Menikah, Menerima Takdir yang Indah…

Untuk istriku, ibu dari anak-anakku, takdirku yang indah…

Mencintai sepenuh hati itu tak sulit, bahkan kadang hati kita bukan lagi penuh, tetapi sampai meluap. Yang sulit adalah untuk tetap mencintai sepenuh hati karena waktu adalah tantangan terbesar bagi cinta.

Tubuh, sifat, persoalan hidup, pengetahuan, termasuk perasaan terdalam, semuanya (bisa)  berubah. Apakah bisa mencintainya dengan totalitas yang sama, baik ketika dia masih cantik dan mulus maupun saat sudah tua, mengerut, dan berbau? (Dikutip dari posting lama: Cinta, Kerumitan yang Sederhana).

Walau bukan fans Om Mario Teguh, cukup banyak kata-katanya yang tak bisa terhapus dari file ingatan, terutama yang ini; “Untuk membangun jodoh, sedari awal tuntutlah yang terbaik. Setelah menikah terima apa adanya!”

Pernikahan, dengan demikian, adalah sebuah point of no return, tiket sekali jalan. Iman Kristen mengamini itu, ketika pendeta dalam pemberkatan pernikahan menegaskan, “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Islam di pihak lain, memang menyebut perceraian sebagai sesuatu yang halal, atau tidak dilarang. Tetapi Allah membencinya!

Benar, ada saja alasan yang terasa sangat kuat untuk mengakhiri sebuah pernikahan, apakah yang baru seumur jagung–ketika kado-kado bahkan belum seluruhnya dibuka–atau yang sudah berpuluh tahun, ketika pasangan itu sudah mulai renta.

Tetapi jika Allah melarangnya, atau setidaknya membencinya, bukankah itu sebuah pesan, atau bahkan perintah dari-Nya, agar kita berjuang menyelamatkannya, bila perlu dengan mengesampingkan perasaan kita sendiri, untuk mempertahankan sesuatu yang lebih besar: keluarga.

Dengan segala warna kediriannya, kelebihan dan kekuatannya, keindahan dan keburukannya, dialah belahan hidup yang telah kaupilih, hasil dari proses panjang “menuntut yang terbaik” tadi.

Bukan bermaksud putus asa, tetapi kita barangkali, ops, bukan barangkali tetapi memang harus, menerimanya sebagai takdir, ketetapan kehidupan, sebagaimana kita menerima, misalnya, takdir menjadi anak dari ayah yang kurang peduli, atau ibu yang tak cukup punya kelembutan dan kasih sayang.

Setiap manusia pada dasarnya baik, atau setidaknya punya sesuatu yang baik di dirinya. Hanya saja, kebaikan itu mungkin perlu dibantu untuk bisa muncul dan tumbuh. Atau jangan-jangan kita yang menuntut dan berharap terlalu banyak, padahal seperti kata Om Mario tadi, begitu menikah, kesempatan untuk menuntut yang terbaik sudah ditutup.

Baiklah, setelah (terlanjur) menikah pun kita tetap berhak mengharapkan yang terbaik. Tetapi apakah saat menuntut itu, kita sudah berupaya cukup kuat untuk juga memberikan yang terbaik? Biasanya sih, orang yang terlalu sibuk menuntut, tidak akan sempat lagi memperbaiki diri😛

Untuk bisa masuk kantor tepat waktu saja butuh perjuangan; bangun lebih awal, bergegas mengejar angkutan umum, atau mengemudi meliuk-liuk di sela-sela kemacetan. Konon pula untuk menjaga dan memberhasilkan pernikahan, merajut benang-benang sejarah untuk dibaca anak cucu dengan rasa bangga?

Maka aku akan terus belajar menerima dan mensyukurimu, bukan saja karena kau adalah takdir yang tak bisa kutolak, tetapi karena jika aku mau membuka mata, hari demi hari keindahanmu terus terkuak, seperti bunga merekah melepas dari rangkulan kelopak…

Aku memang punya daftar panjang berisi keluhan, tuntutan, dan harapan terhadapmu. Tetapi aku kini sadar, di sana, daftar yang kaumiliki pasti jauh lebih panjang🙂

Maka demi anak-anak kita yang punya hak dibesarkan dalam keluarga yang utuh; demi dirimu, Srikandi tangguh yang tanpa lelah mempertahankan benteng keluarga kita agar tetap kokoh berdiri; demi orang tua kita di alam sana, yang sudah tidak lagi bisa memberi kita nasihat dan kata-kata penyejuk hati, demi keluarga dan sahabat yang mau repot-repot menghadiri undangan kita dulu, tak lupa juga demi petugas di pengadilan agama yang sudah terlalu repot dengan urusan perceraian yang belakangan makin memasyarakat; mari menyegarkan kembali janji-janji kita, untuk tidak menyerah kepada segala yang datang membelah, tak akan mundur menghempang segala yang bisa membuat sejarah kita hancur, tak akan lupa berdiri bergegas ketika perih memaksa kita terhempas…

Kau cinta yang dulu kupilih, jawaban bagi do’a yang lahir dari hatiku yang muda, yang sedang jatuh cinta. Aku pulalah pengetuk pintu yang dulu kaubuka, dengan keridhaan hati perempuan belia yang memeluk seribu damba…

Tak sebutir pun pengorbananmu, dan pengorbananku–itu pun kalau ada :D–yang akan sia-sia. Tak bisa tertangkap mataku, terbaca pikiranku, maka Dia dan sejarah tak akan lupa mencatatnya. Setiap tetes bening kasih sayangmu, akan mengalir dalam darah anak-anak kita, mewujud dalam senyum dan keceriaan mereka.

Dan apalagi yang bisa lebih disyukuri, daripada menikah dengan takdir terindah…

———————————————————–

PS: Aku menulis ini, saat kau sudah terbaring dalam lelap. Tanganmu masih menggenggam koran bekas yang disulap jadi kipas buat anak-anak. Seperti biasa, tiap lampu PLN mati seperti tadi, kau pun dipaksa menjadi mesin pendingin udara buat mereka…

30 thoughts on “Menikah, Menerima Takdir yang Indah…

  1. shinuraz

    Memang benar lae, mengesampingkan perasaan kita sendiri untuk kepentingan yang lebih besari itu tidaklah mudah. Tapi jika memang benar ketika “membangun jodoh” dulu kita tak menuntut yang terbaik mungkinkah kita bisa menerima semua apa adanya?

    Lagi-lagi postingan ini penyejuk hati lae…

    Balas
  2. detoxshop

    sebuah arti dari tulisan adalah cerminan dari kehidupan,dimana kta bisa membaca dan hati kan merasakan apa yg ada….owh sebuah tulisan yang betul2 terus abang buat ini selalu saya baca dan sebarkan sebagai penyejuk hati smua orang.

    salam kenal bang

    regards ricky-cirebon

    Balas
  3. Ludwig

    Maka aku akan terus belajar menerima dan mensyukurimu, bukan saja karena kau adalah takdir yang tak bisa kutolak, tetapi karena jika aku mau membuka mata, hari demi hari keindahanmu terus terkuak, seperti bunga merekah melepas dari rangkulan kelopak…

    Balas
  4. evannainggolan

    bang ,
    saya juga sangat tertarik dengan artikel abang,
    sangat inspiratif. saya minta ijin untuk
    menyebar luaskan ya bang..
    saya memposting artikel ini di blog saya
    evannainggolan.blogspot.com

    salam kenal abang😀

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s