Makanya, Wakil ya Wakil, Jangan Jadi Kerikil

Sekali-sekali, bicara politik ah…

Ternyata tren perceraian tak hanya melanda kalangan artis, tetapi juga politisi. Bisa jadi itu ada hubungannya dengan maraknya kaum selebritis yang tampan dan jelita itu masuk dunia politik.

Kalau para artis dengan mimik genit akan mengatakan “sudah tak ada kecocokan” sebagai musababnya, para politisi itu juga mengatakan hal yang sama, hanya saja dengan ekspresi penuh wibawa.

Apakah ini sebuah bukti lagi, bahwa dunia politik dan entertainment itu memang sama belaka, hanya panggung sandiwara? Minggu lalu tampak mesra, saling cipika cipiki, sanjung menyanjung, tiba-tiba kemarin mengajukan gugatan cerai. Eh, besok malah lebih mesra lagi, dan dengan santai mengatakan yang kemarin itu, “cuma salah paham aja”.

Apalagi kalau melihat kenyataan posisi warga dalam dua dunia ini juga sebenarnya sama: cuma penonton. Jadi, mereka mau cerai, kawin siri, selingkuh, mesra saat jalan-jalan ke Eropa, tidur saat rapat, ya tak boleh protes. Tonton saja. Tak suka, ganti chanel.

Kalau kata Pance Pondaag, kemesraan antara kita hanya keterpaksaan saja.

Ini mungkin penjelasan paling logis, mengapa dalam pemilu yang baru lalu, perolehan suara caleg artis mengungguli saingannya dari kalangan politisi. “Toh sama-sama sandiwara juga. Ya mendinglah sandiwara itu kami lihat di wajah yang segar dan menggemaskan, daripada di muka yang kusut dan menjemukan,” begitu barangkali jalan pikiran mereka. Dan saya setuju itu. ;) 

*****

Adalah Partai Golkar (PG) yang kemarin mengajukan “gugatan” cerai itu, kepada pasangannya Partai Demokrat (PD). PG merasa “tak lagi dibutuhkan” oleh PD yang sedang di atas angin, karena memenangi pemilu.

Pernyataan SBY, Presiden yang juga Ketua Dewan Pembina PD, tentang kriteria cawapres yang diinginkannya, dianggap Golkar sebagai cara halus untuk menyingkirkan Jusuf Kalla, ketua umum mereka. Di mata Golkar, “Big Boss” PD itu seperti terlalu PD.

“Jangan remehkan kami. Demokrat jangan anggap enteng kepiawaian orang-orang Golkar,” kata Poempida Hidayatullah, pengurus DPP Golkar. Orang-orang PD memang tampak makin PD, dengan hasil quick count dan klasemen sementara versi KPU.

SBY juga jadi lebih sering bicara di media, berlama-lama pula. Namun kalau meremehkan Golkar, tampaknya tidak juga. SBY hanya merasa tidak nyaman lagi kalau harus didampingi oleh JK, wakilnya selama hampir lima tahun ini.

Cawapres dari PG, dalam hitung-hitungan politik SBY tentu saja prioritas buatnya, demi terwujudnya pemerintahan yang kuat, sebagaimana berkali-kali disampaikannya, Tapi orangnya bukan JK. Bukankah Golkar adalah lumbungnya politisi andal, rumahnya para intelektual? Masa hanya JK saja yang bisa dijual?

Masalahnya di Indonesia tercinta ini, partai seringkali adalah gerbong yang melulu mengikuti lokomotifnya, yakni figur sentralnya. PDIP adalah Megawati, Golkar adalah Jusuf Kalla, Demokrat adalah SBY, Gerindra adalah Prabowo, dst. Maka bila SBY menolak Kalla, sama saja dengan Demokrat menyingkirkan Golkar. (Lucu ya, arah sebuah institusi besar ternyata sangat tergantung kepada kepentingan satu orang. Bukan lucu sebenarnya, tapi menyedihkan).

Lantas mengapa SBY sepertinya tak lagi merasa nyaman dengan JK di sampingnya? Bukankah selama ini, mereka seperti baik-baik saja? Kelihatannya memang tidak. Hanya saja, SBY, Jenderal yang sangat njawani itu–kalau dalam bahasa infotaiment–bisa menutup rapat-rapat jeritan batinnya selama ini.

Apakah JK sejahat itu? Sebenarnya ngga juga. JK malah termasuk orang baik, cepat, rajin, cerdas, kaya tapi selalu tampil dengan bersahaja, tidak sok wibawa, dekat dengan berbagai kalangan. Pokoknya bisa capek kita bila harus memujinya. Satu saja masalahnya barangkali buat SBY, JK bukan wakil yang baik. Dia melakukan terlalu banyak hal sebagai Wapres, dan itu sangat mengganggu SBY.

Matahari kembar, atau dualisme kepemimpinan memang sangat menggejala belakangan ini di dunia pemerintahan. Tidak saja di tingkat nasional, tetapi juga propinsi dan kabupaten/kota. Setiap saat kita mendengar berita tentang sinyalemen keretakan Walikota dengan Wakilnya, isu ketidakharmonisan Gubernur dengan Wakilnya, dan tentu saja soal Matahari Kembar di Istana.

Koalisi yang dibentuk secara dadakan dan seringkali hanya berdasar pada kepentingan jangka pendek, bukan atas kesamaan visi tentang arah perjalanan bangsa, sepertinya memang menjadi musabab utama. Namun sebenarnya, hal itu bisa dicegah, andai setiap orang mengerti akan posisinya.

Pasal 4 UUD 1945 secara tegas menyebutkan (1) Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD, dan (2) Dalam melakukan kewajibannya Presiden dibantu oleh satu orang Wakil Presiden. Jelas sekali, seorang Wapres adalah pembantu Presiden, sama seperti menteri-menteri dalam kabinet.

Ini juga berlaku dalam setiap tingkat pemerintahan, baik propinsi maupun kabupaten/kota. Jika kemudian sang wakil menjadi bos yang lain, another chief, bahkan mempunyai blok tersendiri pula dalam jajaran kabinet, yang berada dalam bahaya bukan saja Presiden, tetapi nasib bangsa secara keseluruhan.

Oleh karena itu, istilah pembagian wewenang, misalnya Presiden mengurusi politik dan keamanan, kemudian wapres di bidang sosial dan ekonomi, sebenarnya adalah pengkhianatan terhadap UUD 1945.

Amanah UUD 1945 ini juga adalah hal yang berlaku di banyak negara demokrasi yang besar. Dalam konstitusi Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat–yang sering dianggap sebagai rujukan praktek ketatanegaraan–wakil presiden dijelaskan sebagai a person whose primary responsibility is to replace the president on the event of his or her death, resignation or incapacity. Artinya, dia memang disiapkan lebih sebagai “pemimpin cadangan”, siapa tahu terjadi sesuatu buruk, sehingga presiden tak bisa menyelesaikan tugas.

Wakil Sekjen DPP PKS Fahri Hamzah punya bahasa yang lebih lugas soal ini. “Kalau kami ingin wakilnya SBY nanti tak lebih dari ban serep. Kalau diperintah jalan kalau tidak ya membantu tugas presiden. Tidak seperti sekarang ini, mengumpulkan menteri sendiri, membuat acara sendiri. Ini tidak sesuai dengan penguatan sistem presidensiil,” katanya 16 April lalu di Jakarta.

Oleh karena amanah konstitusi itu pula, selama masa pemerintahan Bill Clinton sebagai Presiden AS, kita nyaris tak pernah mendengar berita tentang Dan Quayle, wapresnya pada periode pertama, dan Al Gore pada periode berikutnya. Bahkan kita pun tak pernah tahu apa kerja Dick Cheney, Wakil George Bush selama dua periode! Semua orang, termasuk anak TK mungkin tahu Obama adalah Presiden AS. Tapi siapa coba wakilnya? Yang pasti bukan Osama.

Merekalah, Quayle, Gore, dan Cheney, wakil-wakil yang baik itu, yang sanggup menahan diri untuk tidak melampaui presiden yang harus dibantunya, yang ikhlas bekerja keras walau karena itu justru bos-nya yang punya nama, yang siap ikut menanggung malu, walau penyebabnya adalah ketoloan atasannya semata.

Tentu saja, selaku manusia independen, mereka tak selalu setuju dengan langkah yang diambil presiden. Namun yang bisa dan akan mereka lakukan hanya memberi pendapat kepada Presiden dalam sebuah pertemuan tertutup. Dan jika memang Presiden bersikeras, pilihannya hanya dua; mendukung penuh kebijakan presiden itu dengan semua konsekuensinya, atau mengundurkan diri!

Dan itulah yang dilakukan dengan sangat anggun oleh Bung Hatta, saat tak lagi bisa menahankan panasnya ambisi Bung Karno yang terus saja membawa. Ia memilih menyingkir, tapi toh hingga hari ini, beliau tetap punya tempat tersendiri dalam catatan sejarah perjalanan bangsa.

Wakil sejati memang mereka yang setia berada di belakang tanpa takut terlihat kerdil. Bukan malah jadi pengganggu seperti kerikil. Sabarlah sedikit, karena setiap orang punya gilirannya sendiri untuk tampil di puncak sejarah.

Jika Anda terlalu bergegas, bisa-bisa malah tergilas. Ya memang demikianlah takdir kerikil.

26 thoughts on “Makanya, Wakil ya Wakil, Jangan Jadi Kerikil

  1. Sealead

    Ugh,gk terima ak…ko kduluan yg di atas,
    Hahaha,
    Hmmm…pasangan capres ma cawaprer tu ibarat panas2 tokay ayam,huh!!awalnya panas membara,trus makin lama jd g jelas deh,malah sang wakil biasanya yg pengen ngelangkahin bosnya
    Maw di bw kmana bangsa ini kl pemimpinnya ky gt…
    Sedih aku….
    T.T

    Balas
  2. Sukma

    Aha, agak ironis buat JK. Dulu beliau sempat berkoar-koar ingin mencalonkan diri jadi Capres, tapi kenyataannya di Pemilu Legislatif perolehan suara Golkar jauh menurun drastis. Saat mendengar beliau merapat kembali ke SBY saya cuma bisa geleng-geleng kepala sendiri, bukankah tindakan seperti itu agak menurunkan wibawa dan martabatnya ya… Yeah, just my personal opinion though😛

    *btw, salam kenal*

    Balas
  3. dije

    “Sabarlah sedikit, karena setiap orang punya gilirannya sendiri untuk tampil di puncak sejarah” tapi gimana kalo gilirannya itu nggak datang datang bang? gimana kalo puncak sejarahnya hanya tuk jadi wakil? mau sesabar apapun, sekeras apapun usaha,tetep aja susah tuk jadi orang nomor satu. menurutku sih, Pak JK manut aja jadi yang kedua. lha wong mungkin sudah takdirnya hehehe (jelek sekali pikiranku). yang penting kan masih bisa ngabdi buat negeri toh. it’s the most important of all🙂.
    kayaknya satu hal yang .kupelajari dari pemilu legislatif kemarin… indonesia ini punya segudang politisi, yang pinter melakukan manuver politik ke kanan dan ke kiri. tapi sayang, hanya segelintir yang mampu menjadi negarawan sejati, yang bisa mengenyampingkan ego untuk kepentingan negeri.

    Balas
  4. eva

    mang jusuf kala ga tau aturan banget sh…

    w az jadi males liat dia…

    seharus nya dia ga pantes jadi wapres

    sekarang malah mau jadi capres cape dhe…

    indonesia bakal jadi apa nanti nya…

    Balas
  5. lovepassword

    Setuju. Pembagian peran apaan? Ban serep ya memang ban serep.🙂

    Parpol dan beberapa “pakar” di TV itu rupanya lupa kalo kita menganut sistem Presidensial.

    Balas
  6. guramebakar

    batara kala dalam mitologi jawa adalah raksasa pemakan manusia…jusuf kala sifatnya juga mirip2 batara kala. minyak tanah diganti tabung gas 3kg yang gampang meledak, itu semua adalah proyeknya jusuf kala, kalo gak salah yang mengelola tabung gas 3kg itu keluarganya juga, entah adiknya, anaknya atau keponakannya. anda pikir minyak tanah sudah gak ada lagi? itu salah coy, minyak tanah justru dialihkan ke industri2 besar dengan harga khusus patpatgulipat yang penuh dengan ketebelece. nah rakyat cuma memble aja dengan penuh penderitaan dan kesengsaraan, malahan sudah berapa aja jiwa rakyat yang melayang akibat tabung gas 3kg meledak, belum lagi kebakaran dan kerusakan rumah akibat meledaknya tabung gas. pokoknya jangan pilih jusuf kala deh, dia lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya…Salam ABG (Asal Bukan Golkar)!!

    Balas
  7. jack marpaung

    JK;jgn keras kepala dunk!!
    da mending sby mw brsanding lgi….
    klo ga??
    mw jd apa?
    apa da dijamin bisa sukses berkoalisi dgn partai laennnnnnnnnnnn???????

    Balas
  8. lhynamarya

    terserah dech,mau koalisi ma siapa,asal betul2 menjalankan visi dan misinya.,indonesia bangkit dan maju, bukan masalah capres atw cawapresnya,mo clbk(capres lama bersemi kembali) mo plinplan,zuka2 nya dech..yang penting indonesiaku sejahtera!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s