Pikiran yang Jernih, Tangan yang Kotor

Dengan indah telah terpajang, gambaran sebuah kesempurnaan di dalam pikiranmu. Bahkan sudah tuntas kau rancang, bagaimana bentuk dunia seharusnya. Sudah pula kau tentukan, bagaimana cerita tentang orang-orang yang kau cintai, akan bergulir.

Dan masalah kemudian muncul. Seperti ada tembok tebal, memisahkanmu dengan realita. Warna-warna mengkilap dalam lukisan itu luntur memudar. Kau coba bersikukuh, mempertahankan versi imajinatifmu tentang mereka yang tercinta, saat topengmu melorot mempertontonkan wajahmu yang bahkan kau sendiri tak pernah menyukainya.

Menggali lobang bersembunyi, menjadi makin sendiri, makin hilang, makin tercabik. Mereka yang kau cintai kini menjadi musuh-musuhmu, berbicara buruk di belakang punggungmu, memilih tak melawanmu secara terbuka, karena kau makin tak bisa berdamai dengan realita.

Tak ada peluang perubahan, bahkan angin pun tak sudi memberi harapan, sampai kau sendiri ikhlas keluar dari sarangmu yang nyaman.

Sampai kau siap merangkak keluar dari balik tembok-tembok idealisme, merangkak mundur ke dunia yang berada di seberang batas-batas hasratmu.

Sampai kau peloroti kedirianmu, egomu, menerima diri sebagai bagian dari sebuah keseluruhan. Sampai kau rontokkan sendiri tirai-tirai yang kau bangun, dan membebaskanmu tercemplung ke dalam kubangan kehidupan yang tak selalu bersih dan menyajikan rasa nyaman.

Melibatkan diri untuk tumbuh bersama semua yang hidup, kau harus rela terkotori. Berjuang, berjalan di permukaan bumi, tangan dan lututmu menyentuh tanah yang pekat, membiarkan peluh mengucur penat.

Tak ada jalan mudah untuk menciptakan keindahan yang bisa bertahan. Tak ada salahnya menjadi perfeksionis, idealis, mendamba dunia berubah, atau merasa muak dengan keadaan yang terus menghadang mata.

Tapi jika idealisme itu menghambatmu untuk terlibat sungguh-sungguh dalam kehidupanmu sendiri, maka itu sama bahayanya dengan keserakahan, sama gelapnya dengan darah yang tumpah dan mengental di medan perang.

Untuk membangun jalan takdir, ribuan pohon mimpi harus ditumbangkan. Jangan terlalu banyak tertegun dikepung tanya, membiarkan diri jadi bulan-bulanan dilema. Kadang ini bukan lagi soal benar atau salah, terbaik atau tidak, tetapi seberapa besar ego yang bisa kau sisihkan saat mengambil tindakan, seberapa penuh hatimu terlibat dalam sebuah perbuatan.

Ketika kau sudah memberikan keseluruhan dirimu, maka tak ada lagi tempat untuk tanya. Biarkan tanganmu terkotori, saat harus berkelahi dengan duniamu. Sekali lagi memilih yang terbaik itu, tentu saja baik.

Tapi terbaik tidak selalu bisa dipilih. Perang kita sekarang, di sini. Pahamilah, kita hanya sebuah bagian dari keseluruhan yang sangat besar, bahkan tanpa batas. Memikirkan takdir semesta mungkin bukan tugas kita. Buka dirimu, merasakan perih ketika digigit cahaya. Runtuhkan tembok-tembok itu, tak ada agresor yang sedang berencana menyerang bentengmu.

Tahu, mungkin saja saat ini musuhmu sesungguhnya adalah pikiranmu sendiri.

8 thoughts on “Pikiran yang Jernih, Tangan yang Kotor

  1. sealead

    mengena….
    mengena sekali dengan pa yang ku pikirkan sekarang
    hati yang jernih terkadang bisa menghitam jika slalu di perlakukan buruk oleh orang lain,
    seketika berubah menjadi monster bermata 1000 siap menghancurkan orang itu,
    tampaknya aku mulai menyadari bahwa pikiran busuk itu berawal dari 1 tempat di dalam hati yang penuh dengan rasa kecewa

    Balas
  2. Senja Kelabu

    Musuh terbesar manusia adalah pikirannya sendiri. Hati/jiwa/sukma/atma hanyalah penasehat. Mata, telinga, lidah adalah informan. Lihatlah senja kelabu, dalam pikiranmu bertempur sang keindahan dan sang kesedihan. Tapi hati menasehatinya kalau dia didengarkan tentu keindahan seni ciptaan sang Kuasalah yang diterimanya. Demikian pula sebaliknya, terhadap puing-puing berserakan dan darah yang tumpah, ada yang bisa tersenyum bercermin di atas genangannya dan menganggapnya seni. Saat itulah hati siempunya hanya terdiam seribu basa. Kalau semua itu terbiasa, lambat-laun menjadikan hati=pikiran. Saat itulah siempunya patut diberi gelar iblis.

    Balas
  3. darnia

    I’m my own worst enemy..

    klo kata Linkin Park. Tapi, ngutip kalimat favorit eyang Shakespeare :

    Best men are molded out of faults. And for the most part become much the better for being a little bad

    Gak jelek juga mengenali “sisi kotor” diri sendiri😀

    Balas
  4. sealead

    yup, memang iya, musuh terbesar itu adalah apa yang ada di dalm diri kita,
    menurutku cm 1, yaitu kurangnya rasa ikhlas dalam menerima apa yang ada di dalam diri kita

    Balas
  5. meiy

    kau selalu menulis dg indah.

    begitulah juga yg kurasakan semakin hari, semakin jatah hidup berkurang, semua persoalan sumber kekusutannya adalah didalam diri sendiri. sederhana, tp berat melakukannya. saat berhasil, kita tak hanya nyaman dan damai scr ego tp juga dg dunia

    Balas
  6. weirdaft

    mungkin, hidup memang selalu tentang memilih.
    memilih untuk tetap berada dikenyamanan “bulu-bulu kelinci” atau memilih untuk berperang mewujud mimpi dalam kerasnya realita.

    *sok tau mode on*😀

    PS : Buka dirimu, merasakan perih ketika digigit cahaya. Runtuhkan tembok-tembok itu, tak ada agresor yang sedang berencana menyerang bentengmu. – agak susah juga untuk yang satu ini –

    Balas
  7. Ping balik: » Jembatan antara dua penyangga Hanya Sekedar Tulisan

  8. Aleida

    Karena saya tersindir habis-habisan oleh tiap-tiap kata, tiap baris kalimatnya. Menjadi suatu pengingat akan suatu pemenuhan. Betapa diri manusia beserta pikirannya sendiri, mampu menjadi jurang tak berdasar itu sendiri.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s