Arsip Bulanan: Januari 2009

Sms Kosong pun Ada Maknanya…

Ponsel Anda berdering. Ada sms masuk di Inbox. Pengirimnya seseorang yang Anda kenal. Pas dibuka, eh, isinya kosong. Reaksi Anda? Mungkin kesel, trus ngirim reply semacam, “Apaan sih?”, atau setidaknya membalas dengan sms kosong juga.

Sms kosong kerap dijadikan orang sebagai alat pendeteksi, kapan nomor yang dikirimi sms itu aktif, yang segera diketahui melalui laporan pengiriman atau delivery report. Langkah yang lebih cerdas, ketimbang harus menghubungi tiap lima menit, hanya untuk mendengar jawaban yang sama, “Nomor yang Anda tuju masih selingkuh, mohon sabar menunggu giliran, beberapa menit lagi“.

Terus bagaimana pula, bila orang yang sama mengirimi Anda sms kosong berkali-kali, atau 3 kali sehari, kayak makan antibiotik? Sementara Anda sendiri tipikal orang yang mengaktifkan ponsel 24 jam, seperti SPBU di Jalur Pantura, jadi ngga perlu dideteksi segala. Baca lebih lanjut

Pikiran yang Jernih, Tangan yang Kotor

Dengan indah telah terpajang, gambaran sebuah kesempurnaan di dalam pikiranmu. Bahkan sudah tuntas kau rancang, bagaimana bentuk dunia seharusnya. Sudah pula kau tentukan, bagaimana cerita tentang orang-orang yang kau cintai, akan bergulir.

Dan masalah kemudian muncul. Seperti ada tembok tebal, memisahkanmu dengan realita. Warna-warna mengkilap dalam lukisan itu luntur memudar. Kau coba bersikukuh, mempertahankan versi imajinatifmu tentang mereka yang tercinta, saat topengmu melorot mempertontonkan wajahmu yang bahkan kau sendiri tak pernah menyukainya. Baca lebih lanjut

Pencerahan? Ah, Sebentar Lagi Juga Bakal Redup Lagi

Sepertinya Anda yakin telah memahaminya. Tahu benar tentang itu, paham betul tentang ini. Tapi kemudian Anda mendengar, atau membaca sebuah sudut pandang lain, sebuah cara memahami yang sebelumnya sama sekali tak terpikirkan, dan tiba-tiba keyakinan sebelumnya menguap seperti kabut yang diterjang panas siang hari.

Dan kemudian Anda sadar, usaha memahami itu tak pernah berhenti, dan kebenaran itu bukan sebongkah batu; diam membeku.

Seperti sebuah negatif film, ada sisi lain yang kadang benar-benar berbeda. Cerah atau redup, hangat atau dingin, siapa yang tahu bagaimana Anda akan merasa esok hari. Baca lebih lanjut

Tahun Baru, dan Kita Semakin (tak) Tahu…

Seiring bergegasnya waktu, dan usia yang terus menjejalkan diri ke tubuh kita, menjadi makin paham akan kemampuan dan keterbatasan diri, kita mengerti bahwa upaya untuk mengerti itu tak pernah berhenti.

Seperti pohon yang mencabang ke mana-mana, melambai dedauan dalam tarian pencarian, menengadah dahaga cahaya. Kedewasaan tampaknya memang tentang kemampuan menyesuaikan dan merasakan diri, bukan soal ilmu pengetahuan, atau kecerdasan yang mengundang decak kekaguman. Baca lebih lanjut