Segala Perih Datanglah, Tak Kepada Luka Aku Menyerah

Cinta dan luka, ternyata punya hubungan kekerabatan sangat dekat, bahkan cenderung seperti kembar identik, setidaknya begitu menurut Jennifer Anniston. “The greater your capacity to love, the greater your capacity to feel the pain,” kata janda Brad Pitt ini.

Apakah ungkapan itu merupakan simpulan yang dia dapat dari kisah cintanya yang tak sesukses kariernya di dunia entertainment, silakan tanya sendiri, kalo punya nomor ponselnya. Atau udah temenan di pesbuk?

Tapi apakah karena menyadari cinta kerap menyembunyikan pedang tajam di bawah sayap-sayapnya, kita lantas menghindar dari rengkuhannya? Kahlil Gibran sih menyarankan sebaliknya; “Serahkanlah dirimu padanya”.

“Menyerahkan diri pada luka? Bah, kok tidak bunuh diri sekalian?”

Sebaliknya, mengindari luka justru sama saja menghindari hidup. Luka dan semua perihnya, sebagaimana kematian yang semakin akrab itu, adalah unsur kehidupan. Menolaknya, sekali lagi, berarti menolak kehidupan.

Luka mungkin buruk. Tapi jauh lebih buruk adalah ketakutan terhadap luka itu. Banyak orang takut pada dirinya sendiri, afraid of their own reality, kepada perasaannya sendiri.

Cinta itu satu hal, kebahagiaan itu hal berbeda. Cinta justru bisa melukai, tapi luka adalah sebatas rasa. Terluka, itu pasti. Tapi menderita, adalah pilihan.

Kita mungkin sudah mendapat ajaran yang salah, bahwa derita adalah pekerjaan setan yang harus dilawan, dihindari sejauh mungkin. Bah, bagaimana mau hidup sebenar hidup, kalau sepanjang hidup kita terbirit-birit menghindari luka, mencari aman dengan mengendap di kegelapan? Emangnya tikus!

Jangan tepis lukamu, jangan tutupi perihmu. Usung tinggi-tinggi seperti piala pertamamu di Taman Kanak-kanak.

Luka justru memungkinkan kita menemukan kekuatan yang selama ini tak pernah terpikirkan.

Sekali lagi, perih hanya sebatas rasa, dan rasa adalah bagian utuh dari diri kita sendiri, yang mustahil ditolak.

Malu karena terluka hanya akan memperlama masa penyembuhannya, dan membiarkan dunia merampas kedirianmu, destroy your reality.

Ayo, perjuangkan hakmu untuk merasakan luka, untuk hidup dengan sebenar-benarnya, sehidup-hidupnya.

Jika Anda butuh bantuan hukum untuk memperjuangkan hak itu, kami bisa menyediakan. Tarif bersaing!

35 thoughts on “Segala Perih Datanglah, Tak Kepada Luka Aku Menyerah

  1. Jarar Siahaan

    soekarno, pramoedya, yesus, muhammad, gautama, dalai lama, adalah orang-orang yang [tahan] mengalami luka dan sakit — dan karena itu mereka menjadi besar, dikenang sepanjang masa.

    jadilah “tuhan” bagi dirimu sendiri. gagahlah! katakan: “persetan dengan luka! inilah aku!”

    terluka? sakit? perih?
    harus! kau dan aku HARUS terluka, karena itulah kita layak disebut HIDUP.

    orang-orang yg tidak berani terluka, tak mau terluka, takut terluka…, segeralah menyepi ke “ujung portibi” [ini tak ada dalam peta, jadi gak tahu tarifnya berapa].

    Balas
    1. Toga Nainggolan

      Bah, darimana sajanya Lae? Kalo selama ini Lae “menghilang” agar banyak orang merasa kehilangan, selamat Lae, mmg berhasil!😀

      Bahkan aku cukup banyak menerima pertanyaan dari fans-mu, yg menyatakan mencari2 jejak Lae. Aku hanya bisa menjawab, “Akupun!”

      Balas
  2. gilang mahardika

    luka dan senang.. hanya delusi sesaat untuk melengkapi hidup.. seperti iklan yang beredar.. luka dan senang hanya agar hidup terasa lebih hidup.. God is good..

    Balas
  3. Ridwan Hanri

    “Jika Anda butuh bantuan hukum untuk memperjuangkan hak itu, kami bisa menyediakan. Tarif bersaing!”

    ujung2nya ngiklan ya bang..
    whahaha..

    mantap nih, pagi2 baca ttg bumbu kehidupan..

    Balas
  4. weirdaft

    cinta, perih dan luka sepertinya memang sepaket yg valid ya. gak bisa nego milih salah satunya. dapat cinta, otomatis dapat perih dan luka juga. tapi, meski karena perih datang-pergi, keluar-masuk, maka jadi bersahabat erat dengan luka. tak akan menyerah setapakpun, kalau masih ada celah yg bisa dilewati, itu yg harus dilakukan.

    btw, perlu bantuan hukum jg nih kayaknya, biarpun tarif bersaing, bisa harga kawan kan??😀

    Balas
  5. dije

    bener bang, perih toh hanya sebatas rasa, dan rasa itu tidak pula abadi. semuanya pastilah kan berlalu, tersapu angin dan akhirnya menghilang. . entah duka entah luka, entah tangis ataupula tawa.

    Balas
  6. Ping balik: » Luka, tak akan aku menyerah padamu Hanya Sekedar Tulisan

  7. Ryan Shinu Raz

    Horas !!!

    ….Cinta itu satu hal, kebahagiaan itu hal berbeda. Cinta justru bisa melukai, tapi luka adalah sebatas rasa. Terluka, itu pasti. Tapi menderita, adalah pilihan…

    Lagi-lagi sebuah kalimat yang indah. Aku tak habis pikri gimana sistem kerja syaraf otak lae Toga ini. Sungguh Hebat !!

    Balas
  8. Sealead

    Ow…btul itu,sangat merugi org2 yg cm maen safe menghindari rasa sakit,
    “dr pd ngerasain sakit itu lebih baik ak sndiri dl”
    How stupid…

    Balas
  9. unai

    Lagi lagi Lae..ini suntikan, hmm seperti suntikan hormon pembangkit gairah buat saya. Ups..gairah apa dulu :P…? teruslah menulis lae. cinta kalipun saya sama tulisan Lae

    Balas
  10. meiy

    duh bang toga, menikam kali tulisan ini, aku terkena, walau sadar luka tak bisa dihindari, dan mmg yg aku takuti di dunia ini justru diri sendiri, kebodohan sendiri. bolehkan aku copas…buat di FB ato dmn kek, terutama di hati🙂

    Balas
  11. Hotma Joy

    horas,

    Lae sangat puitis untuk melantumkan cinta eros (cinta antara lawan jenis). hanya saja kesan untuk kesan keperihan hampir mirip dengan karya pujangga Chairil Anwar “Aku” —- Luka dan Bisa (hanya) kubawah berlari…..berlari, hingga hilang pedih dan perih.
    Aku ngak mengeritik atau mencela lae, cuman mengutarakan isi hati mengenai tulisan lae yang cukup enak untuk dibaca.

    Mauliate.

    Balas
    1. Maren Kitatau

      @alt

      Ada juga orang yg terbebancinta begtu berat hingga merenung terduduk berlama-lama. Kadang orang itu mengambil keputusan untuk meledak sangkin cintanya. Aku heran pd cinta yg spt itu! Apakah cinta-meledak termasuk cinta? Harakiri pakai oplet?

      Pernyataanmu itu hrs benar kurasa

      Kalau bisa bertahan karena cinta yang begitu besar, maka bisa juga bertahan untuk luka yang diakibatkannya…..

      Salam Damai!

      Balas
  12. Ping balik: » Tentang Dunia Maya(ku) Hanya Sekedar Tulisan

  13. Ping balik: Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati « Nesiaweek Interemotional Edition

  14. Ping balik: Bertahan Hidup Bukan Karena Takut Mati | Kutumaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s