Sudah Siap Menikah?

“Sudah benar-benar siap untuk menikah?”

What? Duh, kakak sepupuku yang satu ini rupanya tidak begitu mengenal aku. Aku orang yang sangat luwes dalam pergaulan, bahkan di kalangan teman-teman, aku diakui punya bakat alami soal ilmu jiwa. Gaya bicaraku memang memukau. Koleksi cerita lucuku segudang. Jika ada temen-temen yang “bersengketa” aku selalu menjadi jurudamai yang efektif. Pokoknya, ngga ada aku ngga rame deh! Apalagi hanya mengurusi satu orang?

Dan di atas segalanya, aku sangat mencintai wanita itu, hingga (rasanya) apapun akan kulakukan, agar jangan sampai kehilangan dirinya. Serius!

Eh, tapi aku tidak boleh terlihat terlalu yakin atau menyepelekan kekhawatirannya. Itu tidak sopan. Bagaimanapun dia lebih tua, dan sudah lebih dulu menikah. Maka dengan intonasi “merendah” aku jawab, “Insya Allah, Bang.”

“Ya, jawaban bagus. Insya Allah. Mudah-mudahan kau memang siap,” ujarnya sembari menepuk-nepuk bahuku.

Sial! Dia memang benar-benar menyepelekanku. Tatapan matanya itu lho…

*****

Tidak perlu waktu lama buatku untuk kemudian menyadari, bahwa gelar profesor ilmu psikologi sekalipun tak bisa menjamin seseorang berhasil dalam pernikahannya. Begitu pula jika Anda seorang MC paling laris, pelawak paling memukau, entertainer paling sukses, dst.

Menikah ternyata bukanlah gerbang menuju kebahagiaan, tetapi medan perang, di mana kemenangan hanya bisa diperoleh dengan pengorbanan. Dan kita manusia, tidak setiap saat siap berkorban. Juga sangat manusiawi, jika dalam setiap perselisihan, kita akan merasa menjadi pihak yang harus selalu mengalah, dan oleh karenanya berhak pada suatu titik, untuk merasa lelah. Yup, merasa selalu mengalah, padahal entahlah… Halah!

Di saat kau bahkan tak selalu bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kau harus berbagi kehidupan dengan seseorang yang lain, dengan semua latar belakangnya, riwayat pengalamannya, keyakinan-keyakinannya, dan banyak sisi lain dirinya, yang sekadar “cuplikannya” pun kau tak pernah tahu.

Menjelang tahun ke-10 pernikahanku saat ini, pertanyaan kakak sepupu itu masih saja sering mengiang di kepala. “Sudah benar-benar siap untuk menikah?” Senyum tipisnya saat mengucapkan itu pun semakin kuat terekam di benak, dengan resolusi supertinggi.

Dan memang hingga detik ini, kami berdua masih harus berjuang sambil terus belajar, silih berganti berkorban untuk menyelamatkan pernikahan ini. Tidak selalu mudah, tapi juga tidak senantiasa sulit. Kadang kami ngakak sampai ngences, di lain waktu stres sampai lemes. Kadang aku menjadi “realis”, kasih saran “Jangan Memeluk Terlalu Erat,” tetapi di lain waktu mendadak “idealis” dan memekik lantang, “Tanpa Luka, Cinta Bukanlah Cinta“. Tidak konsisten memang, “persis” seperti kehidupan yang harus aku, dan kita semua, hadapi. :))

Yang jelas, aku malu mengingat suatu hari dulu, pernah menyepelekan keraguan kakak sepupu itu, walaupun hanya di dalam hati. Dan jika saat ini dia kembali bertanya, apakah pernikahan kami akan bertahan, jawabanku pasti akan tetap sama, “Insya Allah,” tetapi kali ini, benar-benar dengan segala kerendahan hati, bahkan sedikit kecemasan.

20 thoughts on “Sudah Siap Menikah?

  1. boneth

    mudah2an tetap bertahan…

    saya dulu waktu ditanya bgtu sm kakak saya, malah saya jawab dengan mantap, “Yakin!”

    makin kesini..
    saya makin yakin.. bwh saya menikah dengan orang yg tepat..

    mudah2an akan bgtu terus hingga bertahun2 kedepan..

    seperti jg pernikahan bang toga.

    itu doa saya..

    makasih atas pengetahuan baru ini bang..

    Balas
  2. Siu Elha

    aq msh ingat fatwamu bahwa musuh cinta bukanlah perselingkuhan ato yang lainnya bang, tapi “WAKTU”

    Congrat, tahniah, selamat smg pernikahannya langgeng senantiasa bang, jangan cemaslah bang, master seperti ente pasti punya segudang cara untuk membuatnya selalu indah… dan berkah…🙂

    salam buat semua orang-orang tercinta disekelilingmu…. cheers!
    😀

    Balas
  3. zulhaq

    selamat memperingati 10 tahun pernikahannya, bang.
    mungkin coretan ini akan terngiang pada kepala saya, sampe saat nanti. Entah sampai kapan itu. lah, nikah aja belum. belum siap, belum ada calon, belum belum *halah malah curhat* :))

    yah. siapapun memang gak bisa menjamin keberhasilan atas pernikahan. karena sewaktu2 keadaan bisa berubah tanpa mengenal siapa dan dimana.

    Balas
  4. devieriana

    mungkin awalnya kita yang nggak boleh takabur ya Bang.. wong membina rumah tangga itu emang bukan hal yang mudah. Menyatukan 2 pikiran & 2 hati dari 2 orang yang beda isi kepala & 2 isi hati yang berbeda itu suatu perjuangan. Jadi.. Lanjutkan!😀
    (moga-moga nyambung):mrgreen:

    Balas
  5. kepikbelang

    Kita mungkin pernah jatuh cinta, dan kitapun bisa bangun cinta!
    Kalau cinta bisa jadi kata kerja kenapa ia harus jadi kata benda…

    Kalau kita pernah membangun cinta, ada saatnya cinta itu direhab, dipermak hingga terus menampilkan keindahannya…

    Selamat mencintai…

    Balas
  6. Hench

    Tidak perlu waktu lama buatku untuk kemudian menyadari, bahwa gelar profesor ilmu psikologi sekalipun tak bisa menjamin seseorang berhasil dalam pernikahannya. Begitu pula jika Anda seorang MC paling laris, pelawak paling memukau, entertainer paling sukses, dst.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s