Tertawalah Saat Waras, atau Kau Harus Melakukannya Saat Sudah Gila

Tawa adalah (salah satu) anugerah terindah buat manusia dalam kehidupan. Tidak saja indah, tawa juga bingkisan eksklusif untuk kita, anggota spesies Homo Sapiens.

Well, beberapa hewan memang bisa mengeluarkan suara mirip tawa. Tetapi sepertinya itu bukan tawa yang mengandung keceriaan, mengendurkan saraf, dan menyegarkan pikiran, seperti yang kita alami. Sotoy to the max!

Kuntilanak, menurut cerita beberapa kerabatnya, juga suka cekikikan. Tetapi melihat wajahnya yang suram dan seram itu, tampaknya itu juga bukan tawa yang baik dan benar, dan memang belum dapat sertifikat SNI.

Tuhan–ops, mulai bawa-bawa Tuhan–kerap digambarkan sebagai Penguasa Yang Serbaperkasa, dengan sorot mata yang lebih tajam dari matahari, dengan kekuatan tiada tandingan dan ketegasan yang tidak bisa ditawar-tawar. Teks-teks di kitab suci, kadang membuat kita memahami Tuhan begitu jauh dari yang lucu-lucu, Maha Pencipta, yang tak punya selera humor. Padahal, Dia kan punya segalanya?

Tetapi sejak dulu saya ragu Tuhan tak punya selera humor. Bukti paling gampang, desain tubuh pria. Kalau wanita dibuat begitu artistik, dengan lekukan yang begitu terukur dan, ahh deh pokoknya, menurutku Dia mendesain tubuh pria, kami-kami ini, begitu lucu, dengan payudara yang terbengkalai, buah-buah mungil yang menggantung tanpa daya…

Gaya hidup tak terpuji, dan keengganan berolah raga, bahkan membuat tubuh itu makin lucu lagi. Melihat wanita tanpa busana, pria bisa kehabisan napas karena terpesona, darah di otaknya menghambur ke titik tertentu, dan serta merta otak tadi tak bisa berfungsi. Nah, melihat pria bugil, wanita juga sering kehabisan napas sih, karena tertawa. Tak heran, kalau saat bercinta, wanita lebih suka memejamkan mata. Jika tidak, konsentrasinya pasti pecah menjadi tawa, dan bisa diduga, makhluk di atasnya itu akan merasa terhina.

Mulai ngawur. Ok, kembali ke jalan yang benar. Begitukah tandus dan gersangkah Dia? Apakah “wajah”-Nya keras, tanpa pernah menyunggingkan senyum? Ntahlah. Konon Tuhan punya bisikan tersendiri kepada setiap hati, dan karenanya kita boleh mencintai dan merindukan-Nya dengan cara kita sendiri, membayangkan “wajah”-Nya sampai ke batas imajinasi.

*****

Begitu manusia lahir, hal pertama yang dilakukannya, eh kita lakukan ding, adalah menangis keras. Ada yang bilang, itu tanda kesedihan karena melihat dunia yang begitu ganas. Tapi saya tak percaya teori yang suram-suram seperti itu. Lebih masuk akal kalau tangisan bayi adalah sejenis tes vokal, ujicoba pita suara, karena di dalam rahim yang serba kedap, dia tidak mungkin menjajal bakat tarik suara itu.

Tapi whateverlah. Yang jelas, setelah tangisan, hal berikutnya yang dilakukan manusia yang baru lahir adalah tertawa. Tawa yang terdengar begitu jernih, ketika pita suara itu belum pernah digunakan untuk berdusta, dan bibir itu belum pernah disentuh bibir lelaki pendusta atau wanita penggoda. Ketika asupan yang mengalir melalui lehernya hanya air susu yang bersumber dari dada ibunya yang penuh cinta. Tawa bayi adalah musik dari langit, suara dari surga.

Bahkan seorang Jenghis Khan, si penakluk yang buas, yang hanya gara-gara tehnya terlambat diantar dia akan memancung pelayannya, pun terpana mendengar tawa bening Ogedei, bayinya yang baru lahir. Andai Om Jenghis punya akun twitter, dia pasti sudah membuatnya jadi status: Gila, ketawanya Oged bening banget. Lu kudu denger nih guys! Dan jutaan rakyat yang ditaklukkannya pun dengan terpaksa meng-RT-nya.

Nah, jika memang kita dikirim ke dunia yang serba gersang dan bergelimangย  derita, mengapa software tawa sudah di-instal sejak awal, sehingga kita tidak harus mendownloadnya setelah dewasa? Jadi ingat, orang-orang tua di kampung saya bilang, bayi tertawa karena di dekatnya malaikat sedang melucu dengan banyolan berkelas surga. Apa itu banyolan berkelas surga, bahkan Om Gugel pun masih bingung. Mudah-mudahan kita masuk surga, sebab di neraka cuma ada lelucon neraka. Di sela canda itu, malaikat juga meyakinkan kita, bahwa hidup pada dasarnya menyenangkan, asal kita tak terlalu banyak menyimpan keinginan.

Bujugbuneng! Panjang amat pengantarnya, sampe Jenghis Khan dan malaikat terlibat segala! Padahal pokok pikiran yang mau disampaikan cuma: tawa itu sangat penting! OK, Anda boleh skip 11 paragraf di atas๐Ÿ˜›

*****

Karena tawa begitu penting, maka segala upaya untuk menghasilkannya; melucu, menyaksikan acara lawak di tv, baca komik lucu, nonton pilem komedi dan sebagainya, tidak bisa dianggap sebagai sesuatu yang main-main, pekerjaan remeh yang tak ada substansinya.

Kadang kita begitu sibuk mengejar hal-hal “besar” dalam kehidupan, sehingga kita tak punya waktu bagi hal-hal “kecil”, padahal kebahagiaan sejati seringkali muncul dari hal-hal kecil. Misalnya, tagihan kartu kreditmu kecil.

Gandhi, tokoh mengagumkan itu pernah mengakui, kalau saja dia tak punya selera humor, dia pasti sudah bunuh diri sejak lama. Dalai Lama, legenda hidup yang tak kalah mengagumkan, juga pernah bilang bahwa serius belum tentu cermin kearifan, lucu belum tentu tanpa pencerahan.

Nabi Muhammad SAW, Baginda anutan kaum muslimin, sosok yang dikisahkan penuh kesungguhan, yang sering menangis ketika shalat di penghujung malam, juga pernah bercanda. Dalam sebuah riwayat yang shahih, beliau dikisahkan pernah “menggoda” sahabat sekaligus kerabat dekatnya, Ali bin Abi Thalib, telah memakan kurma dengan kulit-kulitnya. Dan beliau pun tertawa, sampai terlihat deretan putih giginya.

Di sisi lain–sepanjang yang saya tahu–Yesus juga menginginkan manusia lepas dari himpitan penderitaan, bebas dari segala tekanan, dan mengabarkan bahwa kedatangannya membawa kegembiraan.

Jika Anda tidak tertarik dengan figur-figur religius, monggo melihat kupu-kupu menari di antara kelopak bunga, menatap matahari muncul malu-malu di balik pundak Gunung Bromo, emang gunung punya pundak ya?, atau mendengar ombak yang menghempas malas pecah di bibir pantai Senggigi, pendeknya menatap wajah bumi yang menawan ini, belum lagi memandang kilau gemintang di angkasa, dan semburat cahaya bulan yang membuat pungguk gagap terpesona. Melihat semua itu, mustahil Tuhan dan semesta, tak menginginkan kita berbahagia.

Kalau orang bijak menyarankan kita untuk sesekali menangis, karena air mata bisa membasuh dan membersihkan sukma, maka orang yang superbijak mengajak kita untuk sering-sering tertawa, karena gelak tawa akan memberi napas baru bagi jiwa. Dengan sukma yang bersih, dan napas baru dalam jiwa, maka tak akan ada lagi perih, kaupun menjadi akrab dengan bahagia.

Tentu saja, tertawalah jika ada alasan yang memadai dan “legal” untuk itu. Tertawa sendiri tanpa sebab, akan membuat keluargamu cemas. Juga sangat tidak terpuji, tertawa karena kesialan dan penderitaan orang lain. Kebahagiaan sejati, mustahil bersumber pada kesedihan orang lain.

Dan untuk membantu jiwa-jiwa yang lelah untuk sejenak bebas dari sergapan kehidupan yang terus memburu, menemani mereka yang mungkin kesepian untuk menepis sunyi yang mencekik, akun seperti jokefisien dibuat.

Ya, cuma akun joke amatiran, yang tidak selalu–atau malah jarang?–lucu. Kadang postingannya basi, sampai-sampai Anda akan mengira joke itu saya salin dari kitab-kitab kuno di museum. Begitupun, mudah-mudahan ada satu dua yang mendekati lucu, banyolan singkat yang berhasil membuatmu tergelak, atau setidaknya tersenyum kecil, agar saraf-saraf yang tegang itu bisa mengendur, dan otot yang kendur itu bisa tegang.

Pada dasarnya, kehidupan memang indah, tetapi pada cabang-cabangnya, ada saja hal-hal menyebalkan. Mencintai memang membuatmu bahagia, namun dalam praktiknya, kadang kita lelah, misalnya ketika si beliau mendadak menjadi rumit, dan mencoba memahaminya sama seperti berusaha membaca buku filsafat berbahasa Latin.

Entah mengapa, saat tertawa, hal-hal yang menyebalkan, masalah yang berkerumun di dalam pikiran itu, dengan sendirinya menyingkir. Tawa memang tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi itu menegaskan bahwa kita tak akan begitu saja kalah.

Ada kawan yang bilang, masalah itu gengsinya tinggi. Kalau kita melupakannya, dia juga akan melupakan kita. Dia juga tak akan datang, kalau kita tidak mengundang. Sebaliknya, semakin kita beri perhatian, semakin dia merasa besar. Dan ketika Anda sampai merasa bahwa masalahmu adalah yang terbesar di dunia, itu berarti dia sudah mengalahkanmu.

*****

Kalau boleh menyarankan, agar joke-joke itu, dan joke di manapun, tidak saja efisien tetapi juga efektif, halah bahasanya!, bukalah pikiranmu, karena lelucon susah masuk ke pikiran yang tertutup. Hilangkan prasangka buruk bahwa lelucon itu bermaksud menghinamu atau siapa pun. Kita bahkan tak saling mengenal, bagaimana mungkin aku ingin menyakiti hatimu? Itu tidak mungkin, oh Tuhan, sungguh tidak mungkin.

Saya juga sering mendapat reply dari teman-teman, bahwa jokenya tidak logis. Lelucon memang tidak selalu terikat pada logika. Bahkan banyolan sering jadi sia-sia ketika disambut dengan rasio yang siaga.

Lezatnya makanan tak semata ditentukan kualitas menu, tetapi juga tingkat rasa laparmu. Begitu pula suksesnya joke, tidak melulu karena kelucuannya, tetapi seberapa hausnya penikmatnya akan keceriaan, dan seberapa positifnya Anda memahami kehidupan, dan menerima Tuhan yang menghidupkan. Kelihatan ya, PD saya menipis :))

Baiklah. Marilah kita tertawa selagi waras, atau nanti ketika segalanya sudah terlambat, kita akan tertawa ketika sudah terlanjur gila. Mumpung masih jadi orang, sempatkanlah terbahak, atau nanti situ cekikikan ketika sudah jadi kuntilanak.

Serius nih… Karena tawa adalah jarak terdekat di antara dua hati, kumohon jangan menjauh. Jika engkau menjauh, bagaimana mungkin kita bisa bersetubuh dengan bersimbah peluh berbagi keceriaan yang utuh, penuh, dan menyeluruh, tertawa bersama dengan puas, lepas, tuntas, dan lampias, ketika ences kita berhamburan seperti tampias.

—————————————-

Alhamdulillah, terpujilah Tuhan, akhirnya blog ini bisa terisi lagi, setelah dua bulan mati suri. Tidak bisa menulis bagus, setidaknya masih bisa menulis.

28 thoughts on “Tertawalah Saat Waras, atau Kau Harus Melakukannya Saat Sudah Gila

  1. Kaoshitam

    Hahahahaha, nais post!!!
    Seorang teman pernah berkata, “orang yang paling bahagia adalah yang punya selera humor tinggi, yang bisa tertawa gara2 hal2 yang paling simple, bahkan kadang menertawakan kesedihannya sendiri.”
    haha,kalo kata2 legendaris dari Warkop DKI mah, “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”

    Balas
  2. tuannico Liebert

    waw. tuLisan ini bagus sekaLi om..

    tawa dan senyum adaLah teman yang mendekatkan pada kebahagiaan.

    tapi Lawakan/LeLucon yang bersifat mengejek dan menjatuhkan orang Lain, tidak Lah baik, seperti yang banyak beredar di siaran teLevisi kita. *haLah

    Balas
  3. wahyuseptiarki

    Wah, bang Toga akhirnya nulis lagi.๐Ÿ˜€

    Jujur, saya sendiri ini paling suka jadi mood maker di kalangan teman2. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Nangis perlu, tapi tawa memang yg terbaik. Dan, bener banget, bang, emang butuh selera humor tinggi (pikiran tertutup-bang Toga) biar ngerti humor saya yg kadang2 jayus. Yang saya tahu bahwa tawa pun sekarang jadi salah satu bentuk terapi jiwa.๐Ÿ™‚

    Woghhh, panjang! :)) :)) :)) *tawa dulu ahh*

    Balas
  4. Sabrina

    Welcome back Bang..๐Ÿ™‚

    Awesome…. Postingan keren.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€
    Mungkin ilham setelah “mati suri” ya bang…๐Ÿ™‚

    Balas
  5. Rahasan

    Super sekale Bang Toga….
    Udah bolak-balik kesini, bharap ada menu bru dri abng. Eh, bru muncul neh.
    Byasanya postingan yg membuka hati, tp skarang postingannya juga membuat gigi terbuka lebar.๐Ÿ˜€
    mantab dah bang Toga.. Mantab-mantap-mantaab…..

    Balas
  6. Armeyn

    wow, tulisan yang inspiratif banget.. kebetulan saya udah follow @jokefisien sejak tahun 1985 yang lalu (saat itu sang burung twitter sedang direncanakan pembuatannya oleh orang tuanya)..๐Ÿ˜€

    setelah berpikir keras, mengira2 siapa kira2 orang jenius di balik tweet2 konyol ini, akhirnya saya menemukan juga sang pencipta : ANDA. Wow.. Sejujurnya, joke2 efisien seperti ini, layaknya mendengarkan ocehan seorang motivator ya Bang : sebenernya kita udah tau, cuma perlu diingetin lagi aja. Dan efeknya ternyata mirip2 juga : kalo sama motivator kita manut2 dan merasa termotivasi lagi, kalau sama joke2 beginian kita jadi ketawa2 lagi dan setidaknya senyum simpul menghiasi muka.๐Ÿ™‚

    Sungguh, saya salut sama anda. Dan terimakasih juga karena tulisan ini sudah begitu menggugah saya. Seperti orang haus yang dikasi air kelapa pake es. Dan gulanya bukan biang gula. Mantap!

    Horas bang, salam dari Sinaga! Orang Batak emang ngga ada matinya kalo urusan ngetawain diri sendiri dan orang lain!๐Ÿ˜‰

    Balas
  7. chopie

    hooo..mantep bang…tertawa beda sama senyum kan ya?? kalo senyum bisa di setiap kondisi..tapi kalau yang bener-bener tertawa lepas..cuman bisa di saat-saat tertentu… ^_* satu lagi, suka sama kata-kata ini : serius belum tentu cermin kearifan, lucu belum tentu tanpa pencerahan…:)

    Balas
  8. Dhany sungai guntung

    Mungkin aku orng yg terahir yg mengunjung stus ini. . .kyak ya dari 30 januari 2011.sampe tgl berapa ini q lupa/april/2012,bru skrang ada yg komen. Ya itu gue/aku/ente.hahahahahawkwkwkwkwkwkwk
    (tertawalah anda sepuas2ya dan sekenceng2ya,biar anda di sangka gila oleh tetangga)

    RIAU-pekan baru+sungai guntung+jln:darussalam+no:42+RT:2 RW:entah berapa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s