Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh

Mungkin ada orang yang ga minat nikah, ga berpikir untuk punya anak, atau ga terlalu semangat memburu uang, bahkan ngga terobsesi dengan seks. Tapi siapa yang ga mau bahagia? Ayo tunjuk burung!

Pastinya, kita semua pengen dunk. Kita udah didesain secara sistematis untuk memburu kesenangan, seperti bunga matahari ditakdirkan tunduk menghadap sang surya.

Sayangnya, tak ada (kebahagiaan) yang abadi. Dan kita pun bergegas memburunya lagi. Kebahagiaan – seperti tali pusar bayi – adalah sesuatu yang efemeral, hanya ada untuk suatu masa dan menghilang sesudahnya.

Usaha yang demikian keras untuk memburu kebahagiaan, justru menjadi musabab munculnya penderitaan. Padahal, andai saja kita mengerti, menyerah bukan selalu berarti lemah. Bisa jadi itu bukti, kita cukup kuat untuk melepasnya pergi, cukup pintar untuk menghindari luka lebih dalam.

Rasa nyaman tak mungkin bisa muncul dengan melihat mereka yang lebih berada. Ingat ungkapan terkenal seorang santo “Aku menangis karena tak punya sepatu, kemudian kulihat ada yang tak punya kaki”.

Semakin banyak hal yang kita butuhkan untuk menjadi bahagia, maka semakin besar pula kemungkinan kita jatuh merana. Padahal banyak orang yang bahkan tak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan “paling mendasar” sebagai manusia, tapi justru bahagia dan baik-baik saja. Lihat dong cover Newsweek edisi Wannabe di sebelah itu: Happiness isn’t a feeling, but a decision.

Kita harus cukup cerdas untuk menyadari bahwa cara termudah mendapat kebahagiaan, adalah dengan terus berusaha mengurangi fokus pada diri sendiri. Semakin kita egosentris, semakin kita ringkih. Bahkan hal kecil bisa membuat kita berantakan.

Dalam tataran material, intelektual dan spiritual, hampir semua hal bisa mengecewakan kita, jika kita tetap bersikap egosentris. Termasuk hal seremeh tak mendapat undangan ke sebuah acara makan siang, atau rekan kerja dapat promosi sementara kita tidak. Istilahnya, tetangga beli mobil, kita demam menggigil.

Pada dasarnya semua manusia itu baik, dan semua orang punya potensi sebagai sumber kebahagiaan. Orang yang benar-benar baik itu jarang, selangka orang yang benar-benar jahat. Memangnya sinetron!

Hanya diperlukan sedikit kecerdasan untuk belajar merasakan keceriaan simpatetik. Jika teman atau tetangga kita berbahagia, semestinya itu juga bisa sampai ke hati kita, yang lantas ikut terhangatkan, bukan malah terpanaskan.

Belajarlah melepas, baik kebahagiaan maupun kepedihan. Dalam momen paling ceria, atau saat paling luka, ingatkan diri kita bahwa, “pada saatnya, semua ini pasti berlalu”

Tak ada yang permanen dalam soal perasaan. Mustahil mengabadikan rasa, seabsurd niat menghentikan laju waktu. Hidup dengan semua gelombangnya, adalah gegas ombak di pantai, datang dan pergi.

Satu-satunya cara memperlama durasi bahagia, justru dengan segera melepas pergi gempita rasa itu, untuk kemudian keluar dari diri kita sendiri. Karena kebahagiaan sesungguhnya justru datang ketika kita bisa keluar dari diri kita sendiri, melupakan diri kita sendiri, pada sebuah momen di mana kita terhubung ke sebuah realitas yang lebih tinggi, ke sesuatu yang tak tergapai tapi kita toh bisa sampai.

Ketika kita terpesona pada sebuah lukisan, terhanyut mendengar alunan musik, atau “sekadar” terpana menatap matahari pulang di ujung horizon, itulah saat-saat kita melupakan diri kita sendiri. Kualitas kebahagiaan yang sama juga bisa didapat saat kita melupakan kepentingan sendiri ketika menolong orang lain, yang (sepertinya) tak untungnya buat kita.

Betapa bodohnya sudah menyia-nyiakan kesempatan berbahagia, dengan terus-menerus terpusat pada diri sendiri… Padahal kebahagiaan hanya bisa didapat, justru dengan memberikannya. 

Ini bukan ajakan untuk menjadi orang baik lo, (hari gini mau jadi orang baik?) tapi menjadi manusia cerdas yang bisa mencegah diri jangan sampai hidup sebagai makhluk merana.

30 thoughts on “Kita Tak Bahagia, Mungkin Karena Kita Bodoh

  1. sealead

    eaaaaa…..
    aku jadi yang pertama lagi,,,,,
    uhuuuy…..
    duh bang,,,tulisan di atas ngingatin aku banget soal si bibir T_T

    Balas
  2. sepedakuno

    Kita tidak bahagia mungkin karena kita bodoh? bisa ya, bisa tidak…bisa juga kita tidak bahagia justru karena kita pintar…menurut saya adalah lebih penting ketentraman hati atau bahasa jawa nya “tentremaning ati” dibanding kebahagiaan. bahagia ukurannya adalah materi dan pikiran, sedangkan tentram ukurannya adalah kesadaran spiritual…jadi orang yang bahagia belum tentu hatinya tentram, orang hatinya tentram belum tentu juga bahagia. kalo saya lebih pilih ketentraman sebab materi tidak akan cukup dalam hidup ini, tetapi dengan kesadaran, detik ini pun hati saya bisa tentram tanpa dipaksa…Salam Kemanusiaan!!

    Balas
  3. gilang mahardika

    lagi dan lagi aku akui aku setuju.. nyahhaa.. tapi yang kulihat semakin orang kritis dan pintar,, semakin tidak bahagia dia di dunia.. yang ada hanya kata kepuasan.. hhe..🙂

    mempunyai pikiran dewasa dalam tingkah laku anak kecil.. tiada batasan norma,, kurasa itu akan membuat dunia lebih indah.. but how to get the way??😦

    Balas
  4. tayak

    huehue…

    saya setuju, tapi saya rasa tidak sesederhana itu. disinilah ditemukannya subjektifitas pandangan hidup.logika sederhana yang memandang hidup tak lebih dari sekedar absurditas akan berujung pada hermeneutika “bahagia” semata. pada tahap ini parameter bahagia yang mas tawarkan tampak cukup masuk akal..

    dari tulisan mas saya tau bahwa mas percaya bahwa manusia tidak lebih dari sekumpulan persepsi dan sensasi2 yang saling berhubungan (setidaknya hal tersebutlah yang dapat saya tangkap). tapi dilihat lebih lanjut mas kemudian malah menawarkan sensasi baru dengan persepsi yang “dibangun”. sensasi bahagia kemudian didapat dari persepsi akan kebahagiaan. menurut saya hal ini sama saja tidak memanusiakan manusia”. atau dengan kata lain: mustahil. kalaupun mungkin: palsu.

    kenapa?
    harus kita akui bahwa manusia yang bermasyarakat memiliki sindrom-sindrom sosial. kebahagiaan sebagai salah satu bentuk sensasi mampu menular dan dapat ditularkan,(didapat dan diberikan) begitu juga dengan sensasi2 lain yang dirasakan.

    disini, kehidupan dianalogikan sebagai sebuah foto, mas mencoba mengenyampingkan aspek lain yang tidak terangkum dalam bingkai. foto hanya mampu menangkap satu dimensi gambar yaitu sebagai bentuk penyamaan persepsi dari yang mengambil gambar dan penikmat foto.

    nah, jika mas benar, menurut saya disinilah seharusnya kita memilih, melihat satu dimensi yang kita terima atau mencoba melihat keseluruhan. pilihannya: memalsukan atau..??atau dengan kalimat lain: bahagia dengan persepsi kita yang kita tahu telah kita terima dbangun tentang kebahagiaan atau..??

    maaph, tidak bermaksud apa-apa, saya hanya manusia muda yang ingin menjadi manusia. sekali lagi maaph, saya hanya ingin petunjuk..

    Balas
  5. Sealead

    Uhuk…rasanya ada yg aneh….
    Hmmm…di tulisan ini ada ajakan utk melupakan,
    Uhuk,…di chat kmaren malah nyuruh manjat tembok?hoehehehe,
    Ak setuju bgt,gk ada org yg bener2 baik,
    Kl dari yg ak alamin,ketika org berusaha berbuat baik,namun yg di dapatnya cm rasa kecewa dan kecewa,menumpuk terus begitu lama,
    Lama2 kebaikan itu nantinya akan pudar dan berubah menjadi dendam.
    Ya g smua org ky gt c,cm teori doank

    Balas
  6. sealead

    iya2,,,,
    baik lah abang,,,,
    tp ternyata btul juga c,,,
    kebahagiaan itu adalah piliham,
    krna ada orang yang punya pengalaman
    dengan pilihannya dia malah menderita,,,
    dia tetep menunggu seseorang walau dia pun tau kalau seseorang itu gk mungkin bisa dia miliki lagi
    apa kah itu sebuah kebodohan?
    padahal ada seseorang lain yang datang padanya membawa tumpukan cinta sebesar,,,,,ah,,,setengahnya pun tak bisa ku gambarkan dengan kata2…
    quotes yang tepat mungkin,,,,
    *kadang kita terlalu lama memandangi pintu yang telah tertutup, padahal ada pintu lain yang sudah terbuka untuk kita
    ya…
    kira2 begitu lah,,,
    tp ni bukan aku kok
    ada teman,,,,😀

    Balas
  7. lovepassword

    Kita tidak bahagia karena bodoh? Atau justru sebaliknya Hanya orang bodoh yang bisa bahagia, karena nggak perlu ngitung terlalu njlimet untuk mensyukuri hidup ini.🙂

    Balas
  8. weirdaft

    aku bahagia ketika ada dibawah rintik hujan, atau hanya sekedar memandang titik-titik air itu turun dari langit. bahagia ketika suara petir masih menggelegar dan kilat mendahuluinya dgn cahaya indah. bahagia ketika berdua dengan layar 14″ dan sebuah papan berisikan huruf-huruf yang tak pernah protes bahkan ketika jam 2 pagi masih bersamaku. dan berbahagia ketika masih bisa menikmati secangkir nescafe classic-ku.
    😀

    Balas
  9. joe

    Menurut gw kebahagiaan itu mimpi

    Btw gw datang berkunjung balik nih. Nice blog, Toga! Hehe

    Sayang gw lagi kehilangan mobil, jadi gak mood comment panjang-panjang… Eh ini sudah panjang ding.

    Balas
  10. meiy

    aku ingat senyum bahagia di kanan atas blog ini, waktu nulis di FB, “I decided to be happy…”

    kangen baca Nesiaweek yg selalu mencerahkan. aku butuh tulisan ini, duh seperti air setelah dahaga seharian, eh hampir sebulan kusut terpenjara kekisruhan yg sesungguhnya lebih banyak berasal dr diri😀

    makasih Bang Toga.

    Balas
  11. myalisha

    beberapa kali membaca tulisan bang toga…
    selalu aja masi membuat terkagum…
    mendapat banyak hal yang direnungi, dipelajari dan menjadi inspirasi… bahagia rasanya…

    ^^

    Balas
  12. kudalumping

    kita tidak bahagia karena kita terlalu terikat dengan materi dan kita terlalu mendengarkan apa kata orang lain… ngiri melihat orang lain langsing, bermobil bagus, terpengaruh gosip, tidak bersyukur, tidak iklas dan nrimo..itulah sedikit dari banyak penyebab stres dan menyebabkan kita tidak bahagia…mau bahagia? ya bersyukur aja…

    Balas
  13. cakdul

    QS.Al Qashas.77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan….
    itu panduan untuk mencari kebahagiaan… menurut… buku panduan hidup kita..

    Balas
  14. SiMunGiL

    dan seperti biasa setiap keputusan ada resikonya,
    pada saat mengambil keputusan, tidak boleh ada kata menyesal lagi.
    karena semuanya ada konsekuensinya…

    apalagi jika keputusan itu melibatkan perasaan🙂

    Pa Kabar, Ito?🙂

    Balas
  15. Maren Kitatau

    Topik bagus!
    Salam Maya Sadayana!

    Satu syarat utk bahagia;
    Harus punya cinta,
    Tapi cinta itu ada tiga.

    Cinta-karena,
    Cinta-kalau,
    Cinta-walau..

    Pilih lah!

    Pemilik benci tak mungkin bisa bahagia.
    Benci-karena; Benci-kalau; Benci-walau.
    Wah … ! Tak mungkin lah!

    Salam Pikir Tiga!

    Balas
  16. Maren Kitatau

    Ada ungkapan:
    Kebahagian tidak ditentukan oleh seberapa banyak yg kita raup dari Dunia ini, tapi oleh seberapa sedikit yg kita butuhkan dari Dunia ini.

    Bila itu ada benernya,
    Orang lugu lebih mudah bahagia dari pada orang pinter,
    Kali!

    Salam Pikir Tiga!

    Balas
  17. Abdullah

    Benar sekali mas Maren, orang lugu lebih mudah bahagia daripada orang pinter, buktinya adalah orang baduy, biar sederhana tapi mereka asik2 aja tuh, tingkat kriminalitas di komunitas mereka juga sangat sangat rendah, biar materi mereka kuno, dikatakan ketinggalan jaman, manusia jaman batu, sedikit terkena peradapan dll dll tetapi mereka bahagia(kayaknya)…dan tenang2 aja tuh…

    Balas
  18. Maren Kitatau

    @Abdullah

    Aku percaya dgn pendapatmu,
    Dan Baduy itu pasti punya cinta, kan?
    Cinta lah yg menjadi penentu bahagia.

    Baduy punya cinta lebih ke arah walau
    Orang pinter punya cinta lebih ke kalau.
    Gimana!

    Salam Pikir Tiga!

    Balas
  19. Penjelajah Cinta

    Mulblangkon? nama ente aneh tapi keren hehehe, eh anda semua liat ke sebelah , ke ISLAM VS KRISTEN, disana ada seseorang namanya HAMBA ALLAH lagi ngamuk!! Cinta adalah agama universal, sebab dengan cinta sebenarnya kita dapat merasakan TUHAN hadir di hati kita, jadi teroris dan orang2 fanatik sebenarnya mereka jauh dari TUHAN, sebab tidak ada cinta di hati mereka!! Awas HAMBA ALLAH akan membom kita dengan bom bunuh diri, selamatkan diri kalian dari teroris, lariiiiiiiiiiiii!! hehehehehehehehe

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s