Arsip Kategori: dewa

Hayo… Agama Kamu Sebenernya Apa Sih?

Kemiskinan mendekatkan orang pada kekafiran, kata Nabi.

Yep! Pasti rada susah dong tunduk, patuh, konon lagi cinta kepada Tuhan, sementara setiap ruas waktu berisi genangan derita. Bagaimana mungkin kita mencintai pemberi derita, (kecuali cinta buta ya…)

Agama dengan sendirinya juga menjadi tak menarik buat orang miskin, karena tak pernah hadir di sisi mereka, mendampingi ketika mereka berkelahi dengan waktu. Hanya ritual ini itu, plus janji-janji tentang sesuatu yang indah di seberang sana, sementara di sebelah sini napas makin berat untuk dihela. Baca lebih lanjut

Muslim, Kristen, dll, Sadarlah, Musuh Kalian Adalah Logika!

Sebenernya, rada males juga nulis topik ginian. Niatnya, menghembuskan napas perdamaian, eh, hasilnya tetep aja semburan kemarahan, percik kebencian, dan akhirnya, bara api permusuhan.

Mengapa perdebatan agama selalu saja terasa seru? Karena semua agama, sekali lagi semua agama, memang punya celah untuk diserang. Kisah di kitab suci misalnya, khususnya yang sudah saya baca; Al-Qur’an dan Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ada yang¬†tak logis.

Menangkis serangan terhadap ketidaklogisan itu, kata yang paling ampuh tentu saja seperti¬†“Kalau Tuhan sudah berkehendak, apa yang tak bisa?” atau “Agama kok dikaji dengan akal, dengan hati dong kalau tidak mau sesat!”

Lha, kalau sudah bicara model begituan, yang memang ngga usah berdebat: end of discussion dong! Baca lebih lanjut

Cara ‘Mudah’ Menjadi Dewa…

Inilah alasan kita bernapas, inilah tujuan kita melangkah, inilah yang dulu, sekarang, dan akan selalu kita cari. Di belakang topeng kemegahan dan ekspresi kemenangan yang selalu kita pertontonkan ke mata dunia, masing-masing kita sungguh makhluk yang sangat kesepian, begitu ingin dimengerti sepenuhnya, sangat berharap disentuh, haus sekali akan penghargaan.

All you need is love; terdengar klise sekali ya? Tetapi kadang sesuatu terdengar klise, karena dia memang kebenaran. Semua bentuk hubungan kemanusiaan, sesungguhnya bisa direduksi kepada kebutuhan paling asasi kita: being loved, ingin dicintai. Bahkan tindakan-tindakan paling mengerikan sekali pun. Bahkan bentuk-bentuk terburuk dari tindakan manusia yang kadang membuat kita geleng-geleng kepala dan mengelus dada.

Selanjutnya…