini, mendengar angin menyelinap melalui bebukit yang mengabur bayang di pucuk malam. Pikiran menjelajah, mencari tahu di mana titik awal berada. Angin ini mestilah datang dari tempat yang lebih jauh dari Samudera Pasifik.

Kita tak akan pernah bisa menelusur gerak pertama angin, arus pertama air, perubahan pertama tekanan udara yang membawa angin sampai ke sekeliling kita.

Semua hal dalam kehidupan, apakah cuaca di lelangit atau emosi di dalam jiwa, adalah bagian dari sebuah proses, yang mengalir dan berkait-kaitan timpa-menimpa, begitu rumpil rumit, sehingga tak mungkin mengenali dan menguraikannya menjadi lapisan-lapisan tunggal yang mudah dimengerti. Baca lebih lanjut

Kematian Itu Bukan Lawan, tapi Unsur Kehidupan

smarthistory.org

sumber: smarthistory.org

Memposisikan kematian sebagai lawan dari kehidupan, seperti hitam dengan putih, atau kosong dengan penuh, adalah sebuah kesalahan mentalitas, kekeliruan pada inti pemahaman, walaupun sepertinya benar pada tataran permukaan.

Ini sama kelirunya dengan menyamakan derazat kecantikan dengan tingkat kecerahan warna kulit, atau menilai kesucian air dari tingkat kejernihannya. Hehehe, belum tau ya, banyak cairan paling mematikan itu justru beniiing banget. Atau apa penglihatannya ga begitu bagus ya, untuk bisa menenemukan kenyataan, bahwa kulit legam pun punya keindahannya sendiri?

Baca lebih lanjut

Seperti Ngeblog, Musuh #1 Cinta Bukan Pengkhianatan, tapi Kebosanan

Kata Sir Cecil Beaton: “Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!” Kebosananlah, bukan yang lain, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya.

Bahkan waktu, sesuatu yang begitu presisi dan konsisten, bisa melambat bila sudah dijalari kebosanan. Jarum jam jadi lebih malas berputar, dan detaknya yang begitu lirih, bisa memekakkan telinga.

Baca lebih lanjut

Energi Menipis, Kembalilah Jadi Manusia!

Kemajuan teknologi katanya, tapi nyatanya kita dibuat menjadi makhluk tanpa tenaga, yang tak bisa apa-apa kecuali merusak dan mengeluh, selalu kelelahan padahal tak pernah berpeluh.

Kita sudah menjadi budak sebuah agama bernama “Ekonomi”, yang salah satu ayat sucinya berbunyi: Pertumbuhan berbanding lurus dengan keuntungan. Maka demi pertumbuhan, semua dibabat, semua justru dibuat tak bisa lagi tumbuh. Akhirnya, yang kemudian kita tunggu dan menunggu kita adalah bencana.

Entah menyadari hal itu, atau sekadar latah ikut tren, di mana-mana kini orang demam energi alternatif, selain tentu saja pengobatan alternatif kepada orang pintar. (Disebut orang pintar karena bisa membodoh-bodohi orang terpelajar tapi otaknya dodol!)

Baca lebih lanjut