Who Knows, Who The Hell Knows…

Si Ibu tampak kerepotan menggendong anaknya melewati lorong sempit kabin pesawat khas kelas ekonomi. Belum lagi dua tas berukuran sedang yang menambah bebannya. Tempat duduknya tampaknya masih jauh.
Benar saja, salah satu tasnya terjatuh. Isinya, beberapa bungkus makanan kecil, berserakan di lantai. Penumpang di belakangnya, seorang pria paruh baya, dengan sigap memungutinya, memasukkannya kembali ke tas. “Biar saya yang bawa,” katanya. Saya yang berada beberapa meter di belakang mereka, merasa tersentuh dengan kebaikan si Bapak.
Ternyata si Bapak duduk di sebelah saya. Dia di sebelah gang. Persis di seberangnya, duduk si Ibu serta anaknya, berusia kira-kira 2 atau 3 tahun.

Gambar hanya ilustrasi

Masalah lain muncul. Begitu lampu di kabin dipadamkan, prosedur resmi menjelang lepas landas, anak perempuan itu mulai menangis, makin lama makin menjadi. Semua upaya ibunya untuk membujuknya gagal, termasuk dengan menawarkan makanan ringan yang sempat terjatuh tadi.

Begitu lampu kembali menyala, dan tanda mengenakan sabuk pengaman sudah dipadamkan, Si Bapak di sebelah saya kemudian berdiri, membuka bagasi kabin, mengambil tas tangannya, dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Setelah duduk, dia membukanya. Sebuah boneka Masha, dengan baju warna merah jambu, dan tudung kepala berwarna senada.
“Coba kasih ini, Bu, siapa tau dia suka,” katanya sembari menyodorkan boneka itu.
“Gak usah, Pak,” si Ibu menolak dengan sopan.
“Gak apa-apa. Kasih aja.”
Dengan kikuk si Ibu menerima boneka itu, dan begitu diberikan kepada anaknya, bukan saja tangisannya langsung berhenti, tetapi dia juga langsung tersenyum, seolah raungannya barusan cuma sebuah drama.
“Yaudah, biar buat dia aja. Mestinya itu oleh-oleh untuk cucu saya. Kira-kira seusia dia juga,” kata si Bapak.
Si Ibu makin tak tahu harus bicara apa.
“Gak apa-apa, nanti saya bisa beli lagi. Lagi banyak yang jual tuh boneka. Lagi musim,” katanya meyakinkan.
Saya pun tak bisa menahan diri untuk tidak memuji lelaki hebat itu.
“Bapak baik sekali.” Standar. Aku tak bisa menemukan kata-kata lain untuk menyatakan kekaguman.
Bapak itu tersenyum. “Pada dasarnya semua orang baik,” katanya.
“Benar, Pak. Pada dasarnya. Tapi Bapak juga pada praktiknya.”
Dia tertawa kecil. “Terima kasih…”
Benar-benar sebuah reaksi yang pas. Dia tidak pura-pura merendah, dengan menyatakan itu bukan apa-apa, tetapi juga tidak senang berlebihan.
Setelah sempat terdiam beberapa lama, Bapak itu bicara lagi. “Saya cuma berpikir, siapa tahu ini adalah kesempatan terakhir saya untuk berbuat baik…”
Anjrit! Perasaanku campur aduk. Antara mengamini ucapan si Bapak dan menjadi sedikit gelisah bahkan parno. Tak sadar aku kembali mengenakan sabuk pengaman yang tadi sudah kulepas.
Si Bapak seolah bisa mengeja kecamuk pikiranku.
“Tidak saja karena kita saat ini sedang berada di dalam pesawat loh. Setiap saat, seaman apapun kelihatannya, bisa saja menjadi kesempatan terakhir kita untuk berbuat baik. Kan gak ada yang tau?” katanya.
Sekali lagi Anda benar, Pak. Who knows. Who the hell knows…

Kisah kecil ini terjadi, saat saya dalam sebuah penerbangan Medan-Bandung, beberapa bulan lalu

12 thoughts on “Who Knows, Who The Hell Knows…

  1. Maren Kitatau

    Di dlm pesawat yg padat, NY-Tel Aviv.
    Ada Bapa-bapak yg aku nggak salut blas.
    Bapak ini Ultra Ortodok Jahudi – Haredi keknya.

    Dia tak mau duduk disamping perempuan.
    Dia bujuk perempuan itu supaya pindah duduk.
    Perempuan itu menolak dgn halus tak mau pindah

    Dia tawar kasih sedikit uang agar mau pindah duduk.
    Perempuan mengalah, “Silahkan Bapak duduk”
    “Saya berdiri saja di gang itu nanti”.

    Lalu heboh!
    Pesawat tertunda karena soal duduk.
    Org lain pun tak sudi duduk dkt Bapak spt itu.

    Aba-aba “Fasten your seat belt” sudah berulang,
    “Ok! saya duduk di WC saja, supaya pesawat lekas jalan.”
    “Nanti saya berdiri lagi di gang supaya Bapak itu tetap ke surga”

    Aku salut sama perempuan itu!
    Cek deh di Youtube, Young Turk TV.
    Aku nggak tau ending penerbangannya.

    Salam Aya aya wae!

    Balas
  2. dsusetyo

    Sungguh benar kiranya. berbuat baik harus disegerakan. Karena kita tidak pernah tahu mungkin itu saat terakhir kita bisa berbuat baik.

    Sebentar lagi Idul Qurban. Di salah satu baliho, kubaca, kulihat gambar orang tersenyum memegang kambing yang gemuk, di bawahnya ada tulisan: “Mungkin ini Qurban terbaik terakhiku…”

    Balas
  3. Maren Kitatau

    Di sini:
    Di tertiga.wordpress.com/2010/09/01/22-mati-tertiga/
    Aku sebenarnya sedang mencari2 apa ada mati keren.
    Ada mati khusnul kotimah apa itu-kah mati keren?

    Berikut beberapa ciri mati Khusnul Khotimah:
    1. Meninggal dengan mengucapkan syahadat (HR. Abu Daud).
    2. Meninggal dalam keadaan sedang berkeringat (HR. Tirmidzi).
    3. Meninggal pada waktu siang / malam jumat (HR. Tirmidzi).
    4. Meninggal mati syahid di medan perang di jln Allah SWT(QS.3:169-171).
    5. Mati di jalan Allah SWT (HR. Muslim).
    6. Meninggal karena penyakit radang selaput dada (HR. Ahmad).
    7. Meninggal karena penyakit tha’un (HR. Bukhari).
    8. Meninggal karena sakit perut (HR. Muslim).
    9. Meninggal karena tenggelam.
    10. Meninggal karena tertimpa reruntuhan (HR. Bukhari dan Muslim).
    11. Meninggal disebabkan anak yg sedang dikandungnya (HR. Ahmad).
    12. Meninggal karena membela agama/nyawa (HR. Bukhari).
    13. Meninggal karena membela harta (HR. Abu Daud).
    14. Meninggal karena terjangkit penyakit TBC (HR. Ath Thabrani).
    15. Meninggal karena sedang berjaga di jalan Allah SWT.
    16. Meninggal tatkala sedang beramal shaleh (HR. Ahmad).
    17. Meninggal karena terbakar api (HR. Ahmad).

    Sumber:
    http://www.kabarmakkah.com/2015/06/tanda-tanda-meninggal-dalam-keadaan.html

    Dari ke-17 ciri-ciri itu hanya satu yg berdasar pd Quran yaitu ciri No.4, mati perang di jalan Allah. Jika perang rohani boleh juga dapat diperhitungkan dlm ayat itu, maka kematian Yesus di kayu salib adalah Khusnul Khotimah, keren, gitu loh. Tapi jika hanya perang konvensional saja yg diperhitungkan, maka pasukan Mesir-Sirya-Yaman dan Manalagi is is sedang pada-pada berebut mati keren. Ada org mati ketimpa crane, kurasa itu nggak keren, tapi kalau ketimpa crane di Masjidil Haram apa sudah pasti keren? Wah! Wallahualam bisowab lah!

    Salam Damai!

    NB:
    Kami turut berduka-cita yg dalam
    Atas meninggalnya 107 jiwa,
    Pada musibah di Mekah,
    11 September 2015.

    Balas
    1. Maren Kitatau

      @Hari
      Sedang apa, Kang?
      Semoga baik-baik saja.

      Terlalu banyak cara maut merengut jiwa. Semua cara tak dapat diduga kedatangan-nya. Korban maut yang tertimpa kren ada 100-an jiwa dan banyak yang luka-luka. Tragedi ini diluar kontrol manusia. Badai pasir menghembus kren, lalu kren roboh menimpa segala yang ada.

      Korban maut yang terinjak-injak massa ada 700-an jiwa dan banyak juga yang luka-luka. Tragedi ini pun diluar kontrol manusia. Rombongan massa bertabrakan dengan rombongan massa lainnya yang tergesa. Sebahagian massa mengejar waktu demi ke-afdol-an waktu lempar jumroh dan untuk segera menyelesaikam perjalanan haji-nya, maka mendorong massa lainnya dan terjadilah tragedi itu.

      Tradisi lempar jumrah di Mina pada hari raya korban yang kerap menelan korban ini dipercaya sebagai perintah Allah SWT menirukan teknik Ibrahim mengusir setan. Ada yg mengusulkan teknik Ibrahim ini ditiadakan saja, atau setidaknya ke-afdol-an waktu-lempar-nya yg ditiadakan atau diperbesar toleransi-nya agar keharusan tamu Allah SWT melakukan teknik itu lebih longgar dan tidak perlu tergesa oleh presisi waktu hingga massa yang kuat rela berdesakan demi ke-afdol-an lempar jumrah.

      Gimana Kang, usulan itu!

      Salam Damai!

      Balas
      1. Maren Kitatau

        Gimana Kang Hari!

        Sekedar pemikiran, ada yg mengusulkan: Lempar jumroh itu dilakukan dari kereta-lambat saja. Posisi berdiri membujur bertangga spt formasi berdiri paduan suara. Jadi para tamu Allah SWT nggak usah turun ke arena lempar utk lempar. Maka injek-injekan dan dorong-dorongan pasti tak terjadi, kan? Tapi persoalannya mungkin berpindah pd ketika mau naik kereta.
        Wah! Kuota sudah pada ditambahin pula, Kang!

        Salam Prihatin! .

  4. Maren Kitatau

    @Cahaya

    Yg benar hrs ada ialah harta waris.
    Yg maunya tak ada warisan hutang.
    Lalu ada dosa waris, utk apa?

    Kurasa yg ini benar:
    Benih uinggul mustahil menghasilkan benih yg melampaui benih unggul itu Dan benih yg telah cacat mustahil menghasilakn benih unggul tanpa ada campur tangan dari ahli genetika, dst. Ini adalah soal yg sederhana dan masih alamiah.

    Soal yang rohaniah:
    Adam ialah benih unggul yg telah cacat dosa.
    Yesus adalah benih unggul yg abadi tanpa cacat.
    Semailah Yesus di hati karna kita hrs lahir kembali.
    Who knows. Who the hell knows [Yohanes 3].

    Salam Damai!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s