Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part II)

Mungkin satu-satunya cara membuatmu percaya, bahwa rumah inilah tempat dirimu sepenuhnya diterima, adalah dengan membiarkanmu melanglang hingga ke tepi dunia.

Juga hanya dengan melepasmu melahap semua pesona dan gairah, kau akhirnya tahu bahwa untukmu, akulah yang terindah.

Di puncak lelah, kau pun pulang ke rumah. Tapi aku tak merasa jadi penunggu tempat sampah. Justru ini bukti keberanianku menjajal kualitas dengan siapa saja yang bisa kau temukan di luar sana.

Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru.

Kulepas kau mengikuti kembara rintik, merontokkan dirinya sendiri ke bumi, agar bisa mengenali samudera, menyegarkan dedaunan, membasahi pucuk ilalang.

Aku tak perlu merasa terhina menerima seorang yang kalah, karena itu berarti akulah pemenangnya. Lagi pula ini bukanlah pertarungan.

Ini karena kita lebih dekat dari pertalian darah, membentuk keesaan dan trinitas sekaligus: aku, kau, kita. Kita satu sama lain, seperti bulan memantul di arus air, yang sesungguhnya adalah sinar mentari yang satu.

Menerimamu pulang, dengan segala kehampaan dan noda yang melumurimu, adalah membiarkan jiwaku kembali utuh, menemukan bagiannya yang hilang. Membersihkan lumpur di wajahmu adalah menyelamatkan takdir kita, yang tak akan kubiarkan kalah hanya oleh noda, kemarahan, dendam, harga diri, apalagi cemoohan tetangga.

Kau sendiri terperangah, menatapku tengadah, hampir tak percaya ada cinta yang begitu indah, menyemburkan maaf yang melimpah ruah. Kemudian kau berlutut, terbata menyatakan penyesalan, perilaku khas orang yang kalah.

Aku tak marah. Sama sekali tidak. Agak cemas saja. Mudah-mudahan kau tak pernah tahu, sementara menunggumu pulang, entah dari langit mana, aku telah mandi hujan di mana-mana.  Kau sepertinya lupa, dari dulu aku memang paling suka menari di bawah hujan, tentu saja tanpa sehelaipun pakaian…

Sini gerimisku yang lucu, cepat basahi aku… Bukankah bagimu aku terlihat begitu kemarau?

——————————————

Sebelumnya: Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part I)

44 thoughts on “Pergilah Seperti Uap, Karena Kutau, Kau Akan Kembali Sebagai Hujan (Part II)

  1. Maren Kitatau

    Dahsyat bangat cintamu itu, Lae!
    Seandainya kou itu perempuan,
    Suami baja pun lumer kou bikin.

    Bravo!
    NB:
    Teringat aku dgn lagu “Foolish Game”.
    Lupa aku perempuan yg menyanyikannya.

    Balas
  2. hh

    Luar biasa, lae Toga. Gerimis yang kini sedang turun, walau gak utuh uap yang telah dibiarkan mengawang dahulu, kerena (mungkin) telah menjadi hujan dimana mana, dari langit mana saja ke tanah kemarau mana saja, dan telah menjadi uap kembali dan kini menjadi gerimis yang turun dari langit dan di kemarau sendiri.

    Balas
  3. ita aisyah asita

    “..Dunia memang tempat yang panas, membuatmu mendidih, hilang menguap seperti dihisap awang-awang. Tapi biarlah kau pergi seperti uap, karena kutahu, langit tanpa batas akan membuatmu kesepian, dan kau pun pulang sebagai hujan. Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru..”

    gue banget nech bang sekarang..haha..tapi sayangnya dia gak mengerti aku membiarkannya pergi karena aku hanya butuh sejenak ruang menikmati panas agar aku bisa benar-benar tahu bahwa aku butuh hujan..

    Balas
  4. Siu Elha

    edian tenan…!!! siapa gak melting dengan tulisan ini, cuma ini nih bagian bahayanya ….. “Aku tak marah. Sama sekali tidak. Agak cemas saja. Mudah-mudahan kau tak pernah tahu, sementara menunggumu pulang, entah dari langit mana, aku telah mandi hujan di mana-mana. Kau sepertinya lupa, dari dulu aku memang paling suka menari di bawah hujan, tentu saja tanpa sehelaipun pakaian…” BAHAYA…..!!! jangan terjebak ya? hahahaha…

    Balas
  5. luvaholic9itz

    telaaaaaaaaaaaaatttttttttttttt..!!!!!!!!!!! ih nyesel ih baru bisa konek😦

    posting juga akhirnya, dizini ujan noh bang.
    *nyari yang nari tanpa sehelai pun pakaian ah*

    mana dimana🙄
    :mrgreen:

    Balas
  6. weirdaft

    Aku tak perlu merasa terhina menerima seorang yang kalah, karena itu berarti akulah pemenangnya. Lagi pula ini bukanlah pertarungan.

    meskipun “aku” yang ditinggalkan, tapi “aku” lah pemenangnya. karena akhirnya “kau” kembali lg untuk menyesali semuanya

    ini-keren-sekali

    Balas
  7. Maren Kitatau

    @weirdaft

    Sudah kutemukan “Foolish Games” komplit.
    Kisah dua seniman bentrok adu cinta,
    Seniman praktis vs seniman teoritis.

    Di situ si Cowok main ujan beneran,
    Mungkin untuk cari perhatian,
    Supaya diandukin kali, gituh!

    Salam Damai!
    NB:
    Aneh juga,
    Lagu hati yang robek masih enak didenger.

    Balas
    1. weirdaft

      lagu yg bikin hati robek berdarah2 memang selalu enak didengar bang😀

      ada vid klipnya jg…mantappp😀

      hrs puas dgn versi mp3 aja krn di kntr smua yg berbau flash player di blok dgn sukses😀

      Balas
  8. Ping balik: » cinta yang (bisa) membunuh Hanya Sekedar Tulisan

  9. putirenobaiak

    ini nih tulisan yg ‘membunuh’

    Kemudian aku menari di bawah curahmu, dengan kemarau rindu yang kering meretak. Tarianku lincah, liukanku indah, seperti pertama dulu, karena hujan selalu saja baru.

    aku ngiri asliiii…gimana bisa nulis seindah ini ito???

    Balas
    1. jhon

      @putirenobaiak : saya ndak ngiri sama bang toga. sama halnya saya ndak ngiri sama yg menciptakan mobil, telephone dll. yang penting saya bisa menikmatinya, cukup wis. karena setiap orang punya takdir masing2. yg terpenting, duing de bes wi ken

      Balas
  10. jhon

    wakakak.., bang Toga, kalo masalah tulisannya bagus, dan abang punya bakat yg ruarbiasa dlm hal menulis dll, saya mah setuju sekali itu. dan saya bisa menikmati spt halnya saya menikmati lagu2 the beatles misalnya. tapi saya kan gak mgkn jadi the beatles. jadi, maksudnya ya itu tadi.., buat apa ngiri. malah bersyukur dan turut mendoakan, mudah2an bang Toga tetap produktif sampe akhir hayat.., amiiin!

    Balas
  11. katasa07

    Aku tak marah. Sama sekali tidak. Agak cemas saja. Mudah-mudahan kau tak pernah tahu, sementara menunggumu pulang, entah dari langit mana, aku telah mandi hujan di mana-mana. Kau sepertinya lupa, dari dulu aku memang paling suka menari di bawah hujan, tentu saja tanpa sehelaipun pakaian……

    kalian memang jodoh..hihhihi sesama t. selingkuh..ya cocok lah…

    dhe’ lagi ngak nyambung euy’ ….

    Balas
  12. sadiesoegi

    hai bang.. aku jadi mikirin tulisanmu ini bang. sampe kebawa-bawa tidur.. aku bisa memakai maknanya dalam banyak hal nih.. teguran buat aku dari ‘yg di atas’… penantian kekasih… penantian buat suami yg semoga tobatttt plus harapan ibu buat anaknya. Sebenarnya yang mana sih bang ? biar aku malam ini tidak tidur dikelilingi kalimat cantikmu ini!

    Balas
  13. jhon

    bang Toga, maap, saya sdh lancang tanpa permisi menambahkan/nge-add anda di blog saya. tolong diterima permohonan maap saya, dan kalo ada waktu, bolehlah mampir ke blog saya yg msh baru, msh belajar but dan perlu banyak masukan dan kritik serta saran dari bang Toga yang senior ini. Tks.

    Balas
  14. kepikbelang

    Walau sesungguhnya begitulah dunia mereka… seperti indah tapi sebenarnya sakit. Uap ber-arsenik yang jatuh pada genangan air dipinggir pabrik berpolusi… hitam pekat… tetap saja walau sepertinya indah

    Balas
  15. Ping balik: Cinta yang membunuh « Gitasyahni’s Weblog

  16. celoteh .:tt:.

    Waaa….ternyata penulis aslinya di sini…
    Huhuhu…maafkan akuu, aku baca di note kawan tanpa embel2 penulis siapa, dan kushare sebagai dia penulisnya. Hiks… Maafkan😦

    Btw, berkali-kali pun membaca, tak pernah bosan. Mantab, bang..🙂
    Salam.

    Balas
  17. Ping balik: Semacam Klarifikasi | celoteh .:tt:.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s