Bukan Hanya Tentang Nanti di Sana, Tetapi Juga Bagaimana Kini, di Sini

Walaupun jelek, bahkan di mata saya sendiri yang menulisnya, artikel Plus Minus Konsep Tuhan “berhasil” menuai beberapa komentar yang menarik. Ada yang, dalam kemasan bahasa yang sangat elegan, menilai tulisan itu sesuatu yang sia-sia, ada pula yang menyesalkan mengapa saya ikut arus. Tapi ada satu yang menggelitik.

untuk 1400 apalagi 2000 tahun yg lalu, konsep2 yg dibawa dua agama ini mmg tergolong terobosan revolusioner. tp utk saat ini, semua itu sdh sangat kuno. (agus)

Sayang, Pak Agus ini tidak menjelaskan lebih lanjut kuno seperti yang dia maksud, meskipun komentator lain sudah mempertanyakannya.

Saya pun hanya menduga-duga. Mungkin kawan kita itu termasuk orang yang menganggap konsep dan ajaran-ajaran yang dibawa agama, sudah tidak relevan lagi dengan kekinian. Mereka biasanya membandingkannya dengan perkembangan sains dan teknologi, yang memang berkembang dengan sangat cepat. Apa yang diyakini sebagai “kebenaran” ilmiah 100 tahun lalu, sekarang bisa terasa seperti cerita lucu.

Sebagai orang yang memeluk salah satu agama, dan menghormati semua agama, keyakinan, dan jalan spiritualitas lainnya, saya tentu tak bisa setuju dengan anggapan itu. Masa sesuatu yang saya tahu sudah tidak relevan masih saya peluk-peluk juga?

Agama bukan kuno, tak relevan, out of date, ketinggalan zaman, jadul, dsb, tetapi memang sering terdengar seperti itu. Penyebabnya barangkali, karena mereka yang (merasa) memahami ajaran agama, sering–atau malah selalu?–bicara seperti manusia dari masa lalu. Mereka mendalami teks-teks agama, tetapi cenderung melewatkan perkembangan kekinian. Malah ada pula, yang tidak saja melewatkan perkembangan dan perubahan, tetapi berusaha menolaknya. “Jangan menambah-nambahi, ikuti saja jalan mereka yang terdahulu, biar kamu sekalian selamat.”

Di kalangan muslim, misalnya, ada yang menamakan dirinya golongan Salafy, yang berkeyakinan orang-orang yang hidup pada zaman Nabi Muhammad SAW adalah generasi terbaik dari umat Islam, oleh karenanya mereka harus diikuti sepersis mungkin. Saya sendiri yakin, semua kaum muslimin juga setuju, mereka adalah yang terbaik. Bagaimana tidak, Rasulullah ada di tengah-tengah mereka, yang bisa segera memberi jawaban atas pertanyaan apapun dari pengikutnya. Yang jadi persoalan adalah, meniru sepersis mungkin itu. Soal ketaatan beribadah, keikhlasan, tidak silau oleh harta, dsb, tentu saja wajib diikuti, atau setidaknya menjadi inspirasi dan motivasi. Tapi apa harus naik unta ke mana-mana, sikat gigi pakai siwak, menjadikan kurma sebagai makanan utama, dsb?

Akan tetapi, walaupun kelompok seperti ini lebih umum ditemukan di kalangan muslim, di agama lain ternyata ada juga. Saya pernah nonton Oprah, yang menayangkan liputan eksklusif tentang Yearning For Zion Ranch, sebuah perkampungan seluas 7 km2, dengan 700 warga. Mereka mengisolasi diri dari dunia luar, yang dianggap sudah sangat jauh dari Kristus.

Perkampungan itu sangat hening, karena tak ada barang elektronik. Mereka makan dengan bercocok tanam, membuat sendiri roti dan bahan makanan lainnya. Para wanita “bergaya” persis sama, pakaiannya, tata rambutnya. Tak ada sentuhan kosmetik apapun. Singkat cerita, mereka (berusaha) hidup seperti di masa Yesus, 2.000 tahun lalu.

*****

Ulama dan pemuka agama lainnya, sering mengeluhkan minimnya minat generasi muda untuk mendalami agama, apalagi hidup “sesuai” dengan tuntunan agama. “Moral generasi muda kita sudah rusak,” kecam mereka. (Emang moral generasi tua masih bagus ya, Pak?)

Padahal bukan keluhan dan kecaman yang diperlukan dalam menghadapi kenyataan itu, tetapi pertanyaan: mengapa agama tidak kelihatan menarik bagi anak-anak muda, dan manusia masa kini, secara keseluruhan. Pelajar dan mahasiswa lebih suka baca buku tentang komputer daripada Al-Qur’an atau Alkitab. Lebih memilih nonton konser musik daripada pengajian. Terobsesi dengan Edward Cullen, sosok vampir yang ganteng itu, dan nyaris tak tahu siapa saja empat orang khulafaur rasyidin, atau 12 orang murid Kristus.

Menurut saya, itu karena agama terlihat seperti, terlihat seperti ya, sesuatu dari masa lalu, tidak menyediakan jawaban bagi persoalan kekinian. “Masalah kami ada di sini di bumi, mengapa agama bicara tentang langit?” Lebih gawat lagi, di mata anak-anak muda itu, agama seperti begitu benci kepada kehidupan, karena menolak segala yang asyik dan menyenangkan. Agama seperti memutuskan, bahwa kehidupan dan dunia harus kalah.

Padahal tidak juga. Agama juga bicara tentang kini di sini. Agama juga menginginkan manusia hidup berbahagia di dunia, karena hanya dengan itu perasaan bersyukur akan muncul, dan kesadaran akan kasih sayang Tuhan menjadi makin kuat. Agama tidak pernah bermaksud merampas kehidupan dari kita. Agama juga tidak anti perubahan dan kemajuan, karena jelas-jelas meminta kita belajar, mencari ilmu.

Biarlah mereka, yang secara “penampakannya” sangat saleh dan dekat dengan Tuhan, memahami agama sebagai ajaran yang “mati” dan tidak memberi ruang kepada perkembangan serta potensi akal dan pemikiran. Di sisi lain, kita juga berhak memahami agama sebagai ajaran universal yang selalu relevan, karena memang mengatur nilai-nilai dasar kehidupan, dan mempersilakan kita berkembang dan maju dalam detil dan aspek teknisnya.

Biarlah bagi mereka agama hanya bicara tentang nanti, tetapi kita kita juga berhak mendengar suara agama soal kini, di sini. Setiap kita diberi hati, di mana kita bisa merasakan Tuhan, dengan cara kita sendiri.

 

12 thoughts on “Bukan Hanya Tentang Nanti di Sana, Tetapi Juga Bagaimana Kini, di Sini

  1. yangindahyangenak

    agama itu kan ada di sisi batin sebagai penggeraknya, sementara batin manusia itu adalah ruh, hakekatnya tidak pernah berubah…

    oya, ada dua hal yg bisa ditangkap dari sebuah kaca sejarah:
    1, hal yang selalu ada dan tidak pernah berubah, yaitu agama, ideologi, keyakinan, isme
    2. hal yang selalu berubah, yaitu teknologi, kebudayaan….

    maka agama itu tidak bisa hilang dan tidak bisa berubah pada sisi bathiniyah (aqidah, ushuluddin, akhlaq, norma, etika, ibadah)

    yang berubah hanya pada sisi yang terikat dengan kemajuan jaman, yang terikat dengan aspek jasad….misalnya bahan baku baju…bahan baku bangunan tempat ibadah, kendaraan yang dipakai buat ibadah…

    Balas
  2. Ryan Shinuraz

    Horas!

    Kalau begitu lae, artinya agama harus bisa masuk ke setiap budaya, perkembangan teknologi, sosial, dll ya. Sama seperti masuknya budaya batak ke gereja. Tapi mungkin akibatnya banyak diantara kita yg menjadi tidak bs membedakan mana ritual agama dan adat.

    Tapi lucu juga rasanya lae kalau ada ceramah agama di konser Linkin Park?

    Balas
    1. hh

      Lae Sinurat, bukannya berseberangan antara agama masuk ke setiap budaya dengan budaya batak masuk ke gereja?

      Boleh lae jelaskan sedikit budaya yang mana yang masuk ke gereja itu?

      Horas.

      Balas
  3. luvaholic9itz

    saya saya merasa anak muda, apakah moral generasi saya telah hancur ??
    tidak merasa tuh :)) :))

    mmang sekrg ini gak banyak yang bisa menyampaikan ajaran agama denga asik. asik seperti musik yang berisik.

    dan jujur saja setiap kali saya melihat anu, para fanatis agamis itu. yang ada di kepala ini gak lebih dari. serem amat sih mereka itu, banyak amat sih aturannya. gw kan sedang berusaha menjadi hamba yang seutuhnya beragama. koq diprotes melulu kerjaannya.

    jdi gimana donk bang
    *mumet

    Balas
  4. Siu Elha

    bagi saya *yg anak muda :P* agama adalah sebuah tali untuk berpegangan dalam rimba bernama kehidupan, dimana segala kebebasan yang absolut itu pada titik nadirnya akan menjadi tidak asik, disitulah peran agama menjaga keseimbangannya, untuk menjadikan segalanya asik….😀 (beuh bhsnya)

    justru skrg ini sy ngerasa bangga dgn anak2 muda *spt saya :P* krn pemikiran2 mereka yang ajaib ttg agama. lebih membumi krn dalem sekali sekaligus melangit krn jangkauan pemikirannya yg ajaib td.

    saya salut kpd anak2 muda yang menjadikan agama sebagai identitas ruhani mereka, artinya bukan simbol-simbol yg melekat di diri mereka yg menunjukkan mrk beragama, tetapi lebih kepada keteguhan sikap hidup mereka thd nilai agama. Bahwa agama tidak sekedar menjadi simbolisasi tetapi sdh merupakan denyut nadinya, sikap hidupnya, bahwa mrk interprestasi dr agama itu sendiri.. (beuh kok jd panjang ya?)😀

    krn saya muslim, smg anak2 sy kelak jiwanya adlh semesta Laailahaillallahu dan terbimbing dalam akhlaq Muhammad Rasulullah

    Amin…

    Balas
  5. zulhaq

    Saya gak bisa berkata-kata (maksudnya berkomen) panjang disini. Pokoknya mengikuti yang hak dan meninggalkan yang bathil (mudah mudahan). Dulu, Kini, Nanti, adalah satu kesamaan yaitu masa. Satu kesamaan yang punya awal dan terus berkembang.

    *komen kok begituh sih zul* :))

    Balas
  6. zendy

    ni posting yg menarik nih gan !
    saya sudah membaca “konsep” yg anda jabarkan sebelumnya

    sedikit banyak, ada persamaan pemikiran, saya dengan agan !

    Balas
  7. apank

    Agama adalah sumber akal fikiran, yng d dlm nya bnyak skali aturan2 yng d tntukan oleh para pejalan sepiritual,bila mna kita mengetahui esensi dri isi dari agama itu smua, maka kehidpan yng kita jlnin d muka bumi sera indah dn memahami memang benar adanya Tuhan, dn sang penguasa jagat raya ini…
    Kepanjangan ya komen nya…
    Hanyainspirasi.com

    Balas
  8. Dallas

    Padahal tidak juga. Agama juga bicara tentang kini di sini. Agama juga menginginkan manusia hidup berbahagia di dunia, karena hanya dengan itu perasaan bersyukur akan muncul, dan kesadaran akan kasih sayang Tuhan menjadi makin kuat. Agama tidak pernah bermaksud merampas kehidupan dari kita. Agama juga tidak anti perubahan dan kemajuan, karena jelas-jelas meminta kita belajar, mencari ilmu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s