Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia

“Ih, cowoknya tua banget gitu? Kok dia mau sih?” Atau,Β  “Sorry, Bro… Cewek lu yang sekarang kok jelek amat sih? Jangan tersinggung ya, tapi ngga level gitu ama elo…” Atau malah, “Gila kali ya gw mau sama dia. Udah jelek, tua, idup lagi! Mending jomblo seumur hidup deh.”

Begitu menjijikkannyakah manusia yang sudah tua, mereka yang jelek, apalagi orang yang tua dan jelek sekaligus? Mengapa menghindari yang tua, padahal kehidupan tak membawa kita semua, siapapun!, kecuali menuju penuaan dan akhirnya kematian? Seakan mereka yang merasa jijik itu, akan tetap muda selamanya…

Mengapa menyisihkan mereka yang (berwajah) jelek dari daftar orang yang layak dipertimbangkan, menjadi teman, kekasih, suami, atau istri? Sudah yakin dirimu cakep? Jangan-jangan cuma tante, mama kamu yang menganggapmu ganteng, atau si om, papa kamu, yang selalu memujimu cantik? Siapapa pula yang mengatai anaknya jelek, kecuali dia nggak yakin, itu beneran anaknya sendiri.

Tapi anggaplah Anda memang cakep. Tapi kan gak ada orang yang berharap (berwajah) jelek. Mengapa menghukumnya atas sesuatu yang terjadi bukan karena kesalahannya? Lagian, berterima kasihlah, karena adanya mereka, eh kami ding, yang jelek-jelek ini, kalian bisa terlihat cantik. Ada faktor pembanding, gitu.πŸ˜›

Oke, wajah memang semacam display atau layar monitor seseorang, ke arah mana orang pertama kali menujukan pandangan. Tetapi wajah, display itu, bukanlah keseluruhan diri seseorang.

Tak cukup mengenali seseorang dari pasfoto, atau foto close-up, karena tubuh juga terdiri dari rambut (yang mungkin menggerai indah), tungkai (yang jenjang memesona), dada (yang bidang, atau dengan buahnya yang ranum), jemari yang barangkali lentik, genggaman yang mantap dan meyakinkan, dekapan yang kokoh dan menenangkan, dst.

Dari tubuh itu juga mungkin akan keluar suara yang merdu dan meneduhkan, yang akan memanjakan telinga dan hatimu dengan lagu-lagu cinta. Lebih jauh lagi, sosok itu juga barangkali menyimpan perhatian yang bisa memanjakan, perilaku yang penuh kelembutan.

Lebih dalam lagi, di sana mungkin juga ada jiwa yang penuh tanggung jawab, mentalitas penuh keberanian. Mau lebih dalam lagi? Di dasar dirinya mungkin Lebih ke dalam lagi mungkin ada ruh yang penuh kasih sayang, hati berselimut cinta kasih. Seperti Laut Bunaken, untuk mereguk semua pesonanya, Anda harus mau menyelam lebih dalam…

Oke, wajahnya memang ganteng. Tetapi ketika kalian jalan berdua, tiba-tiba ada anjing menyalak galak, dia langsung kabur duluan, meninggalkan Anda yang langsung pingsan dengan sukses karena ketakutan.What a looser!

Coba kalau jalan dengan cowok jelek yang Anda tolak itu. Begitu si Bleky menggonggong, dia langsung balas menggonggong juga, lebih keras lagi. Mendengar suaranya yang menggelegar itu, (plus melihat wajah jeleknya, tentu saja) malah si anjing yang langsung terbirit terkaing-kaing. What a hero!πŸ˜›

Seperti pembeli ponsel, banyak yang fokus dengan desain luar dan display. Bentuknya cakep, layarnya lebar dengan kedalaman warna minimal 256K. Bahwa fiturnya tak ada yang spesial, itu soal lain.

Meski tidak banyak, tetapi ada juga yang lebih mementingkan “daleman” ponsel daripada penampakan luarnya. Yang pertama dilihat fitur, semacam konektivitas, ketersediaan memori eksternal, daya tahan batere, dsb. Dan biasanya, mereka ini golongan yang lebih well educated. Biasanya sih.πŸ˜€

Menjalani kehidupan yang panjang, tak cukup hanya dengan memandang wajah orang yang kita sayang, siang malam, pagi dan petang. Betapapun cantik atau gantengnya dia. Kehidupan (berkeluarga) adalah pergulatan tanpa henti, di mana karakter masing-masing pasangan, inner side dari dirinya, akan menentukan “kualitas” kehidupan yang dijalani itu.

“Tapi orang jelek juga banyak yang punya sifat-sifat buruk.” Ada, cukup banyak malah. Waktu kecil saya sering berpikir, kalau Tuhan mungkin “menyesal” telah menciptakan manusia seperti itu. Waktu kecil loh… Harus di-reject, pastinya. Tetapi pastikan, penolakan itu bukan karena kejelekan wajahnya, tetapi keburukan tabiatnya.

Pun, banyak juga orang yang ganteng atau cantik, sekaligus baik hati. Pokoknya seperti tokoh-tokoh utama dalam sinetron itu deh. Itu sih ideal banget. Kejarlah, sebisanya, sepantasnya. Dan mengejarnya, semestinya bukan semata karena kegantengan atau kecantikannya, tetapi lebih kepada pribadinya yang memesona.

Bukan mau antipati sama yang cantik dan cakep loh, apalagi jika Anda hubungankan dengan kenyataan, bahwa diri ini jauh dari kategori itu. Wakakakaka… Cakep pastilah sebuah nilai tambah, an added value. Bagaimanapun, wajah itu yang akan sering kita lihat, ketika makan malam, ketika bertengkar, ketika berbicara, ketika dia tertidur, bahkan ketika bercinta dengannya.

Kan nggak seru, kalau pas lagi “on the air” mata pasangan jelalatan ke mana-mana, apalagi kalau dia sambil baca tabloid gosip, atau malah curi pandang ke siaran liga Inggris. Trus ketika Anda hendak mencapai puncak, dia malah teriak, “Goool!” Dijamin bakal batal deh, meledaknya.

Dan menua… Penuaan memang meluluhkan pesona badaniyah atau physical attractiveness seseorang. Tetapi lagi-lagi, seseorang bukanlah fisiknya saja, tetapi juga ruh yang ada di dalamnya. Penuaan sangat mungkin–sangat mungkin ya, bisa aja nggak sih–membuat seseorang memiliki lebih banyak kearifan, ketenangan, dan pengertian. Hal-hal yang, lagi-lagi, sangat dibutuhkan untuk keberhasilan sebuah hubungan jangka panjang.

Orang-orang muda yang pasaran, ordinary young people, pasti lebih memilih mereka yang seusia, atau yang terpaut tak terlalu jauh. Tetapi saya sering memperhatikan, mereka yang punya kecerdasasan di atas rata-rata, lebih suka berhubungan dengan yang (jauh) lebih tua, karena “… sama temen-temen itu, gak pernah nyambung sih“. Asal jangan sampai Oedipus complex aja. Tapi gapapa juga deh, kalau memang itu bisa membuatmu bahagia.

Jadi, pokok persoalannya adalah membuat your mission to be happy berhasil. Memastikan missi itu berhasil, apakah dengan “merekrut” partner yang muda dan cantik/ganteng, atau didampingi mereka yang lebih mengerti cara membantumu hidup berbahagia, terlepas dari apakah dia tua atau muda, cakep atau jelek?

“Okelah, soal yang jelek, agak bisa diterima. Itu juga jangan jelek-jelek amat. Kasian anak-anak saya nanti. Tapi yang tua, gimana ya… Masalahnya sisa umur dia kan lebih pendek?”

Tak ada yang terlalu muda untuk mati. Lagi pula, kalaupun benar umurnya tak lagi lama, bukankah begitu indah, memastikan kaulah orang terakhir yang ada di hatinya, yang mendampinginya saat dia menutup usia?

Well to be honest, one of my two biggest wishes is, menutup usia di sisi yang kucinta, atau memeluknya saat dia akan berlalu. Kalo bareng-bareng, ngga usah deh, karena biasanya itu kecelakaan. And the other is, hidup bahagia bersamanya, selama mungkin, sebahagia kami bisa.

27 thoughts on “Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia

  1. mahma mahendra

    itu namanya perjanjian tidak tertulis sesama manusia. dimana yang tua akan dianggap lebih jelek, dan lain sebagainya… .

    Balas
  2. lina ling

    bang, ini menanggapi postingan saya yang monolog perempuan (jelek) ya.
    saya suka materinya, inspiratif.
    :))
    dalam postingan saya itu, pesan yang ingin saya sampaikan sebenarnya ya itu. bahwa setiap orang bisa hidup hepi, dicintai dan mencintai. that’s it.
    tapi mungkin saya ndak pandai mengungkapkan pesan itu, segamblang yang bang toga tulis ini.
    salam hangat
    πŸ™‚

    Balas
  3. devieriana

    aku selalu suka dnegan pria yang lebih tua loh Bang..πŸ˜€. Pacaran kalo sama sebaya kayanya kok sama kaya saya aja gitu sifatnya. Dari dulu juga rasanya lebih nyaman dengan yang usianya lebih tua dari saya. Makanya dapet suami yang juga alhamdulillah dapet yang lebih tua.. 2 jam.πŸ˜†
    Nggak, kami beda 2 tahun..Wis pokoknya harus lebih tua! *ngotot yang nggak penting, sumpah!*:mrgreen:

    Embuh ini aku nyambung apa nggak sih komennya? *berlalu*

    Balas
  4. dsusetyo

    Kalau saya lebih senang kalimat yang terakhir:
    “And the other is, hidup bahagia bersamanya, selama mungkin, sebahagia kami bisa.”

    Dan lebih bahagia lagi bang Toga bila bahagia sampai di suwarga nanti, itu pasti bahagia yang abadi.

    Salam hangat bang
    [Happiness is not JUST a feeling but a decision]

    Balas
  5. Ryan Shinu Raz

    Horas !

    Mungkin ini saatnya aku harus cepat2 menikah. Mumpung masih ada yang bilang aku ganteng dan masih muda. wkwkwkwkwkwkw….

    Balas
  6. putirenobaiak

    kalo dah nulis beginian, dahsyat! pa kabar ito? lama aku gak ke sini…
    aku sering berpikir, pantaskah kita menilai seseorang jelek? bukankah menghina sang penciptanya?

    Balas
  7. Twilite

    nampaknya, perjuangan yg harus dilakukan org jelek dan tua jelas lebih berat ya. bearti emg bener. on this big race we called LIFE, para peserta tidak bergerak dari garis start yg sama… sprtinya ngga fair ya…

    Balas
  8. zawieszki z drutu

    What you posted was very reasonable. However, think on this, suppose you were to create a killer title? I mean, I don’t wish to tell you how to run your website, however suppose you added a post title that grabbed a person’s attention? I mean Yang Tua dan Jelek Juga Bisa Membuatmu Bahagia | Nesiaweek is a little boring. You should glance at Yahoo’s front page and see how they create post titles to grab people to open the links. You might try adding a video or a related pic or two to grab readers interested about what you’ve got to say. Just my opinion, it might bring your website a little livelier.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s