Tanpa Luka Cinta Bukanlah Cinta

ilustrasi: imgarcade.comTAK ADA gading yang tak retak, tak ada kekasih yang tak pernah buat palak. Pecinta sejati pun tak selalu bisa menyediakan semua yang kau inginkan, tak selalu berhasil menghindarkanmu dari luka, bahkan kadang tak bisa mencegah dirinya menjadi sumbernya. Tapi jika dia tak menyayangimu seperti yang kau mau, bukan berarti dia tak mencintaimu dengan segala yang dia punya, dengan semua yang dia bisa.

Tak sadar, kita kadang menjadi seperti bos-bos yang menyebalkan itu; menilai sesuatu hanya dari hasil, sama sekali tak memperhitungkan upaya dan perjuangan anak buah. Cinta, semestinya juga bukan semata soal hasil akhir, tetapi lebih kepada pergulatan hari demi hari, antara tangis dan tawa, antara hari yang gurih dan malam yang perih, desah yang legit, kesah yang pahit, tentang tawa yang tak selalu bisa berderai, tentang orgasme yang tak selalu bisa tercapai. *Lho?

Aku tak bisa menjanjikanmu cinta yang berakhir bahagia, karena cintaku adalah perjuangan tanpa akhir.

Kalian begitu dekat, sehingga denyut nadinya adalah detak jantungmu, rambutmu leluasa menggelombang sampai ke dahinya, ketika matanya terpejam kaulah yang jatuh tertidur. Akankah kau biarkan ada yang lain sedekat itu pula denganmu? Pun jika kau biarkan, akankah dia bisa mencapaimu sudut-sudut jiwamu, sebagaimana dia pernah dulu? Jangan-jangan orang “baru” itu bahkan tidak tahu di sebelah mana pintu menuju hatimu).

Akankah kau paksa hela napasmu mengenali bau tubuh lain? Bisakah kau pastikan akan ada bibir lain yang bisa menghapus tuntas bekas bibirnya di bibirmu? (Kata orang, ga selalu mudah loh mencari kontur bibir yang benar-benar fit dengan bibirmu. Bisa malah seperti mencari kepingan puzzle yang tercecer).

Pasti lebih mudah membuka mata melihat perjuangannya mencintaimu, dengan segala ketidaksempurnaannya, menerima dan mencintai ketidaksempurnaanmu. Dia membiarkanmu menjadi dirimu sendiri, saat kau sendiri mulai berpikir untuk menjadi orang lain.

Maka mencintainya, hari demi hari, adalah mencintai dirimu sendiri. Menyadari perihnya akan membuatmu menangis, kebahagianmu membuatnya tertawa.

*****

DI HADAPANNYA, dalam setiap momen yang kalian punya, ekspresikan segala yang kau rasakan, proyeksikan semua yang kau impikan. Biar menyeruak, seperti pusaran debu diterbangkan angin. Bukankah salju pun membiarkan dirinya meleleh di gerbang musim semi, tanpa pernah sempat memperkenalkan dirinya pada kuncup dan kelopak bunga.

Bertengkarlah dengannya. Berteriaklah dalam bara amarahmu. Di kali lain, cicipi pula pedas kata-katanya, karena hubungan jangka panjang, mustahil bisa selamat dari hal-hal seperti itu. (Tapi kalau dia sudah main tangan, berhentilah membaca ini, dan cari segera kantor polsek terdekat).

Yang terpenting adalah, bagaimana kamu dan dia bisa kembali merasakan cinta mengobati semua luka, terpadukan lagi, terhubungkan kembali, dan setiap kali itu terjadi, kalian mestinya telah naik satu level, semakin esensial, semakin terbiasa dengan kehadirannya, semakin tak bisa tanpa keberadaannya.

Seperti kehidupan itu sendiri, cinta adalah pergulatan yang pada titik tertentu akan memeras kelenjar air matamu, meremukkan hatimu yang ringkih, membuatmu terjebak dalam malam-malam panjang, saat mata tak bisa dipaksa pejam.

Tetapi tetaplah di situ, bergulat bersama pengertian, kedamaian, pertentangan, kekhilafan, bara api, perih tanpa suara, dan cinta yang menggenapinya.

Karena cinta adalah tentang menyatukan yang pecah, merekatkan yang terpisah, memulihkan luka, mengenali duka, mengakrabi lara, mengerti nestapa. Juga tentang menyediakan bahu menampung air mata. Inilah penyatuan kembali, kesadaran yang datang perlahan, bahwa di balik semua kekalutan itu, kalian sesungguhnya telah menulis kitab sejarah keindahan yang begitu tebal, perjalanan yang begitu panjang sehingga luka itu terlihat hanya berupa titik-titik yang tak penting.

Demi semua kegamangan dalam ketidakpastian yang menyelimuti setiap hari yang tiba, inilah hidupmu, ketakutanmu, egomu, mimpimu, esokmu, sejarahmu. Dan untuk itu semua, serela-relanya, kau akan mempertaruhkan segalanya. Ini cinta yang telah kau pilih. Biarlah bersamanya datang segala perih, tak karenanya hati menyerpih. Tak ada luka yang tak bisa pulih.

Tanpa luka, cinta bukanlah cinta. Tanpa tangisan, bagaimana sebuah kisah cinta bisa jadi legenda? Karena bahagia bukan saja tentang riuh tawa, tetapi juga tetes air mata, ketika kita menggunakannya membasuh luka, menenggelamkan duka. Dahsyatnya lara yang bisa kau lewati, adalah ukuran besarnya hati yang kau miliki, dan agungnya cinta yang di sana menjadi penghuni.

————————————-

Ini sesungguhnya posting lama, beberapa tahun lalu sudah nongol di ngerumpi[dot]com. Namun karena situs kesayangan itu sudah “berpulang”, tulisan ini pun hilang bersamanya karena memang tidak pernah aku buat back up-nya.

Tadi iseng-iseng googling ternyata ada blog yang meng-copast tulisan ini, juga beberapa tulisan lainnya yang kupikir tak akan pernah lagi kutemukan. Untuk pertama kalinya, aku harus mengakui, bahkan copast (yang sejatinya menyebalkan itu) pun ternyata ada gunanya. Barangkali memang benar, selalu ada sisi baik, bahkan dari hal seburuk apa pun :))

http://i.sociabuzz.com/tck_pix/bl_act?_ref=371906fb9f8f8fc3d7043363f3d990031a4dda89&_host=nesia.wordpress.com

17 thoughts on “Tanpa Luka Cinta Bukanlah Cinta

  1. Maren Kitatau

    Ya!
    Tanpa luka, cinta bukanlah cinta.
    Takut luka, belilah cinta secara tunai, hehe.

    Poligami tak bisa membuat luka cinta.
    Kita tak bisa menaikan cinta satu level,
    Menjadikan cinta yang semakin esensial.

    Salam Damai!

    Balas
  2. Maren Kitatau

    Tanpa luka cinta bukan lah cinta.
    Walau memar cinta takkan pudar.

    Coba pikirlah:
    Mengapa cinta hrs jatuh,
    Sementara pitam malah naik?

    Elok kah naik cinta jatuh pitam?
    Yg ada jatuh cinta yg naik pitam.

    Salam Damai!

    Balas
  3. Asep Saifullah

    Wah bener2 tulisan yang seirama dengan perasaan hati,
    Salam kenal dari Anak Pengembara liar Jabar.
    O’ya bang saya izin copas ya biar kebaca sama anak2 bangsa.!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s