Dalam Hal Tertentu, Islam di Nusantara Lebih “Keras” daripada Islam di Arab

Wacana Islam Nusantara menimbulkan kontroversi. Banyak yang mendukung, tak sedikit pula yang menolak. Namun yang paling banyak sesungguhnya yang abstain. Mungkin mereka terlalu sibuk ibadah, sehingga tak lagi memiliki waktu untuk berdebat. Barangkali mereka menganggap persoalan ini keriuhan yang tak perlu, sementara agama lebih merupakan jalan sunyi mencari ridha Allah, Sang Maha Tersembunyi.

Golongan yang menolak umumnya beralasan Islam itu satu, tak boleh diimbuhi embel-embel apapun. Selain itu, Islam Nusantara juga dicurigai sebagai embrio “mazhab” baru, mazhab yang serba-memudahkan. Apa iya?

Anakku yang paling kecil tampaknya punya “mazhab” tersendiri. Banyak gerak dia :))

Tidak juga. Dalam hal tertentu, Islam di Nusantara justru lebih “keras” dari Islam di Timur Tengah sana. Kita ambil contoh yang menyangkut ibadah paling pokok dalam Islam; shalat.

IN sangat ketat soal gerakan yang membatalkan shalat. Tiga kali bergerak berturut-turut, batal! Apakah ada dalil yang kuat soal ini? Setahu saya tidak. Bahkan Rasulullah sendiri, dalam hadist-hadist shahih, dikisahkan pernah melakukan cukup banyak gerakan dalam shalat, seperti menaikkan cucunya ke pundak, menggeser kaki istrinya yang melintang di tempat sujud, melangkah membuka pintu, dan gerakan lain, yang jelas-jelas lebih dari tiga gerakan berturut-turut.

Anda boleh berpendapat apapun soal “standar” gerakan yang membatalkan shalat ala umat Islam Nusantara itu. Mau dibilang mengada-ada, monggo. Namun itulah pemahaman, yang sudah hidup sejak lama di negeri ini. Dan yang jelas, karena “kebiasaan” itu, jamaah haji asal Indonesia sering mendapat pujian di tanah suci sana, yang disebut “shalat seperti pohon yang terpaku ke bumi.” Deskripsi kualitas ketenangan shalat yang juga sering disematkan kepada sahabat-sahabat utama, seperti Abu Bakar.

Di pihak lain, coba cari di Youtube, misalnya, video shalat di Masjid Alharam, Mekkah. Anda akan melihat mereka relatif banyak bergerak; bolak-balik membetulkan jubah, dan gerakan lain yang dalam ukuran umum di Indonesia, seolah-olah sudah membatalkan shalat.

*****

Nah, soal Islam itu satu. Yes. Na’am. Tatsächlich. Memang. Islam satu, tetapi ajarannya banyak. Sebegitu banyak dan luasnya ajaran mulia dalam Islam, maka rasanya mustahil akan ada orang, selain Rasulullah SAW sendiri tentu saja, yang bisa menghidupkan semua nilai ajaran mulia itu, secara genap, lengkap, dan sempurna dalam dirinya. Maka empat sahabat utama Rasulullah; Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, pun dicatat sejarah dengan ciri indah dan keutamaan khas masing-masing. Ada yang menonjol sisi lembutnya, ada pula yang dihormati tegas dan adilnya, ada yang dikagumi kedermawanannya, dan ada pula yang memancar kebijaksanaannya. Demikian pula sahabat-sahabat yang lain, ada yang juara sedekah, ada pula yang luar biasa tekun bertasbih, dan bentuk ibadah lainnya.

Semua keutamaan itu adalah nilai luhur yang diajarkan Islam. Tetapi sekali lagi, yang bisa mengumpulkan semua itu sekaligus dalam bentuk yang paripurna dalam dirinya, ya Rasulullah. Karena itu, beliau dinobatkan Allah sebagai Uswatun Hasanah; contoh yang sempurna.

Islam itu satu. Tetapi dalam ajarannya disodorkan alternatif. Makanya saya tersenyum kecut waktu menonton film Kingdom of Heaven, yang bercerita tentang Perang Salib. Sibylla mengatakan Islam memerintahkan “Follow!” sementara Kristen mengajarkan “Decide.” Nggak juga sih, Mba Byl…

Sebagai contoh bahwa dalam Islam juga ada “Decide…” Allah SWT berfirman dalam Surat An Nahl, ayat 126. “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Ayat ini menyodorkan pilihan, bagaimana bersikap jika kita dianiaya orang lain. Kalau mau balas, balas dengan setimpal. Jangan lebai. Tindakan itu sesuai ajaran Islam, islami. Wong ada di Al-Qur’an. Namun Allah juga menyodorkan pilihan lain; bersabar (dan kemudian memaafkan). Ini juga islami, malah menurut saya lebih islami, karena Allah memuji pilihan itu di ujung ayat.

Begitu pula soal jumlah istri. Beristri 2, 3, atau 4 itu islami. Karena Allah membolehkannya. Tetapi beristri satu juga islami, karena mereka mungkin dengan kerendahan hati merasa ragu akan bisa berlaku adil. Sementara Allah sudah tegas mengingatkan, fa’in’ khif’tum’ ‘alla ta”dilu fawahidatan. Kalau kau tak yakin akan mampu berlaku adil, satu saja!

Islam itu satu. Tetapi Islam menyodorkan banyak pilihan amalan terbaik. Rasulullah beberapa kali ditanya sahabat, tentang amalan terbaik dan terpenting. Rasulullah pernah menjawab, mendirikan shalat. Di kesempatan lain, beliau menyebut jihad di jalan Allah. Pada waktu berbeda beliau mengatakan belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Akan tetapi, beliau pernah pula bersabda..

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang suatu amalan yang lebih utama daripada derajat shalat, puasa, dan sedekah? Yaitu, menciptakan kedamaian (merukunkan) antara manusia sebab kerusakan hubungan di antara manusia adalah pembinasa agama.”

Islam itu satu, namun dia juga merumuskan banyak indikator manusia terbaik, merestui banyak pilihan untuk bisa disebut sebagai orang bertakwa. Barangkali karena itu pula, surga digambarkan Rasulullah memiliki banyak pintu masuk. Di sana terdapat pesan, bahwa tak satu jalan menuju ridha Allah, tak satu cara untuk menjadi Islam.

*****

Soal boleh-tidaknya mengimbuhkan Nusantara pada nama Islam yang agung itu, kita mungkin berbeda pendapat. Tetapi, rasanya kita harus bersepakat, bahwa ada banyak jalan untuk menghidup-hidupkan ajaran Islam, dan bahwa setiap orang (dan kemudian daerah), mungkin merasa lebih mudah menghidupkan sisi indah Islam tertentu daripada sisi indah Islam yang lain. Mereka yang mengedepankan jihad, kekuatan, semangat, keberanian, dan pengorbanan untuk memberantas kebatilan, insya Allah diridhai. Karena Dia memang memerintahkan demikian. Begitu pula mereka yang memilih jalan kelembutan, menyeru kepada Allah dengan hikmah, kesabaran, dan kasih sayang, insya Allah diridhai pula. Karena Dia juga memerintahkan demikian.

Tentang siapa yang lebih diridhai, tinggalkanlah itu menjadi urusan Allah. Toh kita pun dengan segala kerendahan hati, puluhan kali setiap hari, senantiasa berbisik dan berseru kepada-Nya: “Ihdinasshirathal mustaqim…”

Tidak ada orang yang boleh merasa sudah berislam lebih baik dari yang lain, takwa demikian sempurnanya sehingga tidak lagi perlu meminta Allah untuk senantiasa memandu dan menunjukinya, tidak perlu menjadikan muslim yang lain tempat bercermin dan berbagi hikmah.

8 thoughts on “Dalam Hal Tertentu, Islam di Nusantara Lebih “Keras” daripada Islam di Arab

  1. Maren Kitatau

    Pikirku juga begitu!

    Paling banyak mereka yg abstain, yg merasa berdosa
    Tak peduli dgn Islam Nusantara-Suni-Siyah-Ahmadiyah
    Peduli mereka mungkin pd kerja ibadah, bukan mikir debat,

    Karna kerja adalah awal utk menjadi,
    Menjadi rahmat lil alamin lah utamanya.
    Sedangkan mikir adalah awal utk bekerja.
    Kalau kerjanya debat lalu mau mikir apa.
    Kalau kerjanya mikir lalu mau debat apa
    Bolak balik tak juga ngalir menghidupkan
    Menjadi rahmat lil alamin sebagai tujuan..

    Salam Damai!

    Balas
    1. Maren Kitatau

      Ralat:
      Kalau kerjanya debat lalu mau mikir apa.
      Kalau kerjanya mikir lalu mau debat apa

      Bagusan:
      Kalau kerjanya debat lalu mau jadi apa.
      Kalau kerjanya mikir lalu mau kerja apa

      Sebab:
      Kata adalah awal utk bicara
      Bicara adalah awal utk berpikir
      Berpikir adalah awal utk bekerja
      Bekerja adalah awal untuk menjadi

      Menjadi ialah pada akhirnya,
      Firman itu lah yg menjadikan.
      “Bim sala bim”, langsung jadi.

      Menjadi apapun kita hrs merahmat,
      Menjadi rahmat lil alamin-lah namanya,
      Seperti anak-anak Tuhan yang non kafir.

      Terima kasih!

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s