For Everything Will Come To An End…

Saya lebih memilih satu tarikan napas merasakan aroma rambutnya, satu kecupan saja dari bibirnya, satu genggaman pada jemarinya, daripada keabadian tapi tanpa itu semua…

Kalau sudah nonton City of Angels, dan menyimaknya tentu saja–bukannya malah membuat “suting pilem” sendiri di keremangan bioskop itu–Anda pasti ingat quote itu, dari sang “malaikat” yang diperankan Nicolas Cage.

Ketika harus memilih, antara keabadian yang hampa, an empty eternity, atau sebuah momen yang penuh tapi akan berlalu meluruh, manakah yang akan Anda ambil?

Tapi seorang Connor MacLeod pun, dan para highlanders lainnya, ternyata kelelahan dan bosan menjalani hidup mereka yang abadi. Mungkin karena itu mereka begitu gemar berperang; siapa tau ada musuh yang berhasil memenggal kepalanya, satu-satunya jalan untuk membuatnya mati, berhenti menjadi yang abadi.

*****

Paduka Raja sedang gundah. Kekasih hati, seorang gadis keturunan biasa, namun telah merampas hatinya, dan membuat mahkota tak lagi terlihat berharga, mendadak sakit keras.

Begitu parah, dan hanya satu “obat” untuk membuatnya selamat: satu kecupan dari Sang Raja. Mestinya tak menjadi masalah besar ya?

Tapi tidak. Bila sampai Sang Raja mengecup seorang wanita, di bagian tubuhnya yang mana saja, maka keabadiannya akan hilang, dan dia akan menua, kemudian mati, sebagaimana manusia biasa. Karena itu pula, sepanjang hidupnya yang sudah beratus tahun, dia tak pernah dekat apalagi menikah dengan wanita manapun.

Dia juga tak merasa perlu harus punya putra mahkota, toh dia akan hidup, dan bertahta, untuk selama-lamanya.

Rakyat pun gempar. Mereka tahu, Sang Paduka begitu mencintai si sakit itu. Tapi apa mungkin, “hanya” untuk seorang wanita biasa, dia akan melepaskan keabadiannya?

Tapi Sang raja tak perlu berpikir lama-lama. Dihampirinya wanita itu, yang tergolek tanpa daya,  bahkan tak kuasa untuk sekadar membuka matanya.

Dengan segenap kelembutan hati dan kerinduan panjang akan sentuhan cinta, dikecupnya kening wanita itu, dan seakan tak ingin kehilangan satu detik pun milik sang waktu, dikecup dan dilumatnya bibir yang masih pucat itu, hingga wanita itu perlahan, mulai membuka mata…

Tersentak, seperti bangun dari tidur yang panjang, wanita itu terkejut ketika kemudian mengetahui, sebuah kecupan, kecupan yang tak biasa, telah mencegahnya dari renggutan maut…

“Mengapa Paduka lakukan itu, yang akan membuat Paduka kehilangan keabadian?”

“Justru karena kini aku tak lagi abadi, aku jadi bisa menghargai setiap detik yang akan kulalui, dengan kau selalu di sisi…”

*****

Kisah itu memang tak berakhir seperti umumnya dongeng; “Dan mereka hidup bahagia selama-lamanya…” tapi mungkin akan ditutup dengan kalimat, “… dan mereka hidup bahagia sepanjang sisa usianya.”

Tapi bukankah penutup yang terakhir itu rasanya lebih masuk akal? Bukankah lebih baik “biasa saja” tapi masuk akal, daripada “luar biasa” tapi ternyata cuma gombal?

For everything will come to an end, let’s celebrate every single moment…

15 thoughts on “For Everything Will Come To An End…

  1. luvaholic9itz

    emmmm,, nganu bang..

    diriku baca2 kuq ada yang ilang yak paragraphnya, kalu tak salah paragrah nya sebelah bawah mengkol dikit

    :)) :)) :))

    cuti jeeeeeeeee……!!!!!!!!!

    *menjura pada idenya…

    Balas
  2. silly

    Jadi begitu yahhh… apakah itu juga berarti cuti panjang untuk YM dsb?

    *sedih….*

    jangan lama2, jangan pundung… kek anak kecil ihhh…

    *adikikkkssssss, tendang p*antat*

    Balas
  3. Ping balik: Lomba menulis Danau Toba bagi siswa SMP SMA « Punguan Si Raja Sonang’s Weblog

  4. Siti marshanda binti abdul hamid

    cINTA 2 MEMBUATKAn SESEORAnG ITU BUTA……….KADANG-kADAng IA mEmbuatkan kte bahagia……………..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s