Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini

Dijadwalkan bertemu selama 30 menit, saya akhirnya ngobrol hampir 2 jam dengan beliau. Tampak betul, sejak tak lagi jadi pejabat tinggi negara, waktu luangnya semakin banyak.

Obrolan yang akrab, ditemani kue-kue basah yang enak dan masih hangat di rumahnya di Bogor, sulit rasanya membayangkan beberapa tahun lalu dia merupakan orang kedua di republik ini.

Saya pernah melihatnya ketika berkunjung ke Medan, saat menjadi Wapres sekaligus Ketua Umum PPP. Bertemu dia kali ini, setelah tak lagi menyandang semua jabatan dan “kehormatan” itu, dengan jelas bisa terlihat wajahnya jauh lebih fresh.

Dia tampak sangat senang, ketika hal itu saya sampaikan. “Mungkin karena sekarang lebih banyak waktu luang, bisa lebih lama berkumpul bersama keluarga, dan tak ada lagi beban maupun target yang mengejar-ngejar saya,” katanya.

“Padahal banyak orang mati-matian mengejar jabatan, yang sebenarya merupakan beban dan target-target yang akan menyusahkan dirinya sendiri, ya Pak?”

“Ya. Tapi mungkin tahapan mengejar seperti itu pun perlu dilalui seseorang. Yang penting pada akhirnya dia bisa mengerti apa hakikat dari itu semua. Jangan malah seperti kata orang, stress karena post power syndrom.”

*****

Bahwa tak ada yang abadi, nyaris seluruh penghuni bumi sudah mengerti. Tapi toh kehidupan tetap saja dihantui oleh ketakutan akan kehilangan. Dan bayangan tentang esok pun muncul dalam bentuk yang menyeramkan.

Padahal tugas kita adalah hidup sepenuhnya hari ini, esok biarlah datang dengan segala misterinya. Kalaupun dia ternyata tak pernah datang, it’s oke. Kita toh sudah menyelesaikannya hari ini.

11 thoughts on “Tak Ada yang Abadi, Hiduplah Sepenuhnya Hari Ini

    1. Toga

      Jadi sikap idealnya, barangkali: “berdamai dengan kenyataan hari ini, belajar dari masa lalu, memelihara harapan ttg hari esok”.

      *yg ini lebih “halah” lagu*

      Balas
  1. Catra

    Kok tua sekali kelihatannya dua orang di atas. Bang Toga kelihatan lebih berumur, apakah karena memakai Batik?
    Pak Haz juga kayak sesepuh saja. Padahal baru kemarin saja rasanya beliau jadi Wapres.

    Post Power Syndrom? Keluarga cendana tak pernah saya dengar bersikap seperti ini selepas tahun 98. Kenapa ya

    Balas
  2. weirdaft

    bagaimana dengan yang ini “tak pernah memiliki, maka tak akan pernah kehilangan” ?

    tapi setuju sama bang toga dan pak hamzah, hari ini adalah hari ini, karena besok, kita nggak pernah tau akan berhadapan dengan apa, siapa dan bagaimana

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      Biasalah, cuma pake jurus ilmu kombur dari kampung…
      Org2 besar jarang punya kesempatan ngobrol spontan, apa adanya, tak jaim, dan bisa tertawa lepas…

      Beliau sendiri mengakui, sudah lama tak tertawa lepas sebelumnya. Tentu saja, materi yang menyebabkan tawa lepas itu harus diedit, demi “keutuhan” citra beliau. :))

      Begitulah, Tuan, sekadar clue. Tuan yg arif bestari, pastilah sudah mengerti…

      Balas
  3. annisa

    “stress karena post power syndrom”
    😄 lagi tren tuh sekarang, apalagi dikalangan capres-cawapres di pilpres…^_^

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s