Arsip Bulanan: Oktober 2008

Tuhanku dan Tuhanmu, Lebih Hebat Tuhan Kita…

Tuhan selalu hebat, dari dulu sampai kiamat. Dialah yang teragung, walau dosa kita semakin menggunung. Dialah yang terbesar, meski semakin banyak manusia yang ingkar. Dia Maha Pengampun, bahkan kepada seorang penyamun yang tak kenal ampun.

Dia Maha Mencinta, memberi tanpa diminta. Dia selalu menang tanpa harus repot berperang. Dia tak tergantikan, walau seluruh semesta menggelar pemilihan. Dia tetap Yang Terindah, walau tak sekeping hati pun sudi menyembah. Dia begitu dekat, hingga mata tak mampu melihat.

Dia segalanya, membuat siapa saja kehabisan kata ketika memujanya…

*****

Engkau memang Pecinta Terhebat, membuat semua orang merasa menjadi sahabat-Mu yang terdekat, kekasih-Mu yang terlekat. Kami langsung cemburu, jika ada yang lain juga merasa sedekat itu. Merasa Engkau sebagai Kekasih, mereka yang juga ngaku-ngaku membuat kami risih, dan ingin rasanya memutilasi mereka menjadi serpih, kecil, tipis, pipih…

Baca lebih lanjut

Bukan Agama yang Sempurna, tapi Sempurnalah dengan Agama

Tak ada tangga pintas ke surga...

Biarkan setiap orang merumuskan pemahaman yang berbeda tentang misteri semesta. Biar setiap hati mencari jalannya sendiri menggapai tempat tertinggi.

Hak semua insan menentukan tujuan kehidupan yang menurutnya paling penting. Bagaimanapun tak masuk akalnya cara mereka itu buatmu, jangan pernah mengatainya sesat atau sinting.

Tapi dalam perbedaan cara itu, kita semestinya juga merapatkan tersatukan, karena agama-agama yang hebat itu sesungguhnya sama-sama menganjurkan kebaikan, walau dengan cara yang berlainan. Apakah Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Konfusius, semuanya, semua ajaran mulia yang mengawal kehidupan, menuntun kepada kebahagiaan.

Jangan membunuh, jangan menyakiti, jangan buat perintang di jalan yang dilalui orang buta, jangan abaikan fakir miskin dan anak yatim, jangan perbudak orang-orang lemah โ€” itulah yang selalu kau temukan di semua kitab suci. Baca lebih lanjut

Jika Semua Agama Benar, Tuhan Tampaknya Sedang Belajar

Jerusalem, kota suci tiga agama "langit"

Tuhan yang begitu “galak” di kitab Taurat atau Perjanjian Lama, dan memuliakan hari Sabtu, secara drastis melunak, menjadi begitu penuh maaf dan cinta kasih di Perjanjian Baru, dan memajukan hari baik menjadi Minggu. Eh, balik lagi menjadi tegas dalam Al-Qurโ€™an, dan malah memundurkan penghulu hari menjadi Jumat.

Maka jika ketiga agama ini benar (dari sisi Tuhan), bukankah Ia kelihatannya sedang belajar, atau seperti sindiran iklan minyak kayu putih, Tuhan kok coba-coba?

Bukan mengada-ada, tapi begitulah adanya, sebuah revisi beruntun dari Tuhan, dalam wadah tiga agama “langit”; Yahudi, Kristen, dan Islam. Lihat sosok Tuhan yang begitu “galak” dalam kisah anak-anak Yehuda, seperti direkam Perjanjian Lama berikut. Baca lebih lanjut

Sms dan Ungkapan Cinta yang Meluluhkan Hati (4)

Eceknya film laris. Sekuelnya terus berlanjut. ๐Ÿ˜‰ Biar juga dikopas tanpa izin di banyak tempat, it’s ok… Keindahan memang semestinya tersebar, dengan cara apapun. ๐Ÿ˜€

(36) Gimana kalo kita berdua jadi komplotan penjahat: Aku mencuri hatimu, dan kamu mencuri hatiku…

(37) Mereka bilang waktu akan mengobati semuanya. Masalahnya, tanpa kamu di sini, waktu seperti berhenti.

(38) Kamu membuatku tersenyum, tanpa sebab apapun. Membuatku tertawa, walau tak ada yang lucu. Sialnya, kamu juga membuatku jatuh, pada saat aku semestinya menjauh. Baca lebih lanjut

Setiap Zaman Punya Tantangan Sendiri, Usah Banggakan Hari yang Telah Pergi

Wah, yang ini lebih menyebalkan lagi. Zaid, anak keduaku, malah berhpria di tempatku dulu mencari cacing tanah...

Wah, yang ini lebih menyebalkan lagi. Zaid, anak keduaku, malah berhpria di tempatku dulu mencari cacing tanah...

Apa beda dongeng di negeri kita dengan di Amerika sana? Di sini kita memulainya dengan, “Dahulu, pernah ada…”, dan di sana mereka mengawalinya dengan, “Kelak, akan ada…” Mereka mendorong anak-anaknya mengejar cahaya di depan, sementara kita (berusaha) memesona putra-putri kita dengan sesuatu yang telah redup di belakang.

ย 

Dan ketika tunas-tunas baru itu tampaknya tidak cukup tertarik, konon pula terpesona, dengan hikayat masa lalu itu, kita kutuk mereka sebagai anak-anak yang durhaka pada sejarah, tak menghargai jasa dan pengorbanan pendahulunya.

Maka meluncurlah narasi yang tak perlu tentang masa lalu yang sulit rumpil rumit, dan betapa kita digdaya karena bisa melewatinya. Tak hanya itu, kita juga membandingkannya dengan masa sekarang yang super duper yummy, dan menyebut mereka tinggal menikmati hasil “perjuangan” kita itu. Baca lebih lanjut