Perbincangan dengan Seorang Teman yang Sangat Benci Syiah

husain

Masjid Al Husain di kota suci Syiah, Karbala. Foto: AFP

Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan seorang teman yang sangat membenci Syiah. Dia rajin memposting status, membagikan meme dan berbagai konten tentang kesesatan Syiah, di akun media sosial miliknya.  Yang semacam itulah; bahwa golongan ini tidak termasuk Islam, dilaknat Allah, hasil konspirasi Yahudi, dan seterusnya.

Karena saya berusaha yakin bahwa niatnya sesungguhnya baik, saya sampaikan pujian tentang semangatnya menjaga kemurnian akidah.

“Tapi omong-omong, kau tahu bahwa di antara aliran-aliran besar, hanya Syiah dan kita yang bermazhab Syafi’i yang mengeraskan bacaan basmalah dalam salat Subuh, Magrib, dan Isya?”

“Oh, ya?” katanya seperti kaget.

“Bahwa kedua aliran ini juga sama-sama membacakan doa qunut dalam salat Subuh, tahu?”

“Baru tahu aku…” katanya lagi, kemudian melanjutkan, “Tapi kan ‘cuma’ perkara sunat itu. Bukan soal besar. Persoalan besarnya tentang akidah. Mereka punya syahadat Ali. Rusaknya di situ…” katanya.

“Iya, sih. Mereka bahkan membacakan syahadat itu dalam azan, makanya azan mereka jadi lebih panjang. Kau tahu lafal syahadat Ali?”

“Buat apa tahu? Membacanya akan membuat kita jadi kafir!”

“Lho, lafalnya saja kau tak tahu, bagaimana bisa kau simpulkan ia akan membuat kita kafir?”

“Emang lafalnya gimana, sih?”

Asyhadu anna ‘Aliyan waliyullah…”

“Nah, itu! Mengakui ada nabi setelah Rasulullah SAW, otomatis membuat seseorang kafir!” katanya dengan nada kemenangan.

“Tapi artinya bukan itu, sih… ‘Aku bersaksi bahwa Ali itu wali Allah’. Jangankan Ali, para penyebar Islam di Jawa dan di kota Barus pun kita akui sebagai wali-wali atau aulia Allah…”

“Jadi, maksudmu Syiah itu bukan kafir, menurutmu mereka masih Islam? Hati-hati kau, Coy…”

“Aku tak merasa berhak menilai apakah seseorang sudah kafir. Islam-ku saja belum bisa kujamin, kok. Jika kau mengingatkanku berhati-hati dalam menganggap orang masih Islam, aku rasa kita perlu lebih hati-hati lagi dalam memvonis orang sudah keluar Islam. Bahkan menurutku, sebaiknya tinggalkan itu jadi urusan Allah.

Yang jelas, kulihat pemerintah Arab Saudi, yang bermazhab Hambali dan “submazhab” Wahabi, yang jauh lebih “keras” dari kita pun, masih mengizinkan orang Syiah melaksanakan ibadah haji. Padahal dua kota itu, Makkah dan Madinah, apalagi dua masjid itu, Al Haram dan Nabawi, terlarang bagi yang bukan Islam…”

Kami agak lama sama-sama terdiam. Biar jangan jadi canggung, kulanjutkan lagi. “Kau jangan salah sangka aku sudah masuk Syiah pula. Hahaha… Aku cuma tak ingin kau membenci sesuatu yang sama sekali tak kau kenali. Kalau setelah tahu beberapa hal tentang Syiah kau masih benci dan tetap menganggap mereka sesat, tak mengapa. Tetapi setidaknya, kebencian dan anggapanmu itu sudah punya dasar, sudah lebih terukur…”

“Memangnya kebencian bisa diukur?” tanyanya. Temanku ini memang gemar betul mengganti topik pembicaraan secara acak.

“Semua bisa diukur, kecuali Allah…”

“Luasnya alam semesta?”

“Bedakan tidak bisa dengan belum bisa. Insya Allah, suatu saat bisa diukur karena selain Allah pasti punya batas, dan yang punya batas pasti bisa diukur…”

Dia kembali diam. “Ya, jangan salah sangka, ya. Aku juga pernah kok ngajak ngobrol kerabatku yang tampaknya tergila-gila dengan ajaran Syiah, dan sudah mulai pula berani mengkritik sahabat utama Nabi, seperti Abubakar dan Umar, radhiallahu anhuma. Kacau kali!

Kubilang sama dia, bagaimana bisa kau membenci kedua sahabat besar itu, sedangkan Nabi Muhammad dan Sayidina Ali yang kaubilang sangat kau cintai, sampai akhir hayat mereka begitu mencintai dan menghormati keduanya? Bukankah seorang pencinta harus mengikut jalan orang yang dicintainya? Jika mereka malah berselisih jalan, di manakah gerangan cinta akan ditemukan?”

“Jadi, macam mana katanya?” tanyanya. Ada sedikit semangat yang muncul dalam pertanyaan itu.

“Dengan izin Allah, dia tampaknya sudah berubah. Bahkan menurut pengakuannya, dia sekarang getol mengingatkan kawan-kawannya yang sama-sama tertarik ajaran Syiah, untuk berhenti mencela sahabat. Dia sering bilang, lebih mencintai Ali, silakan. Mencela sahabat yang lain, hentikan.”

“Syukurlah. Eh, tapi ngomong-ngomong karena kita ngobrol soal benci-membenci ini, aku jadi sadar…” katanya.

“Sadar apa?” ujarku, bersiap-siap tersenyum mekar karena akhirnya teman baikku ini tampaknya sudah mulai melunak.

“Aku sadar selama ini kebencianku kepada mantan ternyata tak berdasar. Sebenarnya dia tidak punya salah, keadaan saja yang tak berpihak pada kami. Nanti mau coba ku-whatsapp-lah dia dulu. Membangun silaturahim itu hal yang baik, kan?” tanyanya.

Entah kenapa, tiba-tiba aku mulai merasa cemas kalau semua perbincangan kami tadi sia-sia…


Sebelumnya sudah diterbitkan di Qureta

3 thoughts on “Perbincangan dengan Seorang Teman yang Sangat Benci Syiah

  1. Maren Kitatau

    Kutip: Membenci Syiah
    “Memangnya kebencian bisa diukur?” ….
    “Aku sadar selama ini kebencianku kpd mantan ternyata tak berdasar. …
    ===
    MK: Jangan2 kecintaannya pd agama hanya dasar semua, tak membangun
    Maka jadi perlu dipertanyakan, apa dasar cinta dan apa pula dasar benci itu:

    Contoh-1: Cinta yg masuk akal
    Mencintai orang yg mencintai kita,
    Ini lah cinta yg masuk akal sehat,
    Cinta dua arah ber-harap2 nikmat.
    Ada kalkulasi adil agar cinta stabil.

    Contoh-2: Benci yg masuk akal
    Membenci orang yg membenci kita,
    Ini lah benci yg masuk akal sehat,
    Benci dua arah ber-harap2 kualat.
    Ada kalkulasi adil, gigi ganti gigi.

    Contoh-3: Cinta yg tak masuk akal
    Mengasihi orang yg membenci kita,
    Inilah cinta yang tidak masuk akal,
    Cinta yang mencar ke segala arah,
    Meneladani kasih Allah kpd manusia.
    Damai!

    Contoh-4: Benci yg tak masuk akal
    Membenci orang yg mencintai kita,
    Ini benci yg tak masuk akal sehat,
    Benci yang menular ke segala arah,
    Mengadopsi dengki Iblis pd manusia.
    Gusar!

    Jadi,
    Ada dua contoh yg masuk akal
    Ada dua juga yg tak masuk akal.

    Pd yg tak masuk akal hrs hati2.
    Hanya satu teladan cinta illahi
    Yaitu cinta yg melampaui akal
    Itu contoh 3.

    Jadi,
    Adalah tumben mencintai Pencipta,
    Tanpa mencintai semua ciptaan-Nya.

    Hanya Penjilat tega setumben itu:
    Me-muja2 Allah dgn lidahnya,
    Dgn lidah itu juga me-maki2 Siyah,
    Membenci Ahmadiyah. JIL, Kristen,
    Hindu, Budha, Atheis, Komunis, dll:
    Mencar kesegala arah; Itu contoh-4

    Salam Damai!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s