Hakikat Kerakyatan, Lebih Cepat Melanjutkan Derita

Tiga pasangan itu sama-sama bagus. Maksudnya, bagus dalam berjanji, mencela, membusungkan dada atau membesarkan paha. Nasib kita di tangan kita, siapa pun yg terpilih tak kan memberi beda.

Dengan segala kehebohannya, mereka toh cuma sedang cari makan, sama seperti penjual es dawet ayu, yang berpeluh diterkam terik, merunduk dipukul debu. Bedanya, si penjual es ini tak merasa perlu berbohong, atau mengata-ngatai penjual es buah di sebelahnya.

Dua paragraf di atas menjadi status paling panjang sekaligus paling skeptis sepanjang sejarah saya berpesbuk. (Sejarah, Cing!)

tabloidberita.com

Sepenimuman teh sebelum meng-update status itu, (teh dalam gelas berukuran sedang), aku emang baru aja ngeliat penjual es dawet ayu,Dengan segala kehebohannya, mereka toh cuma sedang cari makan, sama seperti penjual es dawet ayu, yang berpeluh diterkam terik, merunduk dipukul debu. Bedanya, si penjual es ini tak merasa perlu berbohong, atau mengata-ngatai penjual es buah di sebelahnya sebenarnya lebih cocok disebut dawet layu, soalnya sang penjual memang kelihatan kuyu, menunggui gerobak berwarna hijau muda. Ada lukisan Semar di atasnya, dibuat seadanya.

Bukan terik yang membuatnya layu, malah hari yang menyengat merupakan kondisi ideal buat usahanya. Tetapi bahkan dalam terik pun omset tak juga naik. Di sebelahnya, hanya sepelemparan batu (batu berukuran sedang ya), berdiri penjual es buah. Menatap ke jalan, seperti menghitung tubuh-tubuh yang melintas, atau mengutuki langkah mereka yang terlalu bergegas, seperti sengaja mencegah matanya singgah dan terpikat pada es buah yang dijajakannya.

*****

Melihat para penjaja es itu, mengingat jutaan lainnya yang bernasib tak jauh beda, merasakan terik menerobos topinya yang kumal, menyaksikan peluh yang seperti dipaksa keluar dari tubuhnya, kehebohan pemilihan presiden ini terasa aneh, berlebihan, lucu, menyebalkan, dan seterusnya.

Belum lagi ketika aku sadar, dalam kuyu dan layunya, bola mata itu ternyata tetap menyisakan kewaspadaan. Waswas, sewaktu-waktu serombongan pria berseragam, memegang pentungan, duduk gagah di atas mobil bak terbuka, menghambur, menyergap tiba-tiba..

Mereka sungguh tak bisa mengerti mengapa diperlakukan seperti hama. Mereka juga tak habis pikir, mengapa berjuang mempertahankan hidup dianggap sebagai dosa besar, sehingga harus diberantas dengan pentungan. 

Tapi mereka memang tak perlu mengerti, tetapi lari, menghindar sejauh mungkin, menyelamatkan apa yang sempat digenggam.

Dan di hadapan “sampah-sampah” itulah, bapak-bapak yang tampak sehat-sehat, ibu yang kelihatan serba sentosa, malah ikut-ikutan buang sampah sembarangan.

Sampah-sampah janji, utang yang mereka sendiri pun sebenarnya sadar itu tak mungkin dibayar. Memperkenalkan diri sebagai pemimpin yang telah dipilihkan sejarah, yang jika sampai tak terpilih, maka nasib bangsa di ambang kehancuran.

Sampah yang mengeluarkan sampah, di hadapan manusia yang dipaksa menjadi sampah. Tapi bukankah sampah harus segera dibersihkan?.

Para penjual es itu kemudian bergerombol, menjadikan apa saja yang ada sebagai senjata; sendok, mangkok, gelas, termasuk gerobak, serentak menyerbu para penebar janji, para pembuang sampah itu. Tanpa ampun mereka terus meringsek, tak peduli peci dan dasi si bapak berserakan terinjak-injak, kebaya si ibu di sana-sini terkoyak-koyak..

Kasihan? Maaf, kami hanya melaksanakan kewajiban, menjaga kebersihan kehidupa, memastikan tak ada sampah pengkhianatan yang berserakan.

Persis seperti Bapak-bapak berseragam itu, yang memburu mereka tanpa rasa kasihan, sebagian malah menikmati betul perburuan itu. Gerombolan penjual es itu makin beringas. Debu menggila memenuhi angkasa, mengaburkan pandangan, membuyarkan khayalan.

Penjual es dawet itu masih di situ, diterkam terik, ditampar debu. Sebaliknya, penjual es buah malah diterkam debu, ditampar terik.

Tak ada yang kuasa membersihkan sampah-sampah janji itu. Baunya wangi sih! Malah makin banyak yang terbius, terlibat makin intens dalam sandiwara yang meraksasa itu. Diam-diam, orang mulai percaya, bahwa nasib bangsa ada di tangannya. Diam-diam dia mulai merasa punya hubungan emosional dengan salah satu pasangan, dan kontan naik pitam jika ada yang mencelanya. 

Angkasa makin keruh. Debu mempercepat kelam. Es dawet mulai basi, es buah sudah keruh dari tadi.

Baiklah, saatnya pulang ke dekapan malam. Esok, derita ini kita LANJUTKAN. MAKIN CEPAT MAMPUS, MAKIN BAIK. Bosan juga dengan EKONOMI KERAKYATAN, ekonomi di trotoar dan bahu jalan, jadi bahan mainan bapak-bapak berseragam.

Tapi tidak para pejanji itu. Malam tak menghentikan bualannya. “Pilih saya,” pekiknya menjelang jam tiga, saat kuntilanak pun tak kuat lagi menahan kantuknya.

 

 

 

12 thoughts on “Hakikat Kerakyatan, Lebih Cepat Melanjutkan Derita

  1. Raffy

    Memang janji adalah modal mereka untuk membius massa. Dengan prestasi yang masih belum memuaskan rakyat, sampai-sampai rakyat sendiri yang harus mencari kepuasan, bahkan dengan tangannya sendiri sekalipun.

    Balas
  2. Om

    Libido untuk menjadi number one mengalahkan apa saja. Jangankan penjual es dawet dan es buah terangsang akan janjinya gerobaknyapun bergetar dibuatnya. Namanya janji bang Toga, apalagi yang nyebut manusia. Gombal ah.
    Asyik nih postingan.Tajam.
    Salam.

    Balas
  3. Ryan Shinu Raz

    Horas.. ~!!!

    Apakah ini artinya lebih baik golput saja lae. Toh siapa pun yang terpilih tetap menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Gak ada satu pun pasangan yang menebar ancaman. Selalu berkata ” Akan membuat dan melanjutkan yang lebih cepat. lebih baik dan lagi lagi atas nama RAKYAT”.

    justru makin sedih setelah membaca postingan ini ketika teringat bagaimana para orang2 yang terpinggirkan di kotaku ini tak mempunyai pilihan. Sungguh mengerikan jika hiudp kita tak punya pilihan…

    Balas
  4. Nesia!

    @Raffi.
    Sungguh baik hati memang kita rakyat ini. Hanya Tuhanlah yang tahu😀 Dibohongi, bukannya marah, malah bergairah.

    @Dewanto.
    Masuk akal, Pak. Kuntilanak juga manusia. Lho?

    @Om.
    Janji dibuat untuk dilanggar ya Pak! Jika memang ingin berbakti, simpan di dalam hati, yg perlu ditunjukkan adalah bukti. (Ah, komen Bapak lebih tajam lagi)

    @HH
    Marboha bahenon ma Lae…

    @Ryan.
    Sudah tak punya pilihan, dipaksa pula untuk memilih.

    @SitiJenang
    Menulis di “rumah” orang, kita akan dituntut mengikuti kaidah dan aturan di sana. Lama2 bisa jadi kita malah menulis demi kaidah itu, demi memuaskan orang lain. Di rumah sendiri, bisa suka2 hati, Pak… Wakakakaka.
    Lagi pula, saya gak yakin, org lain akan sepemurah Bapak dalam memberi nilai.

    Balas
  5. AdeJlekz

    kita bisa hidup tanpa mereka…
    berusaha memimpin diri masing-masing saja keknya lebih menjanjikan kebaikan..
    (SOK TAHU) hehehhe…

    Balas
  6. yande

    memang susah untuk menentukan siapa benar dan salah, di satu sisi rakyat kecil mengharapkan perbaikan ekonomi dengan berbondong-bondong hijrah ke kota yang akhirnya justru terlindas didalamnya di lain pihak oknum berseragam yang hanya menjalankan perintah dari atasannya yang juga hanya menjalankan perintah dari atasannya, dst.

    yang ter”atas” cukup berkilah di balik “keadaan perekonomian, krisis global, dll” menyalahkan keadaan yang membuat mereka seakan memeras kering otak untuk membuat suatu kemajuan, kebenarannya? entahlah saya bukan salah satu orang yang ikut dalam rapat di ruangan itu

    lalu sampai mana saling menyalahkan ini akan usai?

    Balas
  7. dwi purwanto

    bener tuh bang,..uang puluhan triliyun cuma bwt “memahkotai” org yg blm tntu jg bs nyelesein mslh bngsa nie…sory pernyataan nie aq kutip dari blog-nya lea

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s