Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati

Jika seseorang berjuang bertahan hidup-dari serangan penyakit, terpaan bencana, kesulitan ekonomi, atau apapun itu yang bisa mengancam kelangsungan hidupnya-bisakah dia disebut sebagai pengecut yang terlalu takut mati?

BERANI mati itu memang terdengar gagah, tetapi saya lebih kagum kepada mereka yang berani hidup. Modal untuk mati itu murah; setengah liter pestisida atau seutas tali rafia juga sudah cukup. Tidak percaya? Silakan coba. Kalau memang berminat, petunjuk teknisnya nanti saya kirim lewat email. Bergaransi dan telah teruji.😉 Sebaliknya, modal untuk tetap hidup justru teramat mahal; butuh keseluruhan diri kita.

Ketika hidup terasa menyesak dan pengap, saat segenap harap luruh menguap, and the only way to escape sepertinya adalah loncat dari atap, (atap JW Marriott biar langsung kolaps), malulah kepada nenek tua yang bertahan hidup dengan menjajakan kue, dari pagi hingga petang, dari tanah lapang sampai ujung-ujung gang.

Juga kepada korban gempa di Padang, yang bertahan hidup di bawah himpitan reruntuhan bangunan. Juga kepada Martinus, bocah korban tsunami Aceh, yang berhari-hari terombang-ambing di Samudera Hindia, tanpa apapun, kecuali seragam timnas sepakbola Portugal yang dikenakannya.

Juga kepada anak kijang itu, yang berlari sekuat tenaganya, menghindari terkaman singa buas di padang-padang Afrika. Bahkan ketika taring-taring tajam itu mulai mencabik tubuhnya, ia masih menendang-nendangkan kaki kurusnya, melawan sebisanya.

Sanggup mengatai mereka pengecut yang terlalu takut mati? Busyet deh! Mereka malah pahlawan pemberani yang mempertahankan kehidupannya, sampai ke detak terakhir jantungnya, helaan terakhir napasnya, tendangan terakhir kakinya.

*****

AGAMA memang berbicara tentang hari kemudian. Bahwa kehidupan di dunia hanya sebuah episode pendek, yang tak ada apa-apanya dibanding keabadian di alam sana. Bahwa di surgalah kebahagiaan sesungguhnya berada. Bahwa tak patut kita terlalu fokus kepada yang fana. Dan bahwa-bahwa yang lain…

Saya beragama dan saya (harus) percaya itu. Tetapi apakah itu berarti bahwa kehidupan di dunia adalah sesuatu yang sangat sepele? Kalau begitu, mengapa tidak kita percepat saja menuntaskan persoalan sepele ini? Jadi terpikir, barangkali ini motifnya, ketika sekelompok penggiat spiritualitas melakukan aksi bunuh diri bersama, untuk terbang dalam satu kloter ke nirwana. Ini pula barangkali yang membuat para pelaku bom bunuh diri itu, bersedia menukar nyawa dengan tiket ke surga…

Lantas, mengapa tidak kita cekik saja anak-anak kita begitu mereka lahir? Buat apa mereka harus merasakan lelah dan perihnya kehidupan di dunia? Sudahlah sepele, buat capek pula! Bukankah dengan mati begitu dini, mereka otomatis terhindar dari noda dan dosa, dan oleh karenanya akan langsung melesat ke surga?

Takut dosa karena membunuh? Ah, ngga juga. Niatnya kan mulia, memberikan yang terbaik buat anak, mencegah mereka dari mengalami derita yang tak perlu. Lagi pula, bukankah Tuhan mengukur setiap perbuatan dari niatnya?

*****

AGAMA adalah obat, penawar penyejuk hati, di tengah buasnya kehidupan di dunia. Tapi yang namanya obat, mesti dipergunakan sesuai aturan. Kalau berlebihan, bisa overdosis. Efek overdosis itu menyeramkan, seperti pemikiran (dan tindakan) gila di atas itu.

Jadi, berdiri tegaklah wahai pahlawan yang berani hidup. Segala perih datanglah, tak kepada luka kita menyerah. Tersakiti itu pasti, tetapi menderita atau mendendam-apalagi bunuh diri atau bunuh orang-adalah pilihan; pilihan yang sebenarnya bisa kita abaikan.

Justru karena hidup hanya menunda kekalahan, jika kita tak pernah berani berjuang menundanya, maka kita sebenarnya tak pernah sungguh-sungguh hidup. Pada pergulatan menunda itulah, kehidupan akan menunjukkan maknanya.

Hiruplah seluruh udara yang ditawarkan alam raya. Reguk curah sejarahmu hingga ke tetes terakhirnya. Jelajahi jalan nasibmu hingga ke ujungnya. Hingga ketika kelak maut mengendap menghampirimu, dia tak menemukan apapun lagi untuk dibawa, kecuali hati yang ikhlas, karena tunai sudah tugas, meretas langkah ke ujung ruas, ketika usia menemu batas, saat untuk kali terakhir, kita menghela dan menghembuskan napas, dengan perasaan puas, tuntas, dan lampias.

 

16 thoughts on “Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati

  1. lilliperry

    saya pertama deh bang..😀
    wow, tulisannya keren.. banyak orang yang memilih untuk takut mati daripada berani hidup.

    tinggal mau jadi apa hidup ini, proses ke ‘mati’ tapi membawa nilai2 kehidupan sebagai bekal.

    untuk hidup ternyata butuh keberanian juga ya bang..😀

    Balas
  2. Susie's Scribbles

    berbicara ttg kematian , sebisa mungkin saya berusaha menundanya , bukan krn takut mati tp banyak alasan kenapa saya hrs tetap hidup ( ehehehe ) , terlebih , saya masih kerasan di sini …ahahaha ….

    tulisannya bagus bgt , saya akan simpan ini , balik baca2 lagi misalnya pikiran saya berubah ..

    Balas
  3. lovepassword

    Saya tidak berani hidup, tetapi juga takut mati🙂
    Hi Hi Hi. Terus saya harus gimana menurut abang ???
    ( meringis mode on)

    Balas
    1. luvaholic9itz

      wiw berati kamu enggak jelas, mode on off keik lampu sakelar mauk rusak. wehehehhehehe, *jokingly* ea

      diriku berasa jadi abang, pake PEDE SELANGIT pulak bales komeng yang enih, hadohh hadohh,jiakakakakak…

      Balas
  4. kwarsakristalin

    sebenarnya kalau menurut saya sama saja berani hidup atau berani mati,yang penting dia tahu alasan memilihnya itu. yang paling hebat adalah orang yg berani hidup padahal tak tahu untuk apa dia hidup. ga cukup alasan untuk mati, ga layak pula menjalani hidup yg tak berarti

    Balas
  5. Ali

    Bener banget bang.. hidup itu anugerah, tak ada alasan untuk menyia-nyiakannya.

    Saya sudah hidup selama 25 tahun, berbagai rintangan, halangan dan masalah telah kulalui dengan susah payah, peluh dan keringat. Masa menyerah begitu saja cuma karena 1-2 masalah???
    Apalagi ntu orang yg pake bom bunuh diri segala,,udah bunuh diri, ngajak2 orang laen pula. pliss deh…

    Intinya mah..Apapun yang terjadi, saya akan berusaha untuk tetap hidup..Sampai waktunya tiba. hehe

    Balas
  6. Ryan Shinu Raz

    Horas !

    “….Agama adalah obat. Bila berlebihan bisa overdosis. ..”
    Mungkin lebih tepatnya lae kalau kita keliru menanggapi dan mengartikan obat itu. Jadi kwalitas pengukuran atas penafsiran itu juga jadi penentu. Itulah overdosis yang lebih fatal akibatnya.
    Bukankah pada dasarnya agama itu dibawa bukan dengan tindakan yang gila dan tak pernah pula menyeramkan.
    Bukan begitu lae?

    Balas
  7. Nesia!

    @Ryan.
    Setuju Lae.😀 Karena kita meyakini agama (kita) datang dari Tuhan, maka agama itu tak mungkin salah. Jika kemudian agama tidak membuat kita jadi orang yang lebih baik, pastilah pemahaman kita yang keliru.

    Balas
  8. Ping balik: Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan « Nesiaweek Interemotional Edition

  9. surya

    tulisanya bagus banget bang bahasanya kena di hati emamg semua orang pasti takut mati termasuk saya penyakit ini sudah lama saya rasakan sejak tahun 1990 tapi pas saya baca artikel abang agak mengobati ternyata hidup itu perjuangan untuk orang2 yg ngerti apa artinya itu hidup j

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s