Hidup Hanya Menunda Kekalahan

Untuk Ibunda tercinta, dan semua saudaraku yang tengah dicabik bencana

Di depan pintu ruang ICU itu, saya benar-benar dihadapkan pada kenyataan, betapa ringkihnya nyawa, betapa rapuh kehidupan. Betapa hidup memang hanya menunda kekalahan.

Di dalam, ibu saya, wanita agung yang melahirkan dan membesarkanku dengan segala cinta, berbaring tanpa kesadaran. Matanya membuka, tapi ia sudah tak melihat apa-apa, termasuk tetes air mata anaknya.

Bermacam selang dan kabel terhubung ke tubuhnya. Monitor jantung terus berbunyi, nadanya datar, seperti menghitung langkah maut, yang menjadi semakin akrab.

Diabetes telah melumpuhkan ginjalnya. “Kita upayakan tidak harus cuci darah. Kita kasih insulin dosis tinggi, perlahan-lahan gulanya kita turunkan. Mohon Anda terus berdo’a,” kata dokter spesialis yang menanganinya. Itu pada hari kedua di ruang ICU.

Hari ketiga, dokter itu mengatakan ternyata satu-satunya jalan hanya hemodialisis, cuci darah. Ibu harus mendapat antibiotik untuk melawan infeksi akibat luka, yang awalnya sebenarnya tak seberapa besar, di kaki kanannya.

“Tapi itu akan membutuhkan dana yang sangat besar, karena harus dilakukan berulang-ulang,” kata dokter itu, yang sedari awal sudah kuberi tahu, aku tak punya jaminan kesehatan apapun, dan bisa dibilang main tunggal membiayai perawatan ibu.

Aku belum sempat mengambil keputusan, esoknya, keterangan dokter sudah berubah lagi. Kini, bahkan cuci darah pun tak bisa dilakukan, karena fisiknya tak memungkinkan.

Sementara di ruang ICU yang dingin itu, ibu tampak makin kelelahan.

Do’aku pun berubah, dari memohon kesembuhan, menjadi mengiba agar jalan ibu dipermudah, kepada kesembuhan atau jalan lain. Keluarga, kerabat, dan sahabat, sehari setelah masuk ICU, semua sudah menyarankan agar ibu dibawa saja keluar dari rumah sakit. Bahkan dokter juga mengatakan, andai tidak mengingat etika kedokteran yang harus tetap merawat pasien sampai akhir hayatnya, akan menyarankan hal yang sama. Tidak saja soal biaya, tetapi ibu memang seperti mempertahankan nyawa dalam siksa.

Sungguh, itu dilema terbesar yang pernah saya hadapi dalam hidup saya. Mempertahankan ibu di ICU, yang kehidupannya, secara medis, sepenuhnya tergantung kepada segala macam alat bantu itu, bisa terlihat seperti “menyiksa” ibu. Belum lagi mengingat kenyataan, sebelum kehilangan kesadarannya, dia sudah berpesan agar dibawa keluar saja dari RS, pulang ke kampung. “Aku ingin berpulang dari rumah yang dibangun Bapakmu,” katanya. Tetapi mencabut semua alat bantu itu, juga terasa seperti membiarkan ibu pergi.

Tapi akhirnya aku pun menyerah. Kusewa ambulans, lengkap dengan tabung oksigen, infus, dan perawat. Ibu kubawa pulang dari Medan, menuju Manduamas, kampungku yang berada 400-an km, di seberang berlapis-lapis lembah dan pegunungan.

Melihat tubuh ibu terguncang-guncang karena jalan yang berlobang-lobang, dan napasnya yang tersengal-sengal, hatiku seperti tercabik-cabik.Ttak ada yang bisa kulakukan kecuali memeluknya, merasakan hangat tubuhnya, yang kutahu, tak akan menyala lebih lama.

Dan dua jam kemudian, maut bergegas menyusul ambulans kami, di jalanan sepi yang dipagari alang-alang. Hanya supir ambulans, seorang perawat, dan langit tanpa batas di atas dataran tinggi Karo, yang mendengar raungan seorang anak, yang merasa belum cukup banyak berbuat untuk ibunya.

Ambulans yang tadinya berjalan pelan demi kenyamanan ibu, melaju seperti kesetanan. Dia kini berpenumpang kematian.

*****

Hidup hanya menunda kekalahan. Ibu, kita telah berjuang menunda sebisa kita. Perangmu telah usai, pertarungan anakmu baru saja dimulai. Kini ikhlaslah menyerah ke pangkuan Allah, karena hanya Dia yang tak pernah kalah.

Engkau hanya menyeberang, tak akan pernah hilang. Nyawaku disemai di rahimmu, sel-sel tubuhku dibangun dari air susumu.

Pun begitu, aku akan merindukanmu, sampai tiba saat aku menyusulmu, ketika kekalahan, esok atau nanti, telah menjadi giliranku.

Sepeninggalmu, Ibu, Sumatera Barat diguncang gempa, ratusan nyawa dipaksa beranjak dari jasadnya. Masih kuingat kau menangis mendengar gempa di Jawa Barat, ketika sakitmu sendiri sudah makin memberat.

Pasti lebih mudah bagimu kini menemui mereka, merayakan usainya tugas menjalani kehidupan, akhir dari perjuangan menunda kekahalan, ketika tiba saatnya, kita tak lagi punya pilihan.

*****

Wahai Tuhan Penguasa Kehidupan… Kasih sayang-Mu lebih indah dari segala impian… Terima ibuku dengan cinta dan pengampunan-Mu. Sayangi dia, seperti dia menyayangiku, dari semasa aku masih berupa benih, sampai saat napasnya makin tertatih…

Meski tak bisa kubayangkan ada cinta yang lebih besar dari yang diberikannya padaku, aku yakin, Engkau punya sesuatu untuk-Nya, yang lebih agung dari yang bisa kuduga.

Amin, yaa Rahman, yaa Rahim…

23 thoughts on “Hidup Hanya Menunda Kekalahan

  1. luvaholic9itz

    aku enggak jago merangkai kata keik abang,tapi one day fase kehidupan ini juga akan aku alami,maka dihari itu aku akan berdoa

    ALLAH aku memohon pada MU, atas cinta yang telah ibu berikan pada ku,atas peluh yang bercucur di tubuhna karena ku, atas airmata dirangkaian sujudna untuk ku.
    sungguh aku bersedia menjadi saksi akan amalan na, bersaksi bahwa ibu ku adalah ibu terhebat di dunia.

    ALLAH aku memohon pada MU, ringankan hisab nya, lapangkan kuburnya, layangkan langkahnya, ampuni kekhilafannya, terimalah seluruh amalannya ya ALLAH.

    sungguh aku bersaksi bahwa ibuku adalah ibu terhebat di dunia,

    begitu pun ibu bang TOGA,

    sabar ya bang,😦

    Balas
  2. dije

    kata sabar, mungkin bukan kata yang tepat untuk kusampaikan padamu bang… karena kuyakin abang jauh jauh lebih kuat dan sabar. kehilangan satu orang terkasih sudahlah sangat berat, apa lagi kehilangan keduanya… tak mampu aku bayangkan,.
    tapi aku yakin abang dan keluarga, adalah orang-orang yang tangguh…
    semoga arwah IBunda tercinta diterima di sisiNya yang terindah.

    Balas
  3. ManusiaSuper

    Saya kehilangan kata… Meneteskan air mata… Mengenang bunda saya, dan mendoakan bunda juga ibu bang toga…

    “bagaimana bisa saya tidak merindunya, jika setiap darah yang melewati nadi saya adalah darahnya?”

    Balas
  4. Sarah Luna

    Saya tidak pandai merangkai kata-kata. Hanya saja sudah 19 bulan setelah kepergian bunda ku, namun semua kejadian masih terekam kuat di ingatan ini. Detik2 menjelang kepulangannya.
    Tak ada kata yg bisa mewakili kesedihan ini. Bukan sedih karena menyesali kepergian beliau. Tapi sedih karena masih ingin berbagi hidup dengan beliau, ingin beliau melihat ku tumbuh..
    Separuh jiwaku telah pergi.. Entah kehilangan apalagi yg lebih dahsyat dari pada kehilangan perempuan paling hebat dalam hidupku. Love u mon..

    Balas
  5. weirdaft

    bahkan, setelah 6 tahun, kami tak pernah memanggil emak dengan almarhumah. kami selalu menyebutnya dengan panggilan seolah2 emak memang hanya sekedar pergi ke tempat yg tak terlalu jauh.

    rasa sakit, sedih, kecewa, sampai kehilangan segala semangat jg pernah. tapi bang, saya percaya, emak saya, ibu bang Toga dan ibu2 lain yg sudah lebih dulu berpulang, pasti jauh lebih berbahagia disana. karena udah menemukan tempat mereka yang sebenarnya. tapi cinta mereka, tetap tertinggal disini.

    Balas
  6. lovepassword

    Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Tidak ada yang perlu ditunda dan menunda. Segala sesuatu ada saatnya, termasuk kematian. Mungkin Tuhan sudah kepengin bertemu dengan insan yang dikasihiNya.

    Balas
  7. lilliperry

    ibu abang sudah menjadi pemenang, pertarungannya sudah usai di dunia… semoga ditempatkan disisiNya dengan sebaik2 tempat dan semoga keluarga yang ibu abang tinggalkan mewarisi kekuatan seorang pemenang..

    turut berduka cita bang, moga keluarga diberi kesabaran dan ketabahan..

    Balas
  8. takhe

    Innalillahi wa innaa ilaihi Rojiiuun…Turut berduka cita, Bang Toga..
    Semoga Almarhumah diterima di SisiNya, diampuni segala khilafnya dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah. Amiin..

    Balas
  9. Luky Satriany

    inilah hidup, apa yang harus kita perbuat ?………….hidup berjalan bukan karena proses tapi melainkan hidup berjalan karena kehendak,…….kehendak hanyalah milik yang memiliki apa yang tak dapat kita miliki,…..jadi apapun yang terjadi jangan jadikan sebagai beban hati yang akan terus menghantui,……jadikan dirimu tegar dari segala ketakutan,……bukan cuma hari ini DIA berkehendak,….jadikan semua kehendak-NYA sebagai karunia bagimu,…..jangan jadikan itu sebagai pukulan yang akan kau balas,………..

    Balas
  10. Siu Elha

    turut berduka cita Lae, ibu adalah muara cinta tanpa batas, representasi dari arRahman ArRahimNya, kalau saya sedang kangen dengan ibuku yang mungkin telah bertemu dengan ibumu puisi ini yang selalu kudendangkan Lae, dan itu sedikit mengobati rasa rindu itu…

    Ibu
    Oleh : Siu Elha

    Jika rahimmu adalah pertapaan cinta
    Sungguh aku nikmati masa penantian itu…
    Untuk merekah, memuai sesuai titikku..
    Untuk kusongsong perjalanan dunia…

    jika buaianmu adalah ladang aku mengenal cinta
    ijinkan kureguk manisnya…
    untuk bekalku dalam perjalanan dunia
    yang konon kejam dan melelahkan…

    jika pangkuanmu adalah sandaran cinta
    Ijinkan aku bermasyuk manja disana…
    Dalam hangatnya peluk dan damainya rengkuhan

    Jika dunia adalah padang untuk mencari Cinta
    Sungguh engkaulah oase bagiku
    Untuk sejenak berhenti untuk menghela energi
    Dan melanjutkan pencarian
    Dalam ruang yang tak berujung dan tak berbatas.

    jika akhirat adalah pertemuan Cinta,
    dan ditelapak kakimu bersemayam surga,
    dalam haribaan Cintamu aku ingin melebur
    Karena sungguh yang kurindu bukan jasad yang melekat,
    Namun karena kasih sayang dan Cinta
    Yang sesungguhnya pancaran Asmau’ul Husna

    18 Juli 2007
    Kupersembahkan buat para Ibu, diseluruh dunia….

    Balas
  11. Ping balik: Tak Cukup Dijalani, Hidup Juga Patut Dirayakan « Nesiaweek Interemotional Edition

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s