Hidup Berdamai dengan Luka

Langkah-langkah kecil bergegas mengejar dedaun waktu yang terus gugur meluruh. Masing-masing memanggul kesunyian takdirnya. Menggapai mencari tangan yang mau menuntun, memanggil-manggil hati yang mau mendengar. Tapi tak juga ada yang sungguh-sungguh tahu, di bagian mana saja telah tergores lukamu.

Aku juga terseok dalam kembara ini. Tubuh yang tegak lurus dengan langit, sesungguhnya menyimpan hati yang terpekur merunduk ke bumi. Tawa adalah jerit tanpa suara. Senyum adalah perih yang tak tercatat. Luka bukanlah piala yang harus diusung tinggi-tinggi. Menenggelamkannya adalah menyelamatkan muka.

Wadah itu pun terlalu ringkih merangkul bunga-bunga lara yang terus tumbuh walau ditanam dalam-dalam. Pecah. Akarnya merambat, mendekap mendesak, menghimpit kekuatan yang tersisa dalam sesak. Remuk redam dalam kekalahan yang sempurna.

Inilah batas kemampuan untuk berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Air mata membutir, mengalir, membanjir, mengabarkan bahwa ketabahan telah menemu akhir. Tapi gersang dunia segera mengeringkannya, menghisapnya jadi udara. Tak siapapun sempat memperhatikannya. Menangis sendiri, mengering sendiri.

Tapi apa yang tak berubah oleh waktu? Inilah saat yang kutunggu, ketika separuh jejak usia mungkin telah ada di belakangku; mengerti bahwa hidup hanya sejauh pikiran berpikir, sejauh perasaan merasa. Segala perih silakan datang bertandang, tetap ke depan aku merangkak  meradang. Aku ingin hidup berdamai dengan segala luka, berbagi ruang di dalam raga, bersebelahan di dalam jiwa. Nyamankan dirimu di dalamku, Lukaku. Tak akan lagi kupaksa kau bergegas berlalu, karena kutahu kau akan beranjak sendiri bila telah tiba saatmu. Sementara kau masih betah di sini, aku akan berusaha lebih mengenalmu, menerimamu sebagai bagian yang niscaya dalam perjalanan singkat di ruas panjang waktu.

Ini aku yang memutuskan bersahabat dengan luka, hidup damai berdampingan dengan segala perih, ada atau tiada yang berkenan mengerti. Takdir adalah kesunyian masing-masing. Tak akan lagi ada sakit hati, bila kini atau nanti ada yang berpaling.

Akan tetap kudekati tujuan-tujuanku, setapak demi setapak, segala sanjung pun serapah, pahit pun legit, tak lagi mengganggu. Mengetahui mengapa aku harus hidup, dan untuk apa aku harus mati, sudah cukup bagiku.

Iklan

29 thoughts on “Hidup Berdamai dengan Luka

  1. ivan mangunsong

    wah aku terharu, masalahnya aku baru mendapat luka yang dalam, habis baca ini, mata jadi berlinangan, tapi luka memang harus di sahabati, meski kadang sangat menyakitkan. Banyak atau tidak semua orang mesti mendapat jatah luka, luka dan luka..

    Balas
  2. ki Dipowardoyo / John Koeswoyo

    Salam. Inilah DO’A orang yang manusiawi, bermoral dan beretika manusia ADIL, IKSAN, PEDULI SOSIA; diajarkan Allah Yang Maha Pengassih dan Penyayang. Diawali dengan pernyataanNya do s an Niisa Q,S, 4: 40. Menyur mnusia di s. an Nhl Q.S. 16:90. Ekonomi KEMITERAAN d az Zujhruf Q.S. 43: 32. Cukup sudah dan berdoa :” Semoga SEMUA titah bahagia sejahtera.” May all life beung be happy. Mogen alle lvende wezens gelukkig zijn. Ya su-daaag. Salam

    Balas
  3. Muhajir al-asyie

    kagum saya dengan tulisan mu, koq bagus bener yea… Saya pengen nangis tapi tak jadi krna waktu menginginkanku tertawa bercampur haru bak lebah gagal panen,
    trimaksih bg, tulisanmu bUAGUS’t

    Balas
  4. Rhys

    Inilah batas kemampuan untuk berpura-pura bahwa segalanya baik-baik saja. Air mata membutir, mengalir, membanjir, mengabarkan bahwa ketabahan telah menemu akhir. Tapi gersang dunia segera mengeringkannya, menghisapnya jadi udara. Tak siapapun sempat memperhatikannya. Menangis sendiri, mengering sendiri.

    Balas
  5. Ping balik: Hidup Berdamai dengan Luka | kata bijak

  6. Maren Kitatau

    Wuih!
    Kau bisa hidup berdamai dgn segala luka?
    berbagi ruang di dalam raga?
    bersebelahan di dalam jiwa?

    Walau luka dalam pun luka luar?
    Walau luka ringan pun luka berat?
    Segala luka kau bisa karna biasa?

    Akrooobat kali, ya!
    Bravo Bang!
    Salam Damai!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s