Ayah

Badan anak itu tiba-tiba saja panas. Kedua orang tuanya panik, tapi tak bisa berbuat banyak. Gubuk mereka, berlantai batang nibung, berdinding kulit kayu, beratap daun rumbia, berada di sebuah tempat yang lebih tepat disebut hutan daripada perkampungan.

Tak ada apa-apa di gubuk itu, juga di sekelilingnya, untuk mengobati dan menurunkan panas si anak. Tak ada apa-apa, selain do’a dan air mata. Dan memang, do’a tak cukup kuat menurunkan demam, air mata tak bisa menunda ajal. Anak itu berpulang, dua hari kemudian.

Tanah pemakaman masih basah, ketika adiknya mulai terserang gejala yang sama. Tak sampai seminggu, dia menyusul. Mungkin iri, melihat abangnya kini bermain-main di surga, bersama bidadari. Kemudian adiknya yang satu lagi, kemudian adiknya yang satu lagi.

Kehilangan keempat anaknya dalam hitungan bulan, membuat wanita itu terpukul berat, meratap siang dan malam. Segala cara yang dilakukan suaminya untuk mencoba menguatkan hatinya, tak lagi berguna.

Puncaknya, di suatu malam tubuhnya tiba-tiba lunglai, tak bisa digerakkan sama sekali. Dia terserang stroke karena tekanan psikologis yang luar biasa. Tentu saja saat itu, di awal tahun 1950-an, penyakit itu belum punya nama.

Mulai saat itu, sampai enam tahun berikutnya, dia sepenuhnya tergantung pada suaminya untuk melanjutkan hidup. Sebelum pergi berladang atau membuka hutan untuk berkebun, sang suami akan terlebih dahulu memandikan wanita itu, menjaga dan membersihkan badannya setelah buang hajat, menyisir rambutnya yang tetap dibiarkan tergerai panjang, mengenakan pakaian, menyiapkan sarapan.

Ketika matahari berada tepat di atas kepala, dia akan pulang dari ladang, kembali menyuapi istrinya, atau mengganti pakaiannya jika terkena air seni yang keluar tanpa bisa dicegah.

Tahun berganti. Tempat mereka berladang mulai “ramai”, sudah ada empat lima gubuk lain di dekat mereka. Kini, lelaki itu makin sering mendapat bantuan dari tetangga untuk mengurus istrinya, sehingga bisa lebih konsentrasi mengurusi “bisnisnya” di kantor; berladang dan membuka hutan.

Yang paling sering membantu adalah seorang anak gadis yang sedang beranjak remaja. Wanita yang lumpuh tadi menjadi semakin akrab dengannya, bercerita dan “ngerumpi” ini-itu.

*****

Tanpa adanya listrik, malam tiba lebih cepat di kampung itu. Lelaki itu sudah selesai mandi di sungai, tak jauh di belakang gubuk mereka. Istrinya sudah lebih dulu “dirapikan” anak gadis tetangga tadi. Ia kini tinggal menyuapinya.

“Kau menikah lagilah… Tapi harus dengan anak gadis itu, kalau dengan yang lain aku tak setuju. Masa’ kau mau tak punya keturunan, menghabiskan waktu seumur hidup mengurusi aku?”

“Ah, itu-itu ajapun kita bahas. Tak apa-apa itu. Hidup ini sudah tersurat, kita tinggal menjalani saja.”

Hampir setahun dialog seperti itu terjadi. Sampai di malam itu, ketika istrinya terisak lebih lama. “Berarti kau tak sayang sama aku. Kalau nanti anak itu menikah dengan orang lain, dan harus pergi dari kampung ini, tak akan ada lagi yang bisa mengurus aku sebaik itu.”

Dan lelaki itu akhirnya menyerah. Dia menikah dengan anak gadis itu, demi istrinya sendiri.

*****

Hidup memang penuh misteri. Tak lama setelah dimadu, fisik wanita itu menunjukkan kemajuan luar biasa, yang tak pernah terlihat sebelumnya. Padahal tak ada pengobatan apapun. Tak sampai setahun kemudian, ia sudah pulih seperti sedia kala, melahirkan anak, dan melahirkan lagi, sampai lima orang!

Eh, malah si istri kedua yang seperti mengulang kisah suram “kakaknya” itu, harus kehilangan tiga anaknya dalam hitungan bulan. Lagi-lagi kemiskinan tak memberi jalan untuk menolong mereka bertahan.

Dia meratap, juga “kakaknya” yang seperti diserbu kenangan buruk di masa lalu. Dengan segala kasih sayang, dia berusaha menghibur, cemas kalau “adiknya” itu juga terserang lumpuh seperti dirinya.

Untunglah, setelah kehilangan itu dia tidak tumbang. Dia bahkan kembali mengandung benih kehidupan, melahirkan dan membesarkan anak tunggalnya, yang kemudian menulis artikel ini dengan segala rasa haru.

———————————————-

Ditulis pertama kali untuk Ngerumpi, dengan judul Sebuah Saat untuk Mendua

11 thoughts on “Ayah

  1. Siu Elha

    hmmhh… Lae tak heran, baru kutahu jawabannya sekarang, ternyata engkau memang terlahir dikelilingi para begawan cinta, maka cintapun yang engkau tebar… salam hormat dan takzimku buat para begawan-begawan itu, kalaupun mereka telah di alam sana, saya yakin mereka tengah tersenyum untukmu Lae…

    Balas
  2. Toga Nainggolan Penulis Tulisan

    @Siu Elha.
    Aduh, makasi bgt tlh mganggap mereka begawan cinta.🙂 Hampir setiap anak menganggap ayah/ibu mereka adlh yg terbaik di dunia–mba jg kan?–dan bg saya, cerita di atas adalah secuil alasan utk beranggapan bgtu.
    Tp dikelilingi ‘begawan’ tak serta merta menjadikan org bisa 1/16 begawan. Wakakaka… Klu dlm ranah politik, ada istilah anak biologis dan anak ideologis. Tp setidaknya, ada tempat sy bercermin… Sekali lg, makasih banyak komen_a ya mbak. Sampe bela2in reply dari hape nih…

    Balas
  3. Rudy

    Horas appara salam kenal ya. naingolan sama dengan do hita. namalo do appara mambahen cerita i gabe hiburan. Salam ate. Horas semoga sucses dalam perjuangan.

    Balas
  4. abe

    ah….indah..indah sekali untuk memotivasi orang lain…untuk menryukuri nikkmat, untuk memberi inspirasi orang lain…sungguh, hanya porang orang pilihan yang mampu menjalankanya…

    Balas
  5. Ping balik: Tweets that mention Ayah « Nesiaweek Interemotional Edition -- Topsy.com

  6. EDWIN LRADJA

    horas…aku cukup terpegun dengan penulisan mu bro….well done and all the best! cuma pingin tahu…keturunan nainggolan sebelah mana ya? almaklum…aku lahir dan dibesarkan di Malaysia…yang ku tahu mama ku boru nainggolan hutabalian…mana tahu ada kaitan keluarga yg dekat…atau sekadar keluarga batak aja la..hehe…i”ll be following your blog then…anyway God Bless…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s