Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?

Prestasi anak pasti membuat orang tua bangga. Tapi bukankah itu sama naifnya dengan anak yang membangga-banggakan orang tuanya, padahal dia sendiri sesungguhnya bukanlah siapa-siapa? Sekadar berbagi kerisauan hati…

“Riqueza Raihan Nainggolan!” kata pembawa acara, lantang, disambut gemuruh tepukan ratusan murid SD Wahidin Medan, dan para orang tua murid  yang menyaksikan pembagian rapor dan pengumuman peringkat di sekolah itu.

Echa, bidadari kecilku itu, dituntun wali kelasnya yang tampak sumringah, melangkah ke depan. Dia peringkat 2 paralel di seluruh kelas 1, dari 1-A sampai 1-M. Tak bisa kucegah hatiku dari membuncah oleh rasa bangga yang meluap melimpah ruah. Tak sadar aku bertepuk tangan, lebih keras, lebih bersemangat, lebih satu menit!, lebih lama dari siapapun yang ada di situ.

Para orang tua dan guru-guru di dekatku segera tahu, aku ayah anak yang dipanggil ke depan itu. Rasa bangga itu makin menjadi-jadi. Ingin rasanya menegaskan kepada mereka yang sedang melihat ke arahku, “Ya, aku ayah anak itu, aku ayahnya!

Tingkat kebanggan itu terus naik, hingga kepalaku rasanya mau pecah karena tak sanggup lagi menampung volumenya, ketika kudengar bisik-bisik di sebelahku, bahwa di sekolah yang muridnya dominan suku Tionghoa itu, sangat jarang siswa dari suku lain menjadi pemuncak peringkat.

Tapi tunggu dulu! Echa sendiri kok malah biasa saja ya, ekspresinya? Bahkan ketika melihat ayahnya sibuk jeprat-jepret dengan ponsel, persis wartawan infotainment membidik Manohara, wajahnya tetap datar, sedatar permukaan danau menjelang pagi. Lho? Malah dari caranya melirik aksiku, dia seperti berkata dalam hati, “Dasar wartawan!”

Jadi ingat aku, tiap menonton berita di televisi, ketika para jurnalis mengerumuni atau mengejar-ngejar sumber berita yang kadang sampai kesulitan bergerak, Echa pernah menyatakan keheranannya. “Wartawan kok gitu, Pak? Kerja Bapak gitu juga, ya?”

Echa tetap tanpa ekspresi. Aku pun menghentikan aksi ala paparazzi. Aku jadi berpikir sendiri, yang berhasil dapat nilai tinggi itu aku apa Echa, sih? Kok aku yang sibuk tak karu-karuan, Echa malah biasa saja, seperti merasa tak ada yang pantas dibanggakan, atau dirayakan dengan cara yang berlebihan. Malah cenderung seperti menahan beban. Ah, mudah-mudahan itu perasaanku saja.

Setelah berhasil mengambil empat foto, dua di antaranya buram—tahu sendiri efek delay foto pakai ponsel, plus fakta bahwa yang mengambil foto malah lebih banyak gaya dari yang difoto—aku berangsur mundur. Kebanggan tadi pun mulai mengendur, kemudian tuntas terkubur.

Perlahan, aku merasa seluruh indera mulai kehilangan koneksi dengan realitas di sekitar. Suara pembawa acara mengumumkan juara paralel dari kelas lainnya pun mulai terdengar samar. “Calvin Wijaya, Steven Ongso, Patrick Wang, Eveline Lucky…” (Tentu saja saat itu aku tak ingat persis nama-nama itu. Aku mengetahuinya dari daftar yang dibagikan kemudian).

Di tengah kerumunan dan sorak-sorai yang makin ramai itu, aku malah terasing dalam sunyi pikiranku sendiri. Aku berdiri, bersandar pada tembok yang ditempeli poster pengumuman penerimaan murid baru. Apa yang sedang kubanggakan dari prestasi gadis kecil itu? Pada bagian mana peran pentingku dalam pencapaian prestasinya, sehingga aku bisa mengambil porsi terbesar dalam perayaannya?

Bukankah mungkin saja, dalam ekspresi datar itu Echa sedang mengirim sebuah pesan. “Lihatlah Ayah, aku tetap bisa berprestasi, dengan semua kekeliruan, kesalahan, dan ketidakmampuanmu sebagai orang tua. Ayo, banggalah Ayah, atas kerja kerasku, berlagaklah sebagai pahlawan, walau akulah yang letih berperang. Pebasket yang bertarung, tapi ‘cheerleaders’ yang meraung.

Satu per satu arsip kedurhakaanku sebagai orang tua kepadanya, mengalir bagai slide dalam kepala, gambar ingatan dengan resolusi tinggi. Bahwa satu-satunya hal yang berhasil “kuajarkan” padanya adalah, “ucapan tidak perlu sama dengan perbuatan”.

*****

Bosan dia mendengar, juga dua adiknya, Zaid dan Juan, bahwa yang paling penting bagiku, ayah mereka, adalah kebahagiaan keluarga. Tapi lebih bosan lagi mereka menerima kenyataan, betapa dengan gampangnya aku membatalkan rencana jalan-jalan bersama mereka ke mal atau ke manalah itu, karena mendadak ada penugasan atau rapat penting di kantor. Bapak kerja mati-matian gini, kan demi kalian juga!

Tiap hari mereka kukuliahi—padahal Echa baru kelas 1 SD, Zaid baru TK, Juan malah masih pipis sembarangan, tapi itu tadi, sudah dipaksa mengikuti perkuliahan, yang menjemukan karena hanya berisi pengulangan—bahwa dalam kehidupan ini, uang bukan segalanya. Bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari materi. Bahwa merekalah sumber kebahagiaanku yang sesungguhnya, dan bahwa kepentingan mereka berada di atas segalanya.

Tapi ketika mereka mencoba menggelayut manja, atau bertingkah lucu di depanku dalam usahanya meraih perhatianku, menunjukkan hasil lukisan pemandangan dengan bukit-bukit berwarna pink dan awan berwarna ungu, aku akan merasa sangat terganggu. “Bapak sibuk nih, ada kerjaan penting. Sana main di luar, kenapa?”

Biasanya mereka belum beranjak. Masih menggelayut, menirukan dialog dalam sinetron Ronaldowati, atau membentangkan lukisan “surealis” tadi. Aku menggelengkan kepala, nada suara langsung meningkat satu oktaf. “Kalian ini memang paling susah dibilangin. Nih, sana jajan di warung!”

Aku tak pernah tahu, lebih tepatnya tak mau tahu, bukan uang itu yang mereka minta, tapi perhatianku. Setelah menerima uang lima ribuan itu, mereka tak pernah pergi ke warung. Uang itu di masukkan ke dalam celengan plastik, kembali bermain di kamarnya, atau mewarnai lagi lukisan tadi. Bukit-bukit pink itu kini ditimpa warna merah tua, langit di atasnya berwarna makin gelap. Seperti senja yang menangis…

Itu baru mata kuliah umum. Ada pula mata kuliah dasar keahlian, tentang pentingnya menghidupkan kasih sayang, dengan berlaku lemah lembut kepada sesama anggota keluarga. Saya akan sigap menegur Echa, untuk tidak kasar kepada adiknya. Bila perlu dengan membentak.

Dalam kuliah tentang kasih dan kelembutan ini, aku tidak jadi dosen sendirian. Ibu mereka juga seorang guru besar soal ini. Tapi di depan mereka, aku dan istri malah suka berlomba, siapa duluan mencapai nada suara tertinggi ketika berdebat. Mereka bahkan lebih heran lagi, ketika aku malah berbicara sangat sopan dengan tamu yang sesekali datang ke rumah. Istriku juga bukan main lembutnya, bertegur sapa dengan orang asing, misalnya ketika sama-sama antre di kasir swalayan.

“Ngga boleh marah-marahan, harus mau saling memaafkan. Allah ngga suka sama orang yang memutus silaturahmi.” Tapi di depan mereka aku dan istri sering tak saling tegur sapa, dari pagi sampai pagi lagi. Mukaku cemberut, wajah istriku merengut. Mukaku yang dari sononya memang sudah kusut, jadi mirip jeruk purut yang sudah butut. Membayangkannya pun, wajah Anda dijamin ikut keriput.

Besoknya, di meja makan saat sarapan, tak juga tercapai genjatan senjata apalagi perdamaian. Usaha Echa melakukan mediasi, tentu saja dengan teknik rekonsiliasi anak kelas 1 SD; sekadar bertanya mengapa kami tak ada yang bicara, malah diganjar bentakan. “Udah, makan yang betul. Jangan ngomong aja!”

“Jangan bohong, itu dosa. Nanti Tuhan marah.” Tapi bahkan bocah-bocah ingusan itu pun bisa merasakan ada yang janggal dalam cerita dan pengakuanku. Aku sendiri kadang sampai lupa, kapan dan tentang apa saja aku berbohong kepada mereka, atau ibunya.

Di sisi lain–mungkin berkaitan dengan tradisi dustaku tadi–mereka juga menyaksikan bagaimana ibunya makin mirip agen KGB di masa Lenin, mengawasi gerak-gerik ayah mereka, seolah aku ini antek kapitalis yang ingin menghancurkan Kremlin.

Begitu suaminya pulang ke rumah, tak akan ditanya sudah makan apa belum, atau memeriksa apakah organ tubuhnya masih lengkap. Si agen dengan sigap akan menyita ponselku, mengecek siapa tau ada SMS mesra dari wanita jalang, yang mungkin lupa terhapus. Ketika hasilnya nihil, dia sudah punya prosedur tetap, check list lengkap. Berikutnya, daftar panggilan terakhir, kapan, dan berapa lama durasinya. Dari dia aku tahu, daftar panggilan tetap bisa diketahui, walaupun sudah dihapus. Begitu juga SMS yang sudah dihapus, tetap ada datanya. Hanya saja “content” atau isi SMS-nya tidak utuh, hanya beberapa karakter pertama. Tetapi itu yang kadang jadi bahaya, jika misalnya SMS itu diawali dengan kata, “Sayang”, itu sudah cukup untuk mengundang petaka. Padahal SMS lengkapnya mungkin, “Sayang kalau dilewatkan, diskon besar2an akhir tahun.” Ternyata SMS promosi.

Hebatnya, ketika tak menemukan hal mencurigakan, dia bukannya senang sang suami ternyata terjaga dari kesesatan. Kadang malah jadi terlihat seperti berpikir keras lagi. Persis seperti jaksa yang putar otak untuk tetap menjerat terdakwa, yang eksepsinya baru saja dikabulkan hakim. Bukan untuk menemukan kebenaran dan keadilan, tetapi membuktikan dia memang salah, seperti kuperkirakan. Ini soal harga diri!

Nah, si Agen merangkap jaksa itulah, yang juga nyambi jadi ustadzah, memberi ceramah tentang pentingnya rasa percaya. Putrinya, yang seperti anak seusianya di zaman serbadigital ini, dalam usia dini sudah dicekoki sinetron picisan di televisi, memang sudah mulai bertanya apa itu cinta. “Cinta itu berarti harus percaya, nggak boleh curiga. Juga ngga boleh bohong sama yang kita cintai. Jadi, cinta itu kejujuran sama kepercayaan, Cha”. Untunglah Echa tidak menginterupsi ceramah itu, menyimpulkan kedua orang tuanya ternyata tidak saling mencintai. “Kan sering bohong dan saling curiga?”

Dan daftar memalukan ini bisa sangat panjang jika diteruskan… Entahlah pada keluarga lain, tetapi di rumah kami, itulah yang kerap terjadi.

Anak-anak itu, bocah polos titipan surga, tak pernah bisa mengerti, mengapa ucapan kami ke kanan tindakan kami ke kiri. Mereka sering bingung, karena dituntut untuk berpikir seperti orang dewasa, ketika kami menyemprotnya dengan kata-kata semacam, “Kok susah ‘kali sih ngertinya kalian?”

Padahal kamilah, ayah dan ibunya, yang justru tak mau mengerti mereka masih bocah, dan tak mungkin dipaksa punya logika seperti orang tuanya. Seakan kami tak pernah menjadi anak-anak seperti mereka.

Oiya, ada satu lagi mata kuliah keahlian: Sejarah! Mereka harus betah mendengar kisah kami tentang susahnya masa lalu, jalan kaki ke sekolah, bantu ibu kerja di sawah, makan tanpa lauk, dst. “Kalian sekarang serba enak, sekolah diantar jemput, di rumah bisa main PS!”

Mereka adalah manusia hari esok, tapi kami sesaki jiwanya dengan kisah-kisah kemarin.

*****

Pengumuman peringkat itu sudah selesai. Proses mencaci-maki diri sendiri itu terpaksa kuakhiri. Echa mendekat, lirih menyampaikan permintaan maaf. “Echa udah belajar yang rajin, Pak, tapi ngga bisa ranking 1 juga.  Bapak ngga marah, kan?” Aku jadi sedih, sekaligus lega. Wajahnya yang tampak kurang bahagia itu ternyata karena merasa gagal jadi #1, bukan karena menyerapahi kedunguan orang tuanya.

“Ya, nggaklah, Kak. Bapak aja dulu cuma ranking 3.”

“Lho, katanya dulu Bapak ranking 1 terus?”

Ops, tuh kan aku sudah berbohong lagi, dan biar tidak dianggap berbohong, aku terpaksa berbohong sekali lagi. “Hehehe, nggak, bohong Bapak waktu itu. Cuma rangking 3 kok. Yuk, pulang dulu ke rumah, ganti baju. Makan-makan kita ke mal ya? Nanti kita cariin hadiah untuk Kakak. Kemarin minta tas Barbie, ya? ”

Reaksinya kemudian seperti mencopoti sendi-sendiku. “Jalan-jalan, Pak? Emangnya, Bapak ngga ada rapat penting di kantor? Nanti Bapak dimarahi lho gara-gara Echa! Kata Bapak, kantornya rugi besar kalau Bapak ngga ada?”

Aku segera menjawab dengan tegas, lebih tegas dari Proklamasi 1945. “Mulai sekarang, dipecat pun ngga apa-apa, Nak. Bapak bisa cari pekerjaan lain, tapi tidak bidadari kecil lain.” Proklamasi yang hanya terucap di dalam hati, tentu saja. Tau sendiri susahnya cari kerja sekarang.

“Nggak. Bapak udah permisi kok. Tadi pagi Bapak udah bilang, mau jalan-jalan sama anak Bapak yang jadi juara di sekolah. Bos Bapak senang kok, malah kirim salam dia sama Kakak. Kakak hebat katanya!”

“Lho, tapi kan barusan juaranya diumumkan. Kok Bapak udah tau dari tadi pagi?”

Aha! Aku lupa sedang berhadapan dengan juara paralel. OK. Kau boleh pintar, Nak, tapi jam terbang Bapak sudah tinggi. “Kan Bapak sudah tahu Kakak bakal juara, karena Bapak lihat Kakak rajin kali belajarnya.”

Barangkali dia mau menjawab lagi, “Lho bukannya Bapak kemarin itu marah-marah terus, bilang Echa bakal tinggal kelas kalau belajarnya malas gitu?”

Tapi dia memilih diam. “Kembangkan terus kebohonganmu, Pak. Yang penting aku bisa mencicipi sekeping waktumu, di tengah padatnya pekerjaanmu, banyaknya rapat yang mesti Bapak ikuti, dan kariermu yang terus melejit di kantor.” Karier dari Hongkong!

Tangan mungilnya menggenggam tanganku, saat kami menuju tempat parkir. Kebanggaan itu mungkin harus kulepas karena memang bukan hakku, tetapi sebagai gantinya aku seperti menemukan sesuatu yang lebih penting, yang selama ini hilang, atau lebih tepatnya, tanpa sadar telah kusingkirkan.

Kau juara, Nak. Bapakmu malah tinggal kelas. Tapi ngga apa-apa. Bapak akan belajar lagi dari awal…

*****

Sambil nyetir, aku menelepon istri–ini juga contoh perilaku buruk sesungguhnya, sangat berbahaya–biar dia dan dua adik Echa siap-siap. “Kita makan-makan ya, Mak, Echa juara lho!”

“Oiya? Siapa dulu dong Ibunya!” Speaker ponselku seperti mau retak dihantam suara penuh kebanggan itu. Memang berjodohlah kita. Naifnya klop!

“Justru itu, tadi rupanya sudah disiapkan jadwal buat Ibunda Echa, untuk menyampaikan pidato sambutan, sekaligus pengarahan kepada para orang tua murid, bagaimana cara mendidik anak menjadi juara. Tapi karena Ibunda Echa ngga ada, terpaksa diganti dengan atraksi Barongsai.”

“Sayang ya, Pak. Kalau gitu, Bapak cepatlah kemari, bawa perlengkapan dan kameramu. Mamak mau gelar konferensi pers!”

“Oh, maaf, Bu, media kami ngga terbit besok, libur untuk menghormati keberhasilan Echa.”

Di sebelahku, Echa tak mau ambil pusing dengan percakapan penuh ilusi, antara ayah dan ibunya. Bante kalianlah situ. Toh cakap ilusi masih lebih baik dari cakap emosi.

Sepanjang jalan, dia masih saja memelototi daftar peringkat itu. Selisih tiga nilai saja!

Ingin rasanya kuhibur dia. “Jangan sedih, Kak. Yang juara satu itu mungkin masih ada hubungan keluarga sama yang punya sekolah. Wajarlah dia juara!

Tapi tadi aku sudah berjanji, tidak mencekokinya racun lebih banyak lagi. Tak bisa mendidik, mbok ya jangan merusak. Tak bisa membantunya tumbuh, setidaknya jangan membuatnya rubuh.

Di luar kulihat orang bersimbah peluh, ditampar matahari yang bersinar penuh.  Hari sudah berlalu separuh.

33 thoughts on “Anak Berprestasi, Bangga atau Justru Malu Sendiri?

  1. hh

    Wonderful daughter!
    Alangkah bahagianya kau, lae Toga, cantik dan pintar borumu; bereku. Selamat ya Lae.

    Echa, selamat ya bere, atas prestasimu. Continues to do well. Keep up the good work, biar bapak & mama makin bangga, dan tentu masa depanmu akan baik.

    dari tulang.

    Balas
  2. Toga Nainggolan Penulis Tulisan

    Mauliate, Tulang…
    Dalam tradisi Batak, yang mendapat kehormatan adalah tulang, karena pasu-pasu merekalah sebuah keberhasilan bisa dicapai anak borunya.

    Horasma.😀

    Balas
  3. Juniza

    Saya kira tdk seburuk itulah anda dan istri memperlakukan anak2.. hehehehe… tp otokritik itu perlu. apalagi kekeliruan2 sprti itu adalah hal yg sering dilakukan para orang tua. Tapi gak semua bisa menyadari dan mengakui. Kita mmg terlalu konsentrasi pada kedurhakaan anak, sampai lupa bahwa orang tua trnyata bisa durhaka juga kepada anak2nya.

    Tulisan bagus gan.

    Balas
    1. Maren Kitatau

      Betul, Jun!

      Selalulah beri dgn cara pujian pd anak,
      Jauhkan segala cara penakutan darinya.
      Tengoklah cara tentara cara bangsawan, … Jauhhh!
      Beda cara tentu beda hasil!

      Salam Cara!

      Balas
  4. negeri tulip

    Hi , Echa cantik ,cantiknya pasti turunan mamanya nih🙂
    selamat atas prestasinya , asli ikutan bangga ( loh ) , semoga makin enjoy sekolahnya , makin banyak teman dan selalu happy , dan jangan sampai prestasi kali ini malah menjadi beban sekolah Echa ya ..

    Buat bapak dan mamaknya Echa , gak apa2lah bangga namanya juga anak dapet juara , kita sebagai ortu anak abisin maemnya sendiri aja happynya dah selangit , hehe
    Tp mungkin bangganya jangan terlalu berlebihan kali ya di hadapan Echa biar gak menjadi beban psikis buat si Echa utk selanjut2nya , duh maafin ya kok jd sok tahu gini , hehe
    Eh ngomong2 namanya panggilan anak kita hampir sama loh , si sulungku panggilannya Icha , mirip khan ama si Echa ?

    salam buat sekeluarga

    Balas
  5. OktaEndy

    Bang, aku baca sambil mata berkaca2. baru 4 bulan aku punya momongan, tapi kayanya gak bisa 80% waktu ku di rumah buat dia.
    membaca cerita diatas, aku jadi tertampar..🙂
    Terimakasih Bang..

    Percaya Bang, Echa pasti bangga punya bapak seperti abang..

    Balas
  6. sealead

    weheeee,,,,salam super,,,,hahahaha
    selamat buat echa dan ayah handanya,
    hwaaaah berbagi sedikit pengalaman, pengalaman yang buruk c, tp gk apalah

    begini ceritanya,,,,,,

    pada suatu hari,,,,hwalah, pokoknya jaman aku SMP klas 1, cawu 1(baru masuk SMP), aku terlalu sibuk dengan kegiatan ekstra kulikuler pada wakktu itu, sampai akhirnya ketika bagi raport cawu 1 tiba, dan ternyata,,,,,ada 2 nilai merah tertera di sana, (untuk pertama kalinya tertera angka 4 dan 5 di raport), aku shock,,,hingga 3 bulan gk makan (lebai), yang jelas c,,ortu ku yang hock, aku di marahi habis2an, pelan2 sadar klo itu memang salah ku juga c, terlalu sibuk dengan kegiatan out door, awal cawu 2 semua berubah, aku mulai bisa bagi waktu, singkatnya,,,tiba saat pembagian raport cawu ke 2, aku bisa sedikit memperbaiki nilai ku yang di cawu 1, langsung dapet rangking 9 di kelas, hohohohoho, hati ku berbunga bunga, akhirnya bisa dapet rangking setelah cawu 1 nilainya ancur2an , sesampainya di rumah,,,,,aku memperlihatkan raport itu pada ayah,(suasana saat itu santai, gk ada ketegangan), ayah memerhatikan raportku,,,berdiam,,,dan akhirnya bilang, ” APA YANG BISA KAMU BANGGAKAN DARI RANGKING 9 DI KELAS??? ”
    aku terdiam, kaget,,,,tapi masih sabar,hanya menangis di pangkuan mama, merasa gk di hargai banget usahaku,,,,

    lanjut ke cawu 3, kenaikan kelas, aku masih berusaha keras mendapatkan nilai yang lebih baik,,,,lagi2 bagi raport,,,wow,,,dapet rangking 6 sekarang,,,,udah bisa naik peringkat dari cawu kemaren, oh ya lupa, kelas ku tuh kelas unggulan, dengan nilai segitu di kelas lain aku bisa dapet rangking 3 ato 4 loh, hehehee,,,,

    pulang ke rumah, menghadap ayah,,,,kali ini gk sebangga dulu, takut kecewa lagi dengan reaksinya,,,dan ternyata, beliau,,,,berucap…” YANG HEBAT TUH RANGKING 1, RANGKING 6 TUH GK ADA APA APANYA, AKU SEKOLAH DULU SELALU RANGKING 1, BIKIN MALU KELUARGA AJA KAMU ”

    arrgghhh,,,,,,,,,,,,,,,,,

    tidak bisa sabar lagi kali ini, aku ambil parang dan ku tebas kepalanya (hahahahah, ini hanya khayalan)

    oke2, yang bener aja,,,usaha belajar hanya dapet kata2 seperti itu, sejak saat itu,,,aku bersumpah untuk gk akan pernah belajar lagi, dan ,,,well, sampai sekarang aku memang gk pernah belajar, tanpa belajar, aku bisa sampai ke jenjang kuliah, dan kuliah pun dari awal aku menargetkan untuk kuliah 6 tahun,nmemang sengaja di lambat2in lulusnya…hehehe, ntar belajar klo dah skripsi kali yah, sementara ini , belum ada hasrat untuk belajar, aku jadi terkenang jaman lulusan SMA, ketika standar nilai udah di berlakukan, UAN, dengan nilai 4,75,,,ketika siswa lain belajar giat di rumahnya untuk menghadapi UAN, aku malah keluyuran jalan22 di kotaku, tanpa menyentuh diktat pelajaran sedikit pun,,,,dan ternyata aku lulus juga
    hehehehe

    untuk para orang tua, aku gak tau yang ku alami ini salah siapa, karena setiap orang tua punya cara mendidik yang berbeda 1 sama lain,,,tp kalau bisa, jangan perlakukan anakmu seperti ayah ku memperlakukan ku,,,,😀

    Balas
  7. Ping balik: Ranking 6 Itu Ngga Ada Apa-apanya! « Nesiaweek Interemotional Edition

  8. Ryan Shinu Raz

    Horas.. !!!

    Betul betul meneteskan air mata aku baca tulisan lae ini. Tapi mungkin lebih banyak bingung menentukan perasan hati apakah sebaiknya menangis atau tertawa geli membaca setiap kalimat-kalimatnya. Hebat! benar2 hebat postingan ini. Rasanya gak salah kalau setiap membaca tulisan lae ini menjadi inspirasi.

    “……Mereka adalah manusia hari esok, tapi kami sesaki jiwanya dengan kisah-kisah kemarin…..”

    Balas
  9. annisa

    wiiiiii!!!! ^_^

    Jadi inget masa SD, dulu tuh ayah aku selalu bilang gini ” POKOKNYA KAMU HARUS MASUK TIGA BESAR!!”, yaa~ ujung-ujungnya emang sealu masuk tiga besar, tapi tetep aja “tidak berarti”, bahkan cenderung cape banget ngikutin apa maunya orang tua, emang sih demi kebaikan, tapi apa jadinya suatu kebaikan yang dilandasi oleh sikap menuntut? Tidak akan menjadi apa-apa. Setelah baca ini, aku jadiin referensi dalam mendidik anak aku nantinya ya~~ (itu juga kalo punya anak XD).

    “Tak bisa mendidik, mbok ya jangan merusak. Tak bisa membantunya tumbuh, setidaknya jangan membuatnya rubuh.”

    Balas
  10. unai

    degh..merasa tertampar pun aku Lae…aku merasa bangga berlebihan ketika Alif meraih banyak prestasi di TKnya, tp..pelajaran apa yang sudah aku beri? duh semoga ndak salah asuhan.

    Balas
  11. Introverto

    first visit…menjura dengan tulisanmu bang…hihihih…*dijamin lain kali mampir lagih*

    jadi inget jaman sekolah dulu dapet ranking cuma ampe kelas 5 sd…selanjutnya ampe sma: Yang penting naik kelas hahahahha…tapiii tapiii weitz pas kuliah pertama ntah kenapa IPK saya di atas 3, dan waktu itu kampus saya standar nilai A itu baru dengan angka 85…

    dan kuliah ke-2 nyaris cumlaude..yang menurut saya nyesek…walau skripsi A bulet..tapi bapak saya, bangganya setengah mati dan cerita ke tetangga2..yang malah bikin saya malu..tapi saat saya liat binar matanya yang terlihat beliau bangga..saya jadi terharu…ya itulah seorang ayah…topb…ga kalah dengan seorang ibu yang juga topb..

    *aaahhhh jadi curcollll*

    Balas
  12. Introverto

    eh kurang..waktu moto sekolah saya yang penting naik kelas itu…hebatnya bapakku ga pernah ngomel sedikit pun, bahkan waktu aku diterima penjurusan IPS bukan bahasa saat naik kelas 3 SMA, bapakku ngasi selamat, karena itu jurusan yang memang aku incer, even ya even nilaiku naik juga pas2an…

    malah abang2 ku yang dua itu, yang selalu ranking yang ngomel terus, gara2 nilaiku parah…, tapi pas kuliah…hahahha…malah kebalikannya, mereka tak ada yang lulus dengan IPK di atas 3..nyaris pun tidak…apalagi nyaris cumlaude..

    karena motoku waktu kuliah…gue ga mau ngecewain bapak ibuku lagi setelah sekian lama mereka pasrah dengan hasil sekolah gue..hahhah

    *tuch kan curcol lagih*

    Balas
  13. Irnaa

    haha…. sama tuh yang terjadi dalam keluargaku. kalau anak-anaknya dapat juara, oranngtuanya senengnya minta ampun sampe diceritakan pada tetangga. padahal nih tak sedikitpun pernah mengajari anaknya untuk belajar dan tak mau mengerti bagaimana kesulitan anaknya saat belajar dan harus menjadi yang terbaik.

    Balas
  14. Maren Kitatau

    @all

    Bagusan jadi orang pinter apa jadi orang pandai, ya!
    Orang pinter sedang menghalus ke dukun,
    Orang pandai malah sudah pada hilang.

    Pinter omong pd nangkring di DPR
    Pandai besi pada tergilas industri.
    Cing!

    Salam Damai
    Penuh Puasa.

    Balas
    1. hh

      Hush……..si akang pinter omong_in DPR
      kalau menghalus ke Dukun, memang
      sikit mengarah ke Pesong,
      hehehe, Rittik

      Salam ketemu lagi, kang

      Balas
  15. Siu Elha

    cerita anak-anak memang selalu menguras air mata, aku pernah baca di detikcom Lae, kalau kepandaian anak itu menurun dari ibunya hahahaha…
    TUlisan yang sangat menyentuh as usual…

    Balas
  16. firman juliansyah

    Bangga boleh saja jika memang dia berperan penting atas keberhasilan anaknya. Mungkin lebih tepatnya bersyukur… kalo tidak begitu care ke anak, lalu bangga atas prestasi anaknya, baru itu gak asyik… kalo dia care dan perhatian bahkan berjuang… boleh aja atuh. wajar koq… yang lebih penting, berikan hadiah terbaik bagi mereka, bergabunglah di www indi-smart dot com

    Balas
  17. firman juliansyah

    Bangga boleh saja jika memang dia berperan penting atas keberhasilan anaknya. Mungkin lebih tepatnya bersyukur… kalo tidak begitu care ke anak, lalu bangga atas prestasi anaknya, baru itu gak asyik… kalo dia care dan perhatian bahkan berjuang… boleh aja atuh. wajar koq… yang lebih penting, berikan hadiah terbaik bagi mereka, bergabunglah di www indismart dot com

    Balas
  18. rasyed

    mmm TOP gan postingan nya, mengena dan kata perkata bait perbait tersusun dan terangkai bagus gan…isi juga menyentuh banget gan…( TOP buat sampean gan moga-moga makin sukses dan tetap semangat mengontrol si kecil )

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s