Arsip Kategori: blogging

Ah, Rasul yang Satu Ini Memang Keren!

Dia selalu menjawab, kapanpun kau bertanya. Tapi dia hanya akan bicara jika kau minta. Pengetahuannya, sepertinya seluas langit dan bumi, dan segala yang ada di antaranya. Tidak seperti rumah ibadah, yang kadang terkunci dan hanya bisa didatangi pada jam tertentu, dia bagai rumah bagi siapapun, kapanpun.

Dia juga tidak seperti ulama, pendeta, pastur, guru, atau tokoh spiritual lainnya, yang harus menyesuaikan jadwalnya sebelum bisa menerimamu berbincang, konsultasi, atau memberi fatwa dan ceramah.

Dia di seberang ruang dan waktu, atau dalam bahasa Batak, eh, Inggrisnya, beyond the time and spaces. Kau bisa mendatanginya kapan saja, dalam keadaan bagaimana pun. Ia tidak menjadi cemberut atau ogah-ogahan ketika kau menyapanya dengan pakaian kumal dan gigi belum disikat, atau justru mendadak bergairah karena kau kenakan suit lengkap keluaran Armani, bertabur parfum produksi Kenzo. Baca lebih lanjut

Iklan

But I Feel, I’m Growing Older…

Everything about blogging is so nice for me, but one: it makes me feel that I’m growing older. Indeed, blogospehere, as all web based communities, is a young world and the world of the young. Elders are visitors here.

But not that fact makes me feel the sorrow of the aging that soon. It’s how the young bloggers get their blogs maintained, the way they develop a house of big ideas, showing high or highest level understanding of the misteries of life.

They seems so familiar with the biggest questions and farest searching of humankind, make the spiritual and philosophy area as a gamezone. It’s not only fresh, but contain something too. The serious and heavyweight discourses, in their hand, becoming a nice and easy conversations. Baca lebih lanjut

Seperti Ngeblog, Musuh #1 Cinta Bukan Pengkhianatan, tapi Kebosanan

Kata Sir Cecil Beaton: “Barangkali kejahatan terbesar kedua di dunia adalah kebosanan, dan yang nomor satu: menjadi orang yang membosankan!” Kebosananlah, bukan yang lain, yang menjadi virus penghancur hampir seluruh bentuk hubungan antarmanusia, membuat mimpi padam sebelum waktunya, memaksa orang mati sebelum ajalnya.

Bahkan waktu, sesuatu yang begitu presisi dan konsisten, bisa melambat bila sudah dijalari kebosanan. Jarum jam jadi lebih malas berputar, dan detaknya yang begitu lirih, bisa memekakkan telinga.

Baca lebih lanjut

After an end, comes another beginning

Never say never again. Sebisa mungkin hindari bersumpah, karena kau mungkin akan terpaksa melanggarnya. Jangan pernah meludah di depan orang ramai, sebab bisa saja kau tak punya pilihan lain, kecuali menjilatnya kembali, juga di depan orang ramai.

Butuh kekuatan untuk mempertahankan pilihan, tapi juga perlu lebih banyak keberanian – persisnya berani malu – untuk mengakui kau telah mengambil pilihan yang salah, dan menebusnya. Lagian, kalau emang bener cintamu lebih besar dari (ke) malu (an)-mu, kau mestinya cuma perlu malu untuk menunjukkan kemaluanmu, bukannya cintamu.

Pun, bila kita mendasarkan hidup pada apa yang dipikirkan orang lain, deuh, betapa tersianya hidup, dalam pendeknya ruas waktu.

Singkat cerita 😉 ngeblog itu ternyata benar-benar enak, dan itu (makin) kusadari justru ketika aku berjuang menjauhinya, dan gagal. Sakaw-nya berat, lebih berat dari sakaw-sakaw lain yang pernah kurasakan.

O, Blogosphere, aku berlutut menginjak janji dan harga diri, berilah aku hidup kembali, seribu tahun lagi…

Redefine Nesiaweekism: Tebar Pesona, Apa Salah? (Daripada Tebar Teror?)


Di negeri ini sekarang ada penyakit kronis. (Korupsi? Yang ini sih udah kebanyakan dibahas, padahal yang perlu itu diberantas). Buruk Sangka! Begitu parahnya, sampai berbuat baik pun orang sekarang takut. Ntar malah dikira tebar pesona, atau ada maunya.

Bila tengah malam di tempat agak sepi, mobil atau motor Anda mogok, lantas ada seseorang yang menawarkan bantuan, bukannya senang, Anda malah bisa-bisa makin ketakutan. Sebaliknya bila pada malam lain Anda melihat mobil atau motor orang lain mogok, Anda berpikir dua kali sebelum mendekat menawarkan bantuan. Ntar gw diteriakin rampok lagi. Cukup parah kan? Baca lebih lanjut

Toleran, Apakah Juga Kepada yang tidak Toleran?

Bisa terdengar seperti jiwa yang tua, tapi kadang tampak terlalu muda bahkan untuk sekadar jatuh cinta. Menulis adalah menyingkap yang tersembunyi, menggurat jejak diri, merekam sejarah rasa, seabadi prasasti.

Bohong jika kubilang aku tak peduli ada yang membaca atau tidak, karena seperti setiap gelombang suara berkehendak sampai ke gendang telinga, betapa pun samar getaran yang dibuatnya, begitu juga setiap huruf, titik, dan koma, tentu ada untuk dibaca, apakah mengendap di hati atau sekadar singgah di mata, itu lain perkara.

Baca lebih lanjut