Kekuatan Penghargaan (dan Penghinaan)

Orang boleh mengatakan bahwa dia lebih menyukai kritik, karena itu bisa membantunya memperbaiki kesalahannya. Tapi yang sebenarnya dia, dan kita semua, butuhkan adalah pujian, apresiasi, penghargaan, pengakuan.

Sering, terlalu sering malah, kita mendengar nasihat agar tak pelit memuji anak. Meski Anda tak berhasil menebak gambar apa yang sedang dibuatnya, katakan saja itu gambar yang bagus. Dengan sungguh-sungguh tentu saja. Mereka bisa lho merasakan kalau pujian itu ecek-ecek. Tapi nggak perlu juga sampai mengadopsi gaya Pak Tino Sidin.

Dan bocah-bocah itu memang tak pernah sungkan menunjukkan keinginannya untuk dipuji. “Lihat deh lukisan Ade, bagus ‘kan Mah?” tanyanya, yang sebenarnya mirip penodongan agar kita menyerahkan pujian, sesegera mungkin. Saya kira, kalau si Ortu masih cukup waras, dia akan mengatakan hal semacam, “Wah, baguuus banget!” Walaupun kadang kita tak sadar mementahkan pujian itu, dengan bertanya, “Eh, itu gambar apaan?” Atau malah dengan sok tau bilang, “Duh, gambar gunungnya bagus deh.” Dan si Anak kemudian protes, “Ih, Mamah, ini kan gambar dinosaurus!”

Pujian (dengan kesungguhan) akan membuat binar-binar kebanggaan memancar terang di mata bening itu. Entah berapa banyak penelitian yang menunjukkan, bahwa anak yang dibesarkan dengan apresiasi, akan menjadi manusia yang lebih berkualitas–dalam banyak aspek–di banding mereka yang tumbuh tanpa penghargaan. (Konon pula yang sering mendapat penghinaan).

Nah, kita, yang sudah besar dan berkembangbiak dan piawai membuat anak ini, juga tetaplah anak-anak itu. Yang berbeda kan usia saja.😀 Kita ini bocah-bocah yang sudah berumur, atau bayi lanjut usia.

Pujian bagi manusia mirip sinar matahari untuk tumbuhan. Kita tak bisa tumbuh, berbunga-bunga, dan berbulu berbuah lebat tanpanya. Seperti tumbuhan itu, kita membutuhkannya ketika masih kecil, remaja, tua, bahkan ketika hampir tiba di gerbang ajal.

Ketika seseorang yang Anda cintai sedang di ruas terakhir usianya, saat tubuhnya melemah, napasnya mulai tersengal, bisikkan padanya dengan segala cinta pada tiap tetes darahmu, betapa Anda merasa beruntung pernah memiliki dia dalam hidupmu, betapa kau tak akan pernah melupakannya. Bahwa kesalahannya tak ada artinya dibanding kebaikan yang diberikannya padamu, sehingga tak ada yang perlu dimaafkan.

Ya Allah, perkenankan aku, kelak di ujung usiaku, mendapat bisikan seperti itu…

Pada dasarnya manusia itu baik. Pasti ada hal yang bisa dihargai pada diri setiap orang. (Kalau nggak ada berarti dia belum orang, yang berarti Anda harus membantunya menuntaskan evolusinya yang belum selesai).

Apalagi seseorang yang dekat dengan kita, seseorang yang dengannya kita berbagi kehidupan, seseorang yang kita namai belahan jiwa, seseorang yang, ah, orang itulah pokoknya.

Eh, kayaknya nasihat ini cocoknya untuk saya sendiri ya… Saya hampir tak pernah mengucapkan terima kasih setiap kali menyantap hidangan yang disajikan istri. Lupa kapan terakhir mengatakan betapa beruntungnya saya bisa berbagi hidup dengannya. Betapa Angelina Jolie mendadak kelihatan biasa-biasa saja, tiap kali aku memandang senyumnya. Betapa tingginya level kecantikannya, sehingga kami dikaruniai buah hati yang guanteng dan cuantik, padahal di sisi lain, kualitas perwajahan saya, ya geto deh…

Sebenarnya pernah agak nelangsa juga, pas ada teman yang bilang, “Ini anak kau? Bah, buatan kau paten juga ya. Tapi dari mamaknya itu pasti.

Padahal sebagaimana hausnya saya akan pengakuan dan apresiasi darinya, pasti begitu pula dia dahaganya terhadap penghargaan dariku.

Gimana coba, pas Anda memberi hadiah kepada seseorang, makhluk sialan itu bahkan tak mau mengucapkan terima kasih. Kelihatan betul dia tak membutuhkan pemberian itu. Nah, kira-kira Anda masih mau nggak ngasih dia hadiah lain, besok-besok?

Life is the same way,” kata Ralph Marston. Untuk meraih lebih banyak karunia dari kehidupan, hargailah, berterima kasihlah untuk semua yang telah diberikannya padamu selama ini. (Tapi bukan berarti, Anda bisa mendapat lebih banyak istri atau suami, dengan menghargai pasangan yang sudah Anda miliki ya.)

*****

BEGITU dahsyatnya kekuatan penghargaan untuk membantu seseorang terus tumbuh, begitu pula hebatnya efek penghinaan untuk membuat siapa saja gugur dan layu. Tapi khusus yang satu ini ada sedikit beda. Bisa jadi seseorang yang Anda hina itu, akan berbalik menyerangmu. Dan hasilnya bisa ditebak, malah Anda yang gugur dan layu lebih dulu.

39 thoughts on “Kekuatan Penghargaan (dan Penghinaan)

  1. Praise The LORD

    Setuju… Nice post. Tapi ada jg sih yang nyebelin banget. Kayaknya kalo nggak dikasih tau, nggak bakalan berubah. Ya namanya jg kita punya emosi. And one more thing bro, jangan lupa mengapresiasi AKA memuji Tuhan. Praise The Lord. Syalom. GBU.

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      Tp ada jg loh yg bilang, ketika kita memuji setiap hal baik dalam kehidupan, itu juga berarti pengakuan terhadap Tuhan. Tentu saja terbatas kepada mereka yang memang mengakui Tuhan berada di atas segala-Nya. *mbulet.

      Balas
  2. desty

    “maaf”, “terima kasih”, dan “aku mencintaimu”
    konon itu tiga kalimat yang sepele, tapi maknanya dalam dan bisa berpengaruh dalam setiap hubungan

    Balas
  3. hh

    Yang kubaca adalah tulisan ini, tetapi yang terbaca adalah twitter 1 day ago: ■Terima kasih PLN, sudah mengembalikan malam ke wajah aslinya: GELAP!

    Ah, PLN, walau kau sudah berbulu, bahkan sudah beberapa kali mamupu, kayak anduhur, nasibmu itulah…….

    Balas
  4. luvaholic9itz

    ahahahhahh koq ya malah pengen ketawa, mungkin akibat stress berkepanjagan😆😆

    baiklah, respect more, thanks more, love more, get more, rich more lalu menjadi demy more:mrgreen:

    Balas
  5. bandit™perantau

    Setelah dipuji 9dan diakui) ada hal yang sering dilupakan manusia Pak…
    ada manusia yang jadi lengah setelah dipuji, ada yang makin waspada dan makin berusaha keras..

    dan juga, usaha untuk mendapatkan pengakuan itu…
    ada manusia yg saya kenal selalu berusaha mengupdate barang-barang miliknya supaya mendapat pengakuan dr orang lain… hape keluar, beli.. blekberi keluar, beli… android keluar belii… hehehehe

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      berarti saran itu bisa dimodif dikit ya lae… bermurah hatilah memberi apresiasi, pujian dan pengakuan. tp janganlah menjadi orang yang demikian terobsesi untuk mendapatkannya.soalnya, sprti ilustrasi lae di atas, ongkosnya mahal bro!😀

      Balas
  6. boneth

    “Gimana coba, pas Anda memberi hadiah kepada seseorang, makhluk sialan itu bahkan tak mau mengucapkan terima kasih.”

    memang nyebeeellliiinnn makhluk yang begini.. dah dikasih dari ketiadaan kita, masssiiiihhh jg nggak ada terimakasih2nya..
    nelongso rasanya..
    berkorban utk sesuatu yang tak berarti bagi dia.. huh!
    *baru ngerasain soalnya*

    dan saya memang tipikal orang yang sangat suka dipuji,
    meskipun saya harus terima kenyataan bahwa suami saya tak bisa memuji secara lbh ekspresif..😦

    Balas
  7. lovepassword

    Bahkan secara teknis pun terbukti bahwa efek tekanan itu jauh lebih buruk ketimbang tarikan. Hi Hi Hi

    Semuanya memang bisa merusak kalo berlebihan tetapi efek dari tekanan lebih cepat menghancurkan.

    Jika sebatang tongkat ditarik, maka tongkat itu terkena tegangan gaya persatuan luas , sedangkan jika sebatang tongkat ditekan, maka gaya persatuan luas masih sama plus ditambah efek dari faktor tekuk yang terkait dengan sifat kelangsingan batang.

    Itu tongkat.

    Kalo manusia mungkin sama saja. Tekanan dan tarikan dalam jumlah yang sama, selalu lebih baik tarikan.🙂 Meskipun efeknya bervariasi tergantung tipe manusianya , tapi hukum utamanya masih tetap. Tarikan artinya pemimpin di depan memberikan contoh dan apresiasi, bukan memberikan ancaman yang menekan. Kayaknya sih gicu

    Balas
  8. shopie

    jadi keinget jaman2 dulu…awal2 mahasiswa, kebetulan gambar manual saya ancur abis….:)
    waktu itu UTS dan harus gambar binatang, binatangnya terserah apa aja…yang namanya gambar binatang kan mana ada binatang diam..pasti jalan terus, pas itu saya gambar onta…eh tiba2 ada anak kecil dengan polosnya bilang : mama…mama…liat..mbak itu gambar kobra….***saya langsung ngakak..berarti gambar saya emang ancur habis…itu pujian ta hinaan y bang??? hehehehe

    Balas
      1. shopie

        wkekekekekek…tengs for komen d blog ku bang…temen saya protes…katanya dia sering komen d tulisan abang, tpi kok ga pernah berkunjung kesana…sedang saya, yang baru kenal karena ketemu di lapak sebelah, kok sudah d komenin…hehehehehe

  9. siu-elha

    ….begitu pula hebatnya efek penghinaan untuk membuat siapa saja gugur dan layu….
    tapi bang, penghinaan kadang menjadi bumerang bagi yg menghina krn dgn penghinaan menjadi martir yang paling ampuh untuk mencapai goal. so, hinalah aku maka aku akan mengangkat piala!😀

    Ya Allah, perkenankan aku, kelak di ujung usiaku, mendapat bisikan seperti itu…

    Aminnnn Allahumaa amin…

    Balas
  10. napitupulu

    apakah perlu memujinya juga jika ia salah dan tidak bisa menerima kritik atas kesalahannya??

    jgn juga berlebihan dlm memuji..secukup pantasnya saja…dan lihat2 orangnya..klo anak kecil ya pantaslah kita lebihin pujiannya..tapi kalo wong tuwo,..bisa pantas atau ga pantas ya.

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      mksh komennya lae. tp saya memang jarang melihat kritik bisa efektif.😀 kita bisa mengingatkan seseorang untuk menjadi lebih baik, dgn menyelipkan “kritik” itu dalam sebuah pujian.

      misalnya: “kerjaan kamu ini bagus sekali, dan saya tentu lbh senang lagi, andai selesainya lebih cepat. tp ini jg udah bagus, dan saya yakin, lain kali kamu bakal bisa selesaikan lbh cepat lagi.”

      saya yakin, itu akan mendorong dia untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat lain kali dapat tugas, krna maksud kita sesungguhnya memang mengingatkan dia utk lebih cepat.😀

      coba lae bayangkan, jika yg kita bilang semacam ini, “kamu kok kerja lambat sekali? apa-apaan ini?”

      Balas
  11. lilliperry

    setuju sekali dengan postingan ini bang..

    semua orang senang dipuji dan hampir semua orang tidak senang dikritik.

    kalo ditarik ke saya, maka pujian buat saya adalah pengingat untuk lebih baik dan kritikan menempati hal yang sama dengan pujian.

    kalo sudah berupa hinaan sebisa mungkin saya tanamkan dalam pikiran saya, satu jarimu menunjuk seseorang, maka empat jari lainnya menunjuk dirimu sendiri.
    kalo sudah tidak bisa sabar dengan hinaan, mending saya ajak berantem bang.. wakakakaka

    nice post bang🙂

    Balas
  12. Gladiol Putih

    Betul tuh bang, saya sendiri adalah korban dari pola asuh yang sangat royal dengan makian dan hinaan..

    Efeknya mang benar2 makjeb..sampai saya harus berjuang seumur hidup untuk meyakinkan diri sendiri kalau saya tidak hina, dan pantas untuk dihargai seperti manusia lain. sampai saat ini juga masih sedang berjuang🙂

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      Pasti sebuah perjuangan yang nggak ringan ya. Mdh2an, latar belakang yg kurang ‘menguntungkan’ itu, bisa diubah menjadi motivasi ya… agar bisa benar2 menjadi “pantas untuk dihargai seperti manusia lain.”

      Balas
    2. Marshall Laney

      Ane bener2 terharu berat nih baca komen yg enih. Tp ane yakin, ente udah berhasil ngilangin efek negatif masa lalu itu. Buktinye, udah ade kesadaran untuk ngga mau dianggap hina.
      Ane jg do’in deh, ente sukses, bukan cume untuk buktiiin same yg ude mengina itu ye, tp hidup emg kudu sukses, biar Allah kaga “nyesel” nyiptain kite. hehehehe…

      Atu lagi dah, klu udah tau ntu bisa negatif, jgn diulangin ye same anak cucunye. (maaf nih, ane jadi ceramah)

      Balas
  13. Marshall Laney

    Artikel yg keren nih. Tp ane yakin bakal lebih keren, kalo diingetin jg: Biar kate kite kudu gampang memuji, tp kitenye kudu belakar jg, biar kaga gampang terbuai pujian.
    Gimane jg, kyk komen2 di atas ntu, kalo kite gampang bgt dibuai pujian itu bisa BAHAYE!
    Ane sih sepakat 100%: pujian itu emg ampuh banget dalam kehidupan sehari2, utk memperoleh simpati dan dukungan org2, menjinakkan calon mertua yg rada galak, meluluhkan hati calon gebetan. Cuma itu tadi bos… Itu kan senjata kite, jangan malah jadi senjata makan tuan.

    Pokoke artikelnya sip dah Pak Togar.

    *langsung praktekin saran pak togar, untuk nyelipin “kritik” dalam pujian. eh, kok rahasia dibocorin ya?*

    Balas
  14. RaHaSaN

    Wah.. Akhirnya blog ini ktemu jg.. Bulan lalu saya pernah nyasar ke sini dan nyontek postingan abang yg bjudul “cinta sisi lain”, tapi lupa alamat blog ini apa, yg ingat cuma NESIA nxa aja, pas saya bikin postingan di blog bru ku, dikasih ja sumbernya NESIA gøod blog..
    Untk itu saya terlbh dahulu minta maaf bang, dan terimakasih bnyak telah berbagi tulisan yg amat brarti ini pada kami semua..
    Blog abang ini jadi inspirasi wat saya untk berkreasi jg..
    ^_^
    =====================
    postingan kale ini sangat muantap bang. Sebenarnya kritikan (konstruktif) merupakan/ibarat cermin bgi diri kta sendiri. Byankan saja kita mencukur kumis, bermake-up, berhias dan sbgainya tanpa cermin. Mungkin kehidupan yang kita jalani ini akan/pasti amburadul..
    Perlu jga dperhatikan, dengan pujian seseorang dpat menjadi penjilat keuntungan dari pribadi kita. Mereka terlihat memuji, padahal dbelakang mereka lebih melukai..
    “saring kritikan dan pujian yang kita terima, kita adalah sama, semua kita adalah suatu kesatuan yang ditandai dalam sebuah keseluruhan. Dan kita ibarat Ctrl + A..”😉

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      Komennya dalem ah. => “saring kritikan dan pujian yang kita terima, kita adalah sama, semua kita adalah suatu kesatuan yang ditandai dalam sebuah keseluruhan. Dan kita ibarat Ctrl + A

      saia jg suka konsep “bagian dari keseluruhan” ini pak.😀

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s