Arsip Kategori: dedikasi

Berguru Agar Tak Buru-buru Cemburu

Katanya sih, ini pribahasa Arab. Whatever! Yg jelas, ini quote keren. “Susah menyembunyikan cinta, lebih susah lagi menyembunyikan kebencian. Dan yang paling susah menyembunyikan cemburu, karena itu adalah cinta dan kebencian sekaligus.” Baca lebih lanjut

Iklan

Hidup Hanya Menunda Kekalahan

Untuk Ibunda tercinta, dan semua saudaraku yang tengah dicabik bencana

Di depan pintu ruang ICU itu, saya benar-benar dihadapkan pada kenyataan, betapa ringkihnya nyawa, betapa rapuh kehidupan. Betapa hidup memang hanya menunda kekalahan.

Di dalam, ibu saya, wanita agung yang melahirkan dan membesarkanku dengan segala cinta, berbaring tanpa kesadaran. Matanya membuka, tapi ia sudah tak melihat apa-apa, termasuk tetes air mata anaknya.

Bermacam selang dan kabel terhubung ke tubuhnya. Monitor jantung terus berbunyi, nadanya datar, seperti menghitung langkah maut, yang menjadi semakin akrab.

Diabetes telah melumpuhkan ginjalnya. “Kita upayakan tidak harus cuci darah. Kita kasih insulin dosis tinggi, perlahan-lahan gulanya kita turunkan. Mohon Anda terus berdo’a,” kata dokter spesialis yang menanganinya. Itu pada hari kedua di ruang ICU. Baca lebih lanjut

Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria

Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.

Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing. Baca lebih lanjut

Ranking 6 Itu Ngga Ada Apa-apanya!

Tulisan saya, Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?, yang berisi perenungan tentang kedurhakaan saya sebagai orang tua kepada Echa anak saya, mendapat tanggapan beragam, baik di blog ini, maupun di Facebook.

Ternyata saya tidak sendirian dalam kekeliruan itu. Hal itu tergambar dalam penuturan seorang pembaca, Sealead, pemilik Blog Cinta dan Patah Hati, dalam komennya untuk tulisan itu. Berikut saya muat utuh, mudah-mudahan bisa memperkaya refleksi kita, para orang tua atau yang pada gilirannya juga akan menjadi orang tua. Baca lebih lanjut

Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?

Prestasi anak pasti membuat orang tua bangga. Tapi bukankah itu sama naifnya dengan anak yang membangga-banggakan orang tuanya, padahal dia sendiri sesungguhnya bukanlah siapa-siapa? Sekadar berbagi kerisauan hati…

“Riqueza Raihan Nainggolan!” kata pembawa acara, lantang, disambut gemuruh tepukan ratusan murid SD Wahidin Medan, dan para orang tua murid  yang menyaksikan pembagian rapor dan pengumuman peringkat di sekolah itu.

Echa, bidadari kecilku itu, dituntun wali kelasnya yang tampak sumringah, melangkah ke depan. Dia peringkat 2 paralel di seluruh kelas 1, dari 1-A sampai 1-M. Tak bisa kucegah hatiku dari membuncah oleh rasa bangga yang meluap melimpah ruah. Tak sadar aku bertepuk tangan, lebih keras, lebih bersemangat, lebih satu menit!, lebih lama dari siapapun yang ada di situ.

Para orang tua dan guru-guru di dekatku segera tahu, aku ayah anak yang dipanggil ke depan itu. Rasa bangga itu makin menjadi-jadi. Ingin rasanya menegaskan kepada mereka yang sedang melihat ke arahku, “Ya, aku ayah anak itu, aku ayahnya!Baca lebih lanjut

Derita yang Menyembuhkan

Ketika hati retak menganga, air mata jatuh menelaga, pikiran justru menemukan sebuah celah cahaya. Dengan caranya sendiri, aku justru merasa perih adalah rute yang harus dilewati untuk tetap tumbuh dan berkembang, untuk sembuh dan tetap terbang.

Membendung emosi justru bahaya terbesar. Kadang orang lari menghindari perih: menenggak alkohol, obat, melukai orang lain, dsb. Padahal jauh lebih aman dengan membiarkan diri terbuka kepada apa yang disebut sebagai derita.

Pelarian perih itu akan mendatangkan candu, apakah sekadar main PS atau main dengan PSK. Tapi mungkin sudah menjadi naluri alamiah kita untuk menghindarinya, dan oleh karenanya setiap orang pasti mencandu terhadap sesuatu. Baca lebih lanjut

Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh

Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!

Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.

Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya. Baca lebih lanjut