Para Pelintas Batas dalam Pilpres

Pilpres kali ini seru, bahkan mungkin yang paling seru. Hanya ada dua kandidat membuat masyarakat terbelah. Kalau tidak ke sana, ke sini. Perdebatan panas terjadi di berbagai forum dan media, online dan offline.

Namun yang agak mencemaskan, polarisasi dua kutub ini mengarah kepada kecenderungan islamis dan nonislamis, and it is not too good.
Berbahaya jika sebuah even politik bergeser menjadi kontestasi identitas agama.
Tetapi bersyukurlah, bangsa ini punya orang-orang yang siap melintasi batas-batas. Dr Quraish Shihab, seorang cendikiawan muslim yang disegani, bergabung ke kubu Jokowi-JK, bersama dengan KH Hasyim Muzadi, Alwi Shihab, Anis Baswedan, dll. Dengan demikian, persepsi bahwa Jokowi-JK tidak islami, sedikit banyak terbantahkan.
Di Sumut sendiri, kita melihat Ephorus Emiritus HKBP, Pdt Bonar Napitupulu, JA Ferdinandus, RE Nainggolan, dan beberapa orang yang dianggap sebagai tokoh Kristen, hadir dalam sebuah acara mendukung Prabowo Hatta.
Amankah tindakan para pelintas batas ini? Tidak! Absolutely not! Quraish Shibab dicerca di mana-mana, bahkan kabarnya ada orang yang membakar kitab dan buku yang ditulisnya. Tokoh-tokoh Islam yang bergabung dengan Jokowi-JK harus menghadapi cercaan dan berbagai tuduhan, dari orang-orang yang merasa dirinya paling islam. Mereka dituduh mengkhianati perjuangan Islam. Wow!!!
Bagaimana dengan tokoh Kristen yang mendukung Prabowo Hatta? Setali tiga uang. Mereka juga dicerca oleh orang yang merasa dirinya sudah paling Kristen.
Dan bagi saya, maaf saja, kaum Muslim yang mencerca tokoh Islam hanya karena mendukung Jokowi JK, sama levelnya dengan orang Kristen yang mencerca tokoh Kristiani hanya karena mendukung Prabowo-Hatta. Problem kedua kelompok ini sama: mereka selalu melihat even politik sebagai kontestasi agama.
Baik Prabowo Hatta, maupun Jokowi JK tidak bisa mencegah jika ada yang menyatakan dukungan. Kalau FPI misalnya menyatakan mendukung, masa Prabowo menolak dukungan itu, walaupun karena itu dia lantas diasosikan sebagai pro-garis-keras. Jika para keturunan anggota atau simpatisan PKI terlihat merapat ke Jokowi-JK, mereka mau bilang apa? Walaupun karena itu mereka lantas difitnah macam-macam, termasuk mau membangkitkan PKI.
Dukungan tidak serta merta berarti positif, tetapi bisa juga menjadi kontraproduktif. Tapi tak ada ceritanya, orang yang mendukung ditolak, meski kadang sejujurnya situasinya sangat dilematis.
Jika misalnya tokoh-tokoh Kristen sangat solid mendukung Jokowi-JK, ini justru bisa membahayakan elektabilitas mereka, karena pemilih potensial dari kalangan muslim, akan mencermati situasi itu. Lebih jauh lagi, kesan bahwa Jokowi-JK tidak islami, juga akan makin terkuatkan.
Banyak orang tidak sadar, dukungan yang terlalu berapi-api, atau pataridahu (Batak: terlalu kentara), bukannya menolong tetapi justru merongrong yang didukung.
Pemilihan presiden tidak sederhana, Kawan. Ini bukan pemilihan kepala desa. Di balik perhitungan ada perhitungan. Di atas manuver ada manuver. Dan dengan sangat menyesal, banyak dari kita belum sampai ke level yang memadai, untuk bisa menyadarinya. Semangat berapi-api, dampak berair-air
Lagi pula, persoalan identitas agama dalam pemilu itu mestinya sudah selesai. Di Belitung Timur, yang muslimnya mencapai 97%, Bupatinya Kristen, dan turunan Tionghoa pula. Bisakah kita bayangkan, di Tapanuli Utara misalnya, akan terpilih bupati beragama Islam, turunan Aceh pula, (gak usahlah dulu turunan Arab). Helllloooww? Mimpi kali yee. Jadi sekarang, siapa yang sebenarnya tidak siap dengan pluralisme?

                                                            *****
Kalau mau memilih Prabowo-Hatta, pilihlah karena Anda mungkin melihatnya tegas, terobsesi kepada kemandirian dan menjunjung tinggi martabat bangsa. Jadi, bukan karena dia lebih islami. Ente tau gak, dia lahir dari rahim seorang beragama Katolik, dan dua adik kandungnya juga beragama Kristen?

Atau kalau mau memilih Jokowi-JK, pilihlah karena Anda barangkali percaya keduanya sederhana, merakyat, dan akan mengedepankan ekonomi kerakyatan. Jadi, bukan karena mereka lebih sekuler. Cuma Jokowi loh yang nyempet-nyempetin umroh menjelang Pilpres. Terus situ tahu, JK itu Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI). Jadi sekuler gimana?😉

6 thoughts on “Para Pelintas Batas dalam Pilpres

  1. Maren Kitatau

    Menjelang tgl 22 Juli 2014 terasa agak serem.
    Terlalu banyak tentara dan polisi disiapkan.
    Rasa-rasanya akan ada kekacauan.

    Memang,
    Hanya org yg pikirannya kacau yg suka kekacauan.
    Syukurlah bahwa Prabowo negarawan, tak spt terduga..
    Kini kita akan punya wajah politik baru yg Indonesia banget.

    Salam Damai!,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s