Setiap Zaman Punya Tantangan Sendiri, Usah Banggakan Hari yang Telah Pergi

Wah, yang ini lebih menyebalkan lagi. Zaid, anak keduaku, malah berhpria di tempatku dulu mencari cacing tanah...

Wah, yang ini lebih menyebalkan lagi. Zaid, anak keduaku, malah berhpria di tempatku dulu mencari cacing tanah...

Apa beda dongeng di negeri kita dengan di Amerika sana? Di sini kita memulainya dengan, “Dahulu, pernah ada…”, dan di sana mereka mengawalinya dengan, “Kelak, akan ada…” Mereka mendorong anak-anaknya mengejar cahaya di depan, sementara kita (berusaha) memesona putra-putri kita dengan sesuatu yang telah redup di belakang.

 

Dan ketika tunas-tunas baru itu tampaknya tidak cukup tertarik, konon pula terpesona, dengan hikayat masa lalu itu, kita kutuk mereka sebagai anak-anak yang durhaka pada sejarah, tak menghargai jasa dan pengorbanan pendahulunya.

Maka meluncurlah narasi yang tak perlu tentang masa lalu yang sulit rumpil rumit, dan betapa kita digdaya karena bisa melewatinya. Tak hanya itu, kita juga membandingkannya dengan masa sekarang yang super duper yummy, dan menyebut mereka tinggal menikmati hasil “perjuangan” kita itu. Itulah kiranya yang juga merasuki pikiranku, ketika menulis Begitu Bergegasnya Waktu, tulisan di nesiaweek.com yang saya dedikasikan untuk Echa, putriku, di hari pertama dia masuk SD.

Sampai kemudian David C Siahaan, seorang pembaca menulis komentar yang “menampar”, membuatku tersadar.

Lae Toga, kalau dibilang jaman kita lebih sulit, gak juga kali ya. Aku juga pernah jual es lilin. Secara fisik mungkin ya, tapi beban mental mereka jauh lebih berat. Zaman dulu kita mencari cacing sama2 dengan yang lain, mandi hujan rame2. Sekarang anak kita tidak mencari cacing dengan teman2nya, karena masing2 punya mainan sendiri2. anak yang satu masih ada yang mencari cacing, anak yang lain main PS3, sementara anak yang lain minta ke Penang ( biasanya kalau dari medan) jalan2, dll,dll.

Seperti Lae bilang, kita juara kelas di kampung dengan anak2 pemakan singkong, tapi anak kita harus juara kelas dengan anak2 pemakan keju (asal jangan pemakan segalanya kali ya). mereka harus mewakili sekolahnya mengikuti seleksi olimpiade, saingannya berat2 semua. salah satu smp di medan ini membuat persyaratan nilai rata2 8.5 baru bisa diterima itupun harus pakai uang sumbangan! untuk menjadi seperti kita ini lae, mereka harus bersaing sama anak2 pintar yang lainnya.

Juan dan Mamaknya saat mudik kemaren
Kita dulu, tidak perlu memikirkan apapun kalau mau sekolah, asal sdh makan singkong (aku dulu disuruh makan singkong dulu baru makan nasi), lari2 atau jalan kaki, tidaaak ada beban! tapi mereka harus melihat perbedaan yang sangat menyolok di antara mereka, ada yang jalan kaki, ada juga anak yang naik bentor, ada yang naik “sudaco” tapi banyak juga yang naik mobil2 mewah. Belum lagi kenyataan sekarang mereka dikelilingi narkoba lae, jajanannya pun campur pengawet dll. Serem!

Aku juga sering bilang ke anakku, kalau bapakmu ini dulu minum susu seperti kau, sekarang bapakmu ini sdh menjadi menteri (mantri kali ye).

Tapi seperti lae bilang, cinta seorang bapak ( dan ibu tentunya) akan membuat mereka sekuat kita ( atau lebih kuat) menempuh kehidupan ini, apalagi mereka dibantu oleh teknologi yang canggih2. mereka tidak beruntung karena dilahirkan setelah kita, mereka beruntung karena mempunyai ayah dan ibu yang memperhatikan mereka dan mencurahkan hati dan kasih sayangnya buat buah hatinya.

Ah, bodohnya bapakmu ini, Nak… Kuremehkan perjuanganmu, padahal aku bahkan tak bisa mengerti perang apa yang sedang dan akan kau hadapi.

Iklan

23 thoughts on “Setiap Zaman Punya Tantangan Sendiri, Usah Banggakan Hari yang Telah Pergi

  1. sitijenang

    betul, bang. tugas kita sebagai orang tua untuk mempersiapkan bekal buat perjuangan mereka nanti. sedikit banyak harus tahu apa yg sekiranya bakal mereka hadapi. sambil mengingatkan kejayaan masa silam untuk dipelajari, supaya mereka bisa mencipta yg lebih baik lagi. selamat idul fitri, sugeng riyadi. :mrgreen:

    Balas
  2. dcs

    Ah bang Toga ini, komentarku tidak menampar. Aku hanya mengingatkan sesama orang tua, agar kita tidak terlena dengan perjuangannya kita dimasa lalu.

    Banyak orang tua yang terjebak dengan cerita masa lalunya sehingga kurang menghargai prestasi anak2 sekarang.Sehingga kita lupa mempersiapkan mereka cara pandang yang benar mengenai kehidupan ini, kita malah mempersiapkan mereka bambu runcing !!

    Bapak/Ompung kita berjuang melawan penjajah, kita berjuang melawan kemiskinan dan kelaparan, selain buat diri mereka sendiri,mereka berjuang memperbaiki kerusakan yang kita tinggalkan, baik itu kerusakan phisik maupun kerusakan tatanan sosial yang sudah semakin parah.

    Salut atas tulisan, kritik dan Pandangan hidup yang sangat bagus bang Toga, semoga peringatan sumpah pemuda tidak hanya diisi oleh cerita masa lalu, tapi juga pesan bijak agar kesalahan masa lalu tidak diulangi di masa yang akan datang. Salam !

    Balas
  3. joe Sitohang

    hehehe…pembelajaran buat kita2 yang mau jadi orangtua nih, kalau aku dulu lae susuku namanya *”Purik” (kerennya mamakku menamainya “IndoPurik”) ntahlah kandungan apa saja yg ada dalam susu indopurik itu yang jelas tak ada kandungan DHA dan lain sebagainya yg membantu perkembangan otak, spt susu anak2 skng. lalu yg jadi pertanyaan haruskah kuNarsiskan kisah susuku ini ke anakku kelak? kemudian apa mentega dan apa pula keju tak pernah kukenal itu dimasa kecilku harus jugakah ku umumkan ini ke anakku kelak? krn masa kecilku juga seringnya dikasih *Gadong rebus.

    *purik>> Air Beras dari menanak nasi
    *Gadong>> Ubi kayu rebus

    Balas
  4. itikkecil

    setuju bang… tantangan yang dihadapi pada setiap jaman itu berbeda.. tidak fair kalau menuntut anak-anak sekarang mengalami apa yang kita alami dulu…
    btw, Zaid lucu ya bang 😀

    Balas
  5. putirenobaiak

    menohok sekali tulisan ini, juga komen dari temanmu itu bang. ya kadang kita lupa tantangan anak kita sangat beda dg kita dulu. bahkan mungkin lebih berat.

    wuih naksir bgt aku sm zaid, gimana ‘bikinnya’ tuh hehe 😉

    Balas
  6. mikekono

    semoga Zaid yang cute and handsome itu
    kelak tak sekadar bangga pada kehebatan masa lalu bapaknya
    menjadilah sebagai Zaid apa adanya
    dan tak perlu mengikuti jejak bapaknya

    Balas
  7. Nesia! Penulis Tulisan

    @ Mas Sugeng.
    Kita mmg harus bisa menjadi busur yang melesatkan mereka sejauh impian…

    @ Mansup.
    Berat. Tp jg tak ada yg berat bila dilakukan dgn cinta.

    @ DCS.
    Menampar tanpa menyakiti Lae, malah mengobati kekeliruan hati.

    @ Joe.
    Indopurik. Huahahahahaha. Harus dipatenkan nama itu Lae.

    @ Ya. Perilaku ortu yang kita protes dulu, ternyata kita ulangi juga kepada keturunan berikutnya. 😀 Zaid lucu? Namanya juga anak pelawak. :))

    @ Akokow.
    Belum, tp akan… 🙂

    @ Meiy.
    Waduh, macam mana pula caranya nak membeberkan rahasia itu ya…

    @ Bg Ujung.
    Ya, dia tak perlu mengikuti jejak Bapaknya. BUAHAYAAAAHAHAHAHAHA!

    Balas
  8. pimbem

    satu hal yg bisa saya ambil dr sini…
    anak2nya bang toga bener2 mirip IBUNYA! :mrgreen:

    engga engga becanda… mirip mirip sm bapaknya hehehe

    jd ortu skrg mesti ngikutin zaman bang, bener tuh komentarnya pak DCS (sok tua.com)

    Balas
  9. elly.s

    beruntung sekali saya bisa nyasar kesini..

    salam kenal bang..
    lom apa2 saya udah terpesona…

    argh…iya semua zaman ada tantangannya sendiri2..yang penting bekali anak2 kita dengan segala bekal yang perlu untuk menghadapi
    zaman yg lebih edan lagi..

    bekal agama pasti…

    (standard banget ya komen ku)

    Balas
  10. gasgus

    Awak baru tau kalo ternyata dulu anak awak satu TK dengan anak Bung Toga si Echa, cuma lain kelas. Waktu mereka sama-sama di wisuda, rupanya anak Bung Toga yang tampil sebagai juara umum, anak awak juara satu di kelasnya. O, iya Bung Toga,anak awak cewek juga, anak pertama.

    Balas
  11. Islam Indie

    bang toga..

    kadang saya bayangin gini, tiba-tiba energi habis dari perut bumi, listrik hilang dari muka bumi. kita kembali pake lampu minyak tempel lagi. wah, kompi dan besi-besi yang berjalan itu terdiam dan tak lagi dibutuhkan. Porong tumbuh menjadi hutan baru setelah semburan lumpurnya berkurang. bangunan2 megah jadi buram, lalu termakan lumut dan hancur rata dengan tanah atau hilang tertutup tanaman liar dan menjadi hutan kembali.

    walau kadang saya bayangkan sebaliknya, dunia semakin modern dan makanan hanya berupa pil tapi bikin kenyang dua hari dua malam, hehehe.

    maka kemudian saya sadari hidup dan bahkan beragama sebagai kontemplasi individual, sebaiknya tidak menjadi kaku dan menginstitusi karena akan terus memiliki dinamikanya sesuai zamannya. dan itulah kelak yang akan kita wariskan dan anak-anak kita jalankan.. terus dan terus demikian.. hidup ini indah.

    dan inget hukum kekekalan energi, maka sesungguhnya Dia itu hidup dan kekal adanya.. 😀

    Balas
  12. manganju luhut

    semesta adalah sekolahku setiap mahluk adalah guruku.
    wha…. alamak.. mainannya handphone
    btw, dah lama ga publish bang

    Balas
  13. alvey

    Wah betul banget bang…

    Saya juga merasa anak2 jaman sepertinya kehilangan sesuatu. tidak ada lagi itu yg namanya indahnya masa2 kecil… dulu waktu kecil, saya masih sering mancing, cari burung pake ketapel..maen2 di sawah, dsb. rasanya indah banget smua itu bang…

    Anak2 jaman sekarang mungkin udah jarang yg begitu, atau bahkan mungkin ada yang tidak pernah mengalami. anak2 jaman sekarang jg terlalu banyak beban,seperti yg udah abang jelasin di atas.

    Namun, selain kita sebagai orang tua harus selalu mendampingi dan mensupport mereka terus, ada juga beberapa beban yg sebenarnya bisa kita (dan juga pemerintah)hilangkan.

    Saya merasakan bahwa kurikulum skolah2 kita terlaluuuu berattt bang…kasian adik2 kita. masih smp, atau sd kurikulumnya udah berat2 banget…hapalin rumus itu lha..teori ini lha. yg sebenarnya blm terlalu penting untuk anak seusia itu.

    bahkan saya merasa ada beberapa mta pelajaran di sma hanya mengulang dr smp…lho??? jadi seakan percuma itu pelajaran di smp, pdhl belajarnya setengah mati lho:)

    Dan, spertinya itu bs dijadikan alasan mengapa anak2 kita sering “Juara Olimpiade” sains. Ya gimana gak juara?? orang mata pelajaran di negara lain diberikan di universitas, di indonesia udah diberikan pas sma…

    Balas
  14. lovepassword

    Intinya : maklumlah sama anak, karena yang namanya bapak kan pernah juga ngalami jadi anak. Lha kalo anak mana pernah ngalami jadi bapak. Jadi kalo anak disuruh memahami orang tua ya nggak kloplah. Mestinya orang tua yang lebih paham, kan orang tua pernah merasakan jadi anak itu seperti apa. Hi Hi Hi

    Balas
  15. Martini Sikumbang

    Hadist Nabi menyatakan didiklah anak sesuai dengan zamanya.Hadis ini mengingatkan kita sebagai orang tua untuk memahami bahwa anakmu adalah anak zamanya.

    Balas
  16. Martini Sikumbang

    Saya pernah menayakan pada murid saya,hal apa yang paling tidak disukai oleh mereka dari orang tua mereka.seluruh murid saya menjawab yang paling tidak disukai adalah mereka dibanding bandingkan dengan orang lain,baik itu orang tua sendiri,kakak,adik ataupun teman.krn mereka inggin menjadi diri sendiri.Setiap anak adalah unik,punya kelebihan ataupun kekurangan.mungkin kita sayang krn kelebihanya,ataupun kita sayang krn kekuranganya.orang tua yang bijak akan selalu mampu memaafkan anaknya apabila melakukan kesalahan,sebab anak kalau kita bimbing akan belajar dari kesalahan.Mereka melakukan kesalahan,krn menurut sudut pandang mereka,mereka adalah benar.Bahasa anak dan bahasa orang tua dlm berkomunikasi sering sekali tidak ketemu,sehingga timbul salah paham.Semoga anak kita adalah anak zamannya yang selalu menjadi Ahli zikir dan Ahli fikir.

    Balas
  17. Colifa Sagita Yogya

    Wah kita tidak selalu harus melihat ke depan terus dalam mendidik anak, sesekalilah kita melihat kebelakang dalam mendidikanak.
    Sebab di tengah – tengah itu jauh lebih baik dari pada terlalu ke depan dan terlalu ke belakang…Melongok pengalaman masa lampau yang mungkin berharga dan bermanfaat untuk anak kita dan menunjukkan arah pada anak kita di jaman yang akan datang agar tak menjadi korban ke modernan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s