Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria

Masalah yang muncul dalam hubungan pria-wanita, hampir semuanya muncul akibat minimnya saling pengertian satu sama lain. Masing-masing berharap agar pasangan berpikir seperti dirinya.

Hasilnya bisa ditebak. Kedua belah pihak merasa tidak dimengerti, merasa dirinya harus selalu mengalah, dan akhirnya sama-sama terlempar pada kesepian dan kekecewaan masing-masing.

Daripada capek menunggu dimengerti, mengapa tidak mulai berusaha mengerti? Caranya? Bagi saya, salah satunya dengan ngerumpi!

Tentu bukan ngerumpi dengan tetangga A, ngomongin tetangga B yang suaminya sering pulang pagi, diduga karena punya bini simpanan, atau bisik-bisik soal tetangga B yang lakinya justru berangkat makin pagi, juga dicurigai harus singgah dulu ke bininya yang satu lagi.

Ya nggaklayaw… Emangnya kita cowok apaan?

Ini tentang Ngerumpi, Tapi Pakai Hati. Sebuah situs yang diisi dan dimoderasi oleh warga, atau bahasa kerennya, Web2.0-User Generated Content Website. Dari namanya sudah ketahuan kalau warga atau user dan kemudian pengunjung situs itu hampir semuanya wanita.

Apakah sebuah kesesatan kalau saya gabung di sana? Gabungnya tak pula sebatas baca-baca atau nulis satu dua komen–meminjam istilah Silly salah satu pengasuhnya–untuk sekadar “menodai” artikel-artikelnya, tapi juga terlibat penuh, menulis dengan semangat berapi-api (plus mata berair-air karena kelamaan melototin monitor).

Sempet juga merasa aneh sih, pas diundang Simbok Venus, pengasuh lainnya, yang sering dapet giliran shift malam😀. Masa sih, saya yang berwajah sangar berjiwa kasar ini, gabung dengan ibu-ibu dan mbak-mbak yang lembut hati lan ayu paras itu?

Tapi seperti kata pepatah, Tak Kenal Makanya Kenalan Dong! Saya ketikkan juga url situs itu di browser. Mata langsung disapa warna oranye yang hangat. Membaca satu dua tulisan, berkomentar, mengirim tulisan, mengirim lagi, dan akhirnya menjadi warga, walau belum termasuk yang terpuji.

*****

Sebelumnya di blog ini, sebenarnya sudah saya buat juga beberapa tulisan dengan tema wanita. Misalnya, Yuk Belajar Memahami Wanita, Setiap Pria Mestinya Didampingi 4 Wanita, Wanita Mestinya Punya Tiga Hati, Menghormati Ibu Melecehkan Perempuan, Wanita Bukan Cuma Tubuh Itu, termasuk posting dengan bahasa Inggris yang terbata-bata, Finding A Virgin Man (An Unequal Word).

Bahkan di zaman semodern ini, banyak lelaki yang melihat wanita sebagai instrumen seksual belaka, sarana pelepas hasrat yang sepertinya tak pernah sampai terhubung ke ruang hati.

Sayang sekali kalau wanita hanya dipakai untuk urusan pergumulan syahwat seperti itu, saat mereka sebenarnya bisa memberi kita begitu banyak hal lain yang lebih berharga.

Wanita bukan cuma tubuh itu–mereka juga pikiran, suara, sudut pandang. Mereka lebih dari apapun yang bisa kau defenisikan dengan pemahamanmu, dengan hasrat-hasratmu, dengan apa yang kau lihat.

Itulah yang misalnya saya tulis  dalam salah satu artikel itu. Mungkin bisa dikira sok gentle,  biar dapat simpati pembaca wanita. Terserahlah! Emang salah berusaha gentle, walau baru sebatas tulisan? Emang salah berharap simpati wanita, walau bentuknya sebatas tulisan juga? *Eh, kok jadi bawel aku ya? Mudah-mudahan bukan efek kebanyakan ngerumpi*

Tapi sejujurnya, saya juga pernah menjadi lelaki yang “melihat wanita sebagai instrumen seksual belaka” itu.  Sampai kemudian saya menikah, menyaksikan istriku menahan rasa sakit, tangannya menggenggam tanganku, begitu kuat sehingga aku merasa seperti sedang adu panco dengan atlit angkat besi, melihat langsung titipan surga itu turun dari rahimnya: seorang bayi perempuan, dengan suara tangisnya yang sangat soprano.

Lengkap sudah tiga wanita yang menjadi bagian langsung dari kehidupanku; Ibu, Istri, dan Echa, bidadari kecilku itu. Dan jika aku tak hendak berusaha mengerti serba sedikit tentang wanita, bukankah aku telah menjadi anak, suami, sekaligus ayah yang durhaka?

Tidakkah semestinya, pada wajah-wajah perempuan yang menanggung siksa dari “tak adilnya” kehidupan, bayangan paras ibu, istri, dan anakku akan melintas bergantian?

*****

Sebelum tulisan ini menjadi makin sentimentil dan berubah wujud menjadi curcol–kata yang sangat populer di ngerumpi.com–tibalah saatnya mengemukakan hubungan semua ini dengan keputusanku ikut ngerumpi.

Begini, Saudara sekalian. Di sana para wanita bercerita tentang dirinya, harapannya, keinginannya, ketakutannya, kecemasannya, termasuk protesnya terhadap dunia dan kehidupan yang masih terlalu lelaki.

Saya dibuat tersadar, betapa selama ini saya berharap wanita, terutama istri tentu saja, untuk berpikir seperti caraku berpikir. Aku ingin istriku mengerti betapa asyiknya berlama-lama mengelap velg sepeda motor kesayangan, tapi jangan disuruh mengelap piring, gelas, dan meja makan…

Aku juga bingung, mengapa dia tidak mengerti bahwa nongkrong atau hang out dengan kawan-kawan itu sangat perlu, tapi jangan paksa saya menungguinya belanja pakaian, apalagi pakaian dalam… Masa sih ngga ngerti, saya ini kan berorientasi pada isi, bukan kemasan!

Dan seterusnya…

Saya pun makin yakin, Ngerumpi adalah salah satu pilihan hebat untuk melatih empati kepada perempuan dan keperempuanan. Dalam hitungan hari menjadi warga, hasil positif sudah nyata terlihat. Kalau dalam bahasa politisi Senayan, ada kemajuan yang signifikan!

Misalnya, berbagai imajinasi dan pemikiran yang sebelumnya tak pernah terbayangkan dan terpikirkan, kini gemar menghampiri kedirian saya.

Bagaimana seandainya saya harus mengandung sembilan bulan, padahal menggendong anak sembilan menit pun rasanya sudah melelahkan?

Bagaimana jika saya harus menyusui anak berbulan-bulanan, padahal sesekali menyusui istri pun saya sudah berteriak-teriak kegelian?

Bagaimana jika pada malam pertama saya harus merasakan perihnya kehilangan selaput jaka, atau justru harus dicekam ketakutan luar biasa menyadari selaput itu sudah saya robek sendiri saat masih SMP saya mulai tau metode oblada obladi? Bagaimana jika kemudian istri saya sangat kecewa, dan menceraikan saya… Duh, saya harus menjalani hari-hari sebagai duda kembang, dengan gunjingan dan nada sumbang…

Bagaimana jika istri memaksa menindih saya, saat saya betul-betul kelelahan setelah seharian mengurus anak, dan ingin istirahat karena harus bangun pagi esok hari? Tapi saya harus menelentang juga, membuka tubuh dan hati, daripada istri saya tiba-tiba membawa lari anak saya ke perlintasan kereta api, atau setidaknya menghadapi cercaan ulama para malaikat-malaikat suci…

Bagaimana jika seusai menuntaskan hasratnya, padahal pada saat yang sama hasrat saya baru saja mulai bergerak, dia langsung molor, dan saya merasa diri sebagai tempat sampah, penampung cairan yang tak lagi diperlukan?

Saya mencoba menolak? Bagaimana jika suami tiba-tiba mengambil kitab suci, mengacung-acungkannya di depan hidung saya, ngotot diizinkan menikah lagi, dan menentangnya berarti menentang Tuhan dan Nabi, menjadi kafir tak termaafkan sepanjang zaman…

Kemudian bagaimana, ya, bagaimana jika Anda ikut ngerumpi juga?

 

25 thoughts on “Ngerumpi? Y Not? Jika Niatnya untuk Memahami Wanita, Menjadi Makin Pria

  1. lovepassword

    bagaimana jika Anda ikut ngerumpi juga? Wah anda itu rupanya ketinggalan jaman. Jaman sekarang nih memang lagi ngetren cowok ngerumpi. hi hi hi. (ceritanya aku sedang membela diri hik hik hik)

    Balas
  2. teti gunawan

    duh…ada pria yg sekedar baru menyadari aja sdh bikin wanita merasa berarti…teruskan donk usahanya memahami wanita….maka wanita pun akan berusaha memahami sang pria

    Balas
  3. lukman

    tak kenal maka tak gendong😀

    kontribusi bang toga cukup signifikan, apalagi saya yang -tadinya dan sampai sekarang- cuman nimbrung baca doang.😀. mungkin termasuk usaha memahami wanita😀 *diganyang rombongan ngerumpi.com*

    lagi berusaha nulis jugak nih, ahaha, tetap semangat bang🙂

    Balas
  4. Silly

    Ya Tuhan, baru baca tulisan ini bang… Terharu akuhhhh… maka selayaknyalah kalau saya “menodai” artikel ini dengan ucapan, makasih, semoga anda selamat masuk surga… *lohhhh :P*

    Aduh, speechless baca tulisan abang, selalu kental dan dalam maknanya, dan gak ketinggalan… selalu terpingkal-pingkal sampai ngejengkang… sumpah, hahahaha :))

    *itu gambar, ngambil dari manaaa?, Omaigatttt :))

    Balas
  5. Lizzie

    hahahahaha….
    yg paling bikin geli soal “menyusui” itu..wakakakaka…

    eh tpi salut sm bang TOGA nih…
    aku dah sering liat tulisan bang TOGA di ngerumpi
    yaahhh… walopun aku cuma penonton sejati alias blom bisa jd warga.. abis kt si mbok venus udah terdaftar tp koq aku ga bisa2 login..
    sekalian nih komentarku ntuk si mbak silly yg dah komen sblm aku.. he he he
    tulisan bang toga yg pertama kali menarik hati soal “durhaka pada anakku” itu.. (upss sorry klo salah)

    pokoknya bang TOga te o pe banget dah…
    ijin ngelink pagenya ya bang di blog aku..
    hehehehe
    Thank you!!!

    Balas
  6. susie Wae

    Tapi seperti kata pepatah, Tak Kenal Makanya Kenalan Dong! Saya ketikkan juga url situs itu di browser..

    hahaha , ngakak , dasar pria deh , nyari tambahan koleksi lg ya ?? lg2 wanita yg terjebak , hehehe

    Balas
  7. luvaholic9itz

    O la,la,,

    baru mangsud, pantas lha abang merotes penokohan choro yang engga; berubah namanya,, ahahahaha ternyata,, *lirik2 bang toga

    diriku terharu sama postingan enih,, *ngispas2 tangan di depan mata

    “Bahkan di zaman semodern ini, banyak lelaki yang melihat wanita sebagai instrumen seksual belaka”

    OMAIDOG (mas stein) berhentilah melakukan itu makhluk berburung

    Balas
  8. Ping balik: MENjadI SEMAKin WaniTA kAREnA … (kaLIan..) « waNIta BerCEriTA

  9. putirenobaiak

    imajinasi & pikiran terakhir wow! manfaat banget keknya bang toga gabung di ngerumpi. aku udah gabung tapi kalah sama Ito, belum pernah ikutan ngerumpi, ‘denger2’ doang, sesekali nyeletuk😛

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s