Arsip Kategori: bencana

Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati

Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?

BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji. 😉 Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.

Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang. Baca lebih lanjut

Iklan

Siapa Bilang Cinta Tak Bisa Dibeli?

Usianya sekitar 22 tahun. Mungil, rambut lurus legam, kulit halus walaupun tak begitu putih. Tak tamat SMP, keburu hamil sama pacarnya yang tak mau bertanggung jawab. Tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3 x 4 m bertarif Rp 500 ribu per bulan. Dia pelacur, sejak tahun 2004 silam, saat baru berusia sekitar 18 tahun.

“Waktu baru-baru terjun dulu, aku ingat itu pas kejadian tsunami di Aceh. Sempat takut juga, seperti ada hubungannya gitu kan. Seperti diingatkan gitu, kalau Tuhan marah itu ngeri,” katanya, cekikikan. Nyatanya, ketakutannya tak sebesar tekadnya. Buktinya lanjut sampai sekarang.

Di kota ini, dia menjelma menjadi mesin pencari uang. Selain untuk membayar uang kos, keperluan perawatan wajah dan tubuh, dia juga harus memikirkan kiriman uang buat ibunya, yang kini menjadi single parent bagi dua adiknya, dan anaknya sendiri di kampung. Dan satu lagi, membiayai seorang bronces yang tinggal bersamanya di kamar kos itu. Baca lebih lanjut

Jika Ajal Sudah Ditentukan, Mangapa Harus Ada yang Disalahkan Atas Sebuah Kematian

Ketua DPRD Sumut, Abdul Aziz Angkat, meninggal dunia di tengah kepungan unjukrasa. Dia tampaknya beberapa kali menjadi sasaran pukulan, namun penyakit jantung yang dideritanyalah, yang sepertinya menjadi penyebab kematian.

Sepeninggalnya, orang-orang berdebat. Jenazah yang semestinya langsung menjalani kifayah itu, harus dibelah, otopsi namanya, untuk menentukan penyebab pasti kematiannya.

Namun di antara kerumunan orang yang melayatnya, terdengar suara berguman, “Namanya juga sudah ajal.” Baca lebih lanjut

Bagaimana Mungkin Tuhan yang Mahacinta Mengirim Seseorang ke Neraka?

Ini pertanyaan udah jadul banget! Tantangan iman yang sangat klasik kepada semua agama, terutama yang berklasifikasi langit! (Keren nian sebutan itu, seolah agama lain agama kelas dua, made in earth).

Mau ke neraka? Pastikan Anda tidak nyasar ke mana-mana. No place like hell. source: consumptionaddict.wordpress.com

Sebenarnya, ada jawaban yang sangat tangkas, efektif, dan telak: Tuhan tidak mengirim siapapun ke neraka. Manusialah yang mengirim dirinya sendiri ke sana. Tuhan justru sudah all out, abis-abisan mencegah manusia dari mengirim dirinya sendiri ke tempat api dan derita abadi itu.

Dalam perspektif Islam misalnya, Dia harus “berepot-repot” menurunkan 25 utusan, menerbitkan 4 kitab! Dalam perspektif Kristen bahkan lebih dahsyat lagi. Dia rela mengorbankan anak tunggalnya. Buat apa? Semata-mata mencegah manusia dari tindakan bodoh mengirim dirinya sendiri ke neraka itu. Keren kan?

But… our problem then… Daripada sebegitu “repot” dan “tragisnya” mencegah kita migrasi ke neraka, lha kok ga nerakanya aja yang di-delete? Ctrl A neraka, trus delete. Beres kan? Ga ada masalah dong, buat yang Mahakuasa, yang Mahaberkehendak? Baca lebih lanjut

Bencana Adalah Cermin

Mungkin negeri ini demikian “indahnya” sehingga bencana pun gemar betul singgah ke mari. Ibarat nemu tempat liburan yang asyik, kita bakal janji untuk datang dan datang lagi di kali lain.

Nyawa pun menjadi hanya sederet angka. 10, 100, 1.000, 10.000… busyet dah!

Atau memang kita yang selama ini memberi harga yang terlalu tinggi buat sebuah nyawa? Nilai yang terlalu besar buat sebuah kehidupan? Padahal semua itu emang ngga ada apa-apanya…

Baca lebih lanjut