Jauh Melanglang Buana, Agar Tahu di Mana Rumah Berada

Duduk, menunggu detik tiba di sini, mendengar angin menyelinap melalui bebukit yang mengabur bayang di pucuk malam. Pikiran menjelajah, mencari tahu di mana titik awal berada. Angin ini mestilah datang dari tempat yang lebih jauh dari Samudera Pasifik.

Kita tak akan pernah bisa menelusur gerak pertama angin, arus pertama air, perubahan pertama tekanan udara yang membawa angin sampai ke sekeliling kita.

Semua hal dalam kehidupan, apakah cuaca di lelangit atau emosi di dalam jiwa, adalah bagian dari sebuah proses, yang mengalir dan berkait-kaitan timpa-menimpa, begitu rumpil rumit, sehingga tak mungkin mengenali dan menguraikannya menjadi lapisan-lapisan tunggal yang mudah dimengerti.

Kita harus melangkah ke luar dari diri kita, untuk berusaha memahaminya, jauh di luar rumusan teori apapun. Kita harus mendisosiasikan diri kita dari diri kita sendiri, untuk menyadari betapa kita adalah sesuatu yang jauh lebih besar, lebih dalam, lebih berharga dari apa yang kita pahami selama ini, berdasarkan perilaku sehari-hari, aliran pemikiran dangkal, emosi sesaat kita.

Kita harus melanglang jauh, justru agar tahu di mana rumah berada.

Di permukaan keseharian, kita melihat kedirian yang mengerucut, diterpa hambatan dan persoalan begitu kejam, batas pemisah yang sepertinya tak terlewati, bayang hitam yang menelan cahaya. Tapi semakin tinggi kita beranjak dari pemahaman keseharian itu, akan terlihat betapa hal-hal negatif itu sebenarnya tak nyata.

Di titik manakah sebenarnya Anda, di koordinat berapakah sebenarnya saya. Dari luar angkasa sana, kita hanyalah titik renik di permukaan bumi nan ringkih, tetapi titik-titik itu saling berhubungan. Dalam level molekuler, kita adalah mata rantai yang rapuh, terikat hanya pada titik-titik yang bisa saling menangkap.

Pada semua skala dan tingkatannya, apakah itu cuaca, molekuler bahkan interaksi kosmik, semuanya ternyata saling terhubung.

Menganggap seseorang sebagai seseuatu yang utuh lepas dari yang lainnya, sesungguhnya adalah berbicara tentang sesuatu yang tiada pernah ada.

Tetapi barangkali, benar bahwa begitu banyak orang yang tercerai dari dirinya sendiri tanpa menyadarinya. Jika sudah tercerabut dari diri sendiri, bagaimana bisa mengharapkan dia punya interkonektivitas dengan yang lainnya?

Kita tidak akan pernah tahu apa yang menanti di depan sana. Kita tak akan bisa mengukur, berapa jauh angin ini akan meneruskan perjalanan. Namun dengan kesadaran bahwa kita satu sama lain, saling terikat membentuk sebuah bangunan kehidupan yang besar, maka bersama-sama pula kita akan melewati dan terteguhkan oleh derita dan keindahan, saat-saat yang meremukkan dan momen-momen yang melambungkan.

Bersama-sama, kita adalah arus air yang terus mengalir, badai yang datang kini dan nanti, anak yang menangis di tengah malam tadi.

14 thoughts on “Jauh Melanglang Buana, Agar Tahu di Mana Rumah Berada

  1. almascatie

    bener tuh bang… dulu sayah menganggap daerah kita aja yang terhebat.. tapi setelah berjalan sedikit saja keluar dari lingkaran itu.. kita menjadi terasa sangat kecil…

    Balas
  2. Ryan Shinu Raz

    Horas…

    Lae..
    Kali ini saya sangat setuju. Entahlan tapi ini akan menjadi sesuatu yang selalu mengusik renungan saya tentang hidup.

    Horas..

    Balas
  3. weirdaft

    tapi sepertinya bang, aku selalu lebih merasa aman kalau tetap ada dlm “rumah”ku sendiri. entah, terlalu takut untuk keluar atau tak bisa berdamai dengan kenyataan. untuk sementara, begini sajalah

    Balas
  4. sadiesoegi

    Bagus sekali Bang, tulisannya. Mengingatkan saya pada buku La Tahzan yang judulnya jangan bersedih. Kalau pengarang La tahzan kan doktor atau Phd di bidang timur tengah, kalo abang ini phd lah di bidang kehidupan universitas wordpress. Ajarin duong

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s