Kebahagiaan Under Construction…

Saat seorang wanita memutuskan meninggalkan kariernya yang sedang unyu-unyunya, untuk konsentrasi mengurusi keluarga, banyak yang menganggap itu tindakan bodoh.

Aktivis kesataraan gender akan langsung menyatakan itu sebagai langkah mundur di saat wanita di seluruh dunia sedang berjuang membuktikan bahwa mereka tidak hanya ratu di dapur.

Orang boleh komentar apapun, tapi kalau Anda merasa bahagia dengan pilihan yang diambil, seaneh apapun di mata orang, who cares? Ketika wanita-wanita hebat tadi menemukan bayi mungilnya adalah sumber kebahagiaan terbesar buatnya, serta merta tak ada hal lain yang lebih penting dari itu, apalagi hanya pendapat orang.

Toh mereka juga tak pernah mengklaim keputusan semacam itu harus diikuti wanita lain. Mereka sadar, sumber kebahagiaan bagi tiap orang itu berbeda. Paling ketika ditanya apa alasannya mengambil keputusan ”tak populer” itu, mereka akan mengakui, selama ini telah terlalu sibuk membuat pembuktian, mengoleksi pengakuan, mengundang decak kekaguman dan gemuruh tepuk tangan, sehingga lupa—dan memang tak punya waktu lagi—untuk benar-benar berbahagia, konon lagi membahagiakan orang-orang yang dicintainya.

Kabar baiknya, kesadaran semacam ini juga sudah mulai menyebar di kalangan pria. Bekerja habis-habisan demi keluarga, sampai tak ada lagi waktu untuk keluarga.

Lagian, tidak perlu mempersoalkan tindakan orang yang telah menemukan sumber kebahagiaannya. Anda tak akan pernah mengerti, dia pun tak akan mau peduli. Kecuali tentu saja, bila sumber kebahagiaannya ternyata ”milikmu” yang paling berharga😛

Lebih baik pastikan ulang, apakah anda sudah menemukan source of happiness sendiri, atau jangan-jangan Anda cuma berpura-pura telah menemukannya?

*****

Pencarian kebahagiaan adalah misi terbesar dalam kehidupan, meskipun sekali lagi, cara dan jalannya berbeda pada tiap orang. Tentu saja tidak mudah. Nah, sembari terus mencari sumber kebahagiaan tadi, atau sudah menemukannya tetapi masih under construction, mengapa tidak memutuskan untuk turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain, terutama mereka yang kita sayangi. Syukur-syukur bisa merangkak ke level yang lebih tinggi, terlibat langsung membantu mereka bahagia.

Tak perlulah setulus Bunda Teresa, sepemurah Ja’far bin Abi Thalib, atau orang-orang hebat yang mengesampingkan kepentingannya sendiri demi orang lain. Bisa berbahagia atas kebahagiaan orang-orang terdekat kita pun sudah sangat baik.

Jika suami bisa merasakan kebahagiaan melihat antusiasme istrinya berbelanja, maka menungguinya shop till drop—plus menerima tagihan credit card yang membengkak—akan terasa menyenangkan, atau setidaknya tidak begitu menyebalkan.

Pun istri yang bisa merasakan fanatisme suaminya kepada sebuah klub sepak bola di Eropa sana, tak akan keberatan menemaninya suaminya di nonton siaran bola, meski tetap saja dia tidak mengerti, mengapa orang-orang itu ngotot memperebutkan sebuah bola, padahal di pinggir lapangan masih sangat banyak bola lain.

Tidak cuma dalam hubungan suami istri, pada setiap bentuk hubungan dengan kedalamannya masing-masing, saling membahagiakan pasti lebih menyenangkan daripada sibuk mencari kebahagiaan sendiri-sendiri. Tidak perlu ada pihak yang merasa harus selalu mengalah, karena dia memang dengan rela memberi jalan, membantunya berbahagia, dan yakin, gilirannya diberi jalan, akan tiba esok atau lusa.

Jika kita bisa ikut merasakan sensasi hangat di dada saat menyaksikan film romantis yang happy ending, atau ikut terharu dengan mata berkaca-kaca melihat seorang remaja, yang entah berasal dari mana, memenangi kontes pencarian bakat di televisi, masa sih kita tak bisa merasakan kebahagiaan orang-orang di dekat kita, mereka yang membutuhkanmu lebih dari siapapun, yang tanpa setahumu, sering membisikkan namamu dalam doa-doa yang lirih…

Kita memang tak selalu berbahagia, kadang impian indah itu masih under construction sampai waktu yang belum ditentukan, tetapi kita selalu bisa membahagiakan atau setidaknya ikut berbahagia dengan orang lain. Jika benar-benar mau terlibat secara utuh, pada akhirnya kita akan bahagia sepenuh-penuhnya, seolah itu kebahagiaan milik kita sendiri, sejak semula, entah sampai bila.

Yang under construction tadi? Mmm, udah lupa tuh!

14 thoughts on “Kebahagiaan Under Construction…

  1. Gendrayana

    bahagia dalam bahasa jawa adalah ‘begja’, tapi kata itu semestinya diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi beruntung. jadi mungkin maksudnya orang yg pandai bersyukur itulah yg bahagia menurut orang jawa.

    Balas
  2. lovepassword

    Jika kita bisa ikut merasakan sensasi hangat di dada saat menyaksikan film romantis yang happy ending, atau ikut terharu dengan mata berkaca-kaca melihat seorang remaja, yang entah berasal dari mana, memenangi kontes pencarian bakat di televisi, masa sih kita tak bisa merasakan kebahagiaan orang-orang di dekat kita, mereka yang membutuhkanmu lebih dari siapapun, yang tanpa setahumu, sering membisikkan namamu dalam doa-doa yang lirih…===> Mantaps….He he he….

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s