Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan

halfJika (sekadar) dijalani, hidup terdengar seperti sebuah tugas, dan yang namanya tugas, tak selalu (atau malah jarang) terasa menyenangkan, kecuali bila Anda seseorang yang sangat ingin dapat promosi dari bos. Tapi jika (juga) dirayakan, hidup akan terasa seperti sebuah kesempatan (untuk berbahagia), a party time. Dan tentang kesempatan, orang biasanya bilang, “Jangan sampai dilewatkan!”

Apakah menganggap hidup sebagai tugas atau sebuah kesempatan akan mengubah hidup itu? “Itu kan anggapan doang, label thok. Hidup ya tetap gini-gini aja, gitu-gitu doang.” Nah, itulah yang mau kita bicarakan.😀

Separuh gelas air, tetaplah separuh gelas air, apakah Anda melihatnya tinggal separuh atau masih ada separuh lagi. (Ilmu klise ya, tapi hal-hal yang benar memang sering terasa klise kok). Dengan sudut pandang yang pertama, separuh gelas air itu terlihat menjadi sesuatu yang sudah tak lagi berguna, tapi begitu berharga dengan cara pandang yang kedua, walau itu tetaplah separuh gelas air. (Lagian kalo ngotot pengen dapet air satu gelas juga, pindahin ke gelas yang lebih kecil aja, biar tumpah sekalian).

Ada satu ungkapan “klise” lainnya. Konon berat untuk bisa “berhasil” dalam kehidupan, jika kita hanya mengubah cara hidup; bangun lebih pagi, mengkonsumsi serat lebih banyak, mengurangi begadang, mengalokasikan waktu yang lebih banyak untuk keluarga, dsb. Itu bagus, tetapi sekali lagi, itu tidak selalu mudah dimulai apalagi dipertahankan, karena lagi-lagi terasa seperti tugas tambahan. Tetapi jika yang diubah adalah cara kita memandang, konon kemungkinan kita untuk “berhasil” dalam kehidupan, meningkat kurang lebih 69%. (Mengapa harus angka itu ya?)

Perubahan cara pandang itu, serta merta akan diikuti oleh perubahan cara hidup pula, yang kita lakukan dengan sukarela. Begitu Anda mengubah cara memandang istri, yang tadinya dilihat sebagai polisi yang mengawasi Anda begitu ketat dan lekat, seolah Anda DPO kasus terorisme, menjadi malaikat suci yang sangat tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada Anda, dengan sendirinya istri akan terasa lebih menyenangkan, lebih enak dipandang, makin sedap dikenang, dst. Walaupun ia tetaplah wanita yang menelepon Anda tiap setengah jam itu, dengan pertanyaan yang sama pula.” Lagi di mana, Pa? Suara apaan tuh, kok kayak ada suara cewek cekikikan? Trus suara musiknya itu kok keras banget, di mana nih. Ayo, aktifin video call-nya, Mama mau liat langsung!”

Anda juga dengan sukarela akan mengganti nada dering khusus untuknya, dari lagu Symphony of Destruction-nya Megadeth, menjadi Symphony No 40-nya Mozart. Jadi inget, ada temen, beneran cuma temen!, yang begitu keluar dari rumah, ritual pertama yang dilakukannya adalah mengganti nama istrinya dalam phonebook, dari “Mama” menjadi “Pengawas Paling Sibuk”. Tapi karena kepanjangan, yang muncul di display begitu istrinya menelepon adalah “Pengawas Paling Sib…”

Atau begitu lelaki itu meninggalkan Anda, tanpa alasan yang jelas, Anda bisa merasa telah dihancurkan. Hasilnya, Anda bisa marah, melakukan aksi pembalasan yang lebih gila, atau sebaliknya memelas, misalnya dengan mengutip salah satu SMS dari serial sms gombal di blog saya, “Jika suatu saat kau hancurkan hatiku, akan tetap kucintai dirimu, dengan kepingannya yang tersisa.”

Balas dendam mungkin akan melegakan untuk beberapa saat. Tapi persis seperti narkoba, pembalasan dendam adalah kelegaan sejenak yang kadang harus dibayar dengan penyesalan sepanjang usia. Memelas juga mungkin akan mengembalikan seseorang ke pelukan Anda, tetapi untuk mempertahankannya, besok Anda mungkin harus memelas dan memelas lebih dalam lagi. Akibatnya, dia akan merasa posisi tawarnya semakin tinggi, dan bak kandidat yang menang telak dalam pemilu, akan tergoda pula untuk menjadi “semena-mena”.

Padahal ada pilihan sikap lain—lebih terhormat sekaligus lebih sehat—yang bisa Anda ambil. Mengapa tidak merasa kehidupan telah menyelematkan Anda dari perangkap seorang manusia, yang tidak layak mendapatkan cinta dan kasih sayang dari orang sehebat Anda? Daripada cemburu atau marah kepada orang yang berhasil “merebutnya” dari Anda, mengapa tidak kasihan. “Deritaku telah usai, kawan, tapi nestapamu baru saja dimulai, sambil bersenandung, “Terima kasih oh, Tuhan, Kau tunjukkan siapa dia…”

Daripada merasa tak mungkin bahagia tanpa dirinya, mengapa tidak berpikir bahwa kehidupan merasa dirimu cukup qualified untuk menerima tantangan, membangun kebahagiaan baru bersama the next partner? Mengapa tidak berpikir bahwa kapasitas dan kualitas Anda sebenarnya demikian hebatnya, sehingga dipasangkan dengan siapa saja, Anda bisa berbahagia, karena bahagia adalah nama tengah Anda?

*****

Dalam tulisan Hidup Hanya Menunda Kekalahan dan Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati, saya sebenarnya ingin menyampaikan ajakan, untuk melihat kehidupan sebagai sebuah kesempatan yang harus diambil untuk berbahagia. Pada akhirnya, hidup memang akan berakhir—entah Anda menyakininya sebagai sekadar transisi kepada kehidupan yang lebih sejati dan abadi, atau segalanya memang telah berakhir di situ—tetapi sebelum “akhir” itu tiba, kita harus hidup sehidup-hidupnya, menang semenang-menangnya. Bodo amat orang-orang menganggap kita kalah, kalau di dalam hati kita yakin, dan memang harus yakin, telah menjadi pemenangnya.

Kalau kemudian pesan yang ditangkap dalam dua tulisan ala kadarnya itu adalah saya melihat kematian sebagai kekalahan, berarti saya memang gagal mengemas pokok pikiran dalam kedua tulisan itu. Efek sentimentalitas ditinggal Ibu barangkali.😀

Tetapi sekali lagi, apakah Anda meyakini kehidupan sebagai sekadar kekalahan yang tertunda, atau justru gerbang menuju kemenangan yang sempurna, marilah untuk cenderung berbahagia di dalamnya… Selalu bahagia itu mustahil, tetapi lebih sering bahagia daripada sedih, pasti bisa diupayakan, salah satunya dengan perubahan sudut pandang itu.

Kesedihan itu anggaplah seperti burung. Boleh sesekali hinggap di hati kita, tetapi jangan biarkan ia sampai membuat sarang, dan beranak pinak di sana. Bukankah satu burung sebenarnya sudah cukup, jika dimanfaatkan secara optimal, daripada mencoba berbagai burung, hanya untuk kemudian menyadari, burung tetaplah burung, yang akan murung kalau dikurung, tetapi langsung bersenandung jika dibiarkan terbang membubung.

Lho! Judulnya tentang hidup, tapi penutupnya kok jadi bahas burung? Mungkin karena orang hanya merasa perlu dengan burung yang hidup, dan cuek kepada yang redup, dengan paruhnya yang mengatup, dalam sangkarnya rapat menutup.

Padahal—lagi-lagi soal sudut pandang—walau terkurung dalam sangkar, burung tetap punya kesempatan untuk berbinar, andai ia bisa melihat sangkar bukan sebagai penjara yang merenggut kebebasannya, tetapi sebuah panggung membuat orang-orang, terutama majikannya, lebih berbahagia…

Begitupun, jangan terlalu lama memandangi burung Anda atau burungnya. Ia tak akan pergi jauh, karena sayapnya memang dikutuk tak pernah bisa tumbuh…

24 thoughts on “Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan

  1. luvaholic9itz

    absen nyoretttttttttttttt😉

    rating SANGAT LUCU

    “Deritaku telah usai, kawan, tapi nestapamu baru saja dimulai, sambil bersenandung, “Terima kasih oh, Tuhan, Kau tunjukkan siapa dia…”

    ahahahahha, itu lucu banget. aduhhhhhhh sampe sakit perut na,😀😀😀😀

    Balas
  2. kwarsakristalin

    hidup memang tinggal menikmati yang di depan mata, soalnya kalo ga dinikmati namanya jadi mayat hidup, mati tapi hidup….:D tapi tetap saja, sulit untuk berdamai dengan kenyataan. butuh latihan yg banyak untuk itu…:)

    Balas
  3. weirdaft

    ah, tak sepakat kita di bagian yg ini bang
    Balas dendam mungkin akan melegakan untuk beberapa saat. Tapi persis seperti narkoba, pembalasan dendam adalah kelegaan sejenak yang kadang harus dibayar dengan penyesalan sepanjang usia.

    sebagai pengikut falsafah don clericuzione, revenge is a dish best cold lah…:))
    however, setuju lah merayakan kehidupan ini diantara segala yang menyertainya

    Balas
  4. Toga Nainggolan Penulis Tulisan

    @Luvaholic.
    Tuh kan, kalo emg lucu, bawa ketawa aja.. masa nangis kalo ada yg lucu, ya gak?

    @Umi.
    Iya, bahagia jg butuh latihan kekna.😀

    @Weirdaft.
    Posting ini emg bukan untuk kalangan mafioso. Wakakakaka

    @Ateta.
    Tau tuh, Bu, saia jg heran, kok bisa nyasar bahas burung.😀

    Balas
  5. Siu Elha

    pada saat kita merasa memiliki justru pada saat itulah kita akan merasa kehilangan, dan justru saat kita ‘melepasnya’ saat itu sesuatu itu akan seutuhnya menjadi milik kita, karena kalau kita ngotot terus, berusaha untuk mempertahankan maka sometimes itu bikin sakit, betulkah Bang?

    Balas
  6. Ryan Shinu Raz

    “….Mengapa tidak berpikir bahwa kapasitas dan kualitas Anda sebenarnya demikian hebatnya, sehingga dipasangkan dengan siapa saja, Anda bisa berbahagia, karena bahagia adalah nama tengah Anda?..”

    kalau begitu perlukah kita melakukan “seleksi” terhadap pasangan kita lae? kalau toh semua tergantung bagaimana kita meng-Equalizer perasaan kita? Dengan “amplifier” tercempreng sekalipun kita bisa tetap mensettingnya berbahagia. tergantung selera, situasi dan kondisi. ( hi..hi..hi.. mulai gak nyambung).

    Tapi makna kalimat lae itu telah berputar-putar 1 tahun terakhir ini. Mungkin ini adalah pengesahan Ayat-nya. Karena ternyata betapa susahnya sebuah pengungkapan.

    Balas
  7. G3mbel

    Begitupun, jangan terlalu lama memandangi burung Anda atau burungnya. Ia tak akan pergi jauh, karena sayapnya memang dikutuk tak pernah bisa tumbuh…

    .
    .

    sayah betul2 gak mengertih maksutne opo…? :mrgreen:

    Balas
  8. sin.ur4t

    Salam kenal lae
    Awalnya pengen nyari tarombo silahisabungan, nyasar kemari. Resiko yg dikuatirkan betul2 kejadian, jadi lupa tujuan awal, terlena dibuai ‘ide2 cerdas lae n’golan..
    Kekna (ikut tertular kebiasaan lae :d) wkt Tuhan dahulu kala bagi2 “otak”, lae hadir on time gak telat..
    Ini hari kedua aku terbius, ketagihan..
    Trims lae, aku jd agak tercerahkan.. Luar biasa.. Ide2nya nakal, gaya bertutur penuh canda.. “Three thumbs up (tambah batok kepala)”
    Jgn berhenti, terus berkarya..

    Balas
  9. yusronrock

    Symphony of Destruction

    You take a mortal man,
    And put him in control
    Watch him become a god
    Watch peoples heads a’roll
    A’roll…

    “The lyrics explores the hypothetical situation where an average citizen might be placed into a position where he can run the country while the public is led like puppets by a phantom government”

    Balas
  10. nay's

    Jd nyesel knp kmaren smpt trgoda sms dia pke SMS gombalmu bang,, dah gede kpala tuh dia. :/
    Bc dipagi gini jd bikin smangat.. Thanks ya bang..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s