Memangnya, Satu-satunya Identitasmu Cuma Agama?

Identitas agama bukan harga mati. Jiwa manusia tidak dibentuk oleh satu warna, tetapi oleh spektrum yang luas, kaya warna, dan memesona.

dphotojournal.com

dphotojournal.com

ANDA pasti pernah mengisi formulir; entah saat mendaftar ke sekolah, melamar pekerjaan, atau melamar anak orang. (Emang ada calon mertua nyodorin formulir sama peminat anak gadisnya? Kalau ada, pastikan Anda tidak lupa me-mark up data di kolom isian penghasilan bulanan, atau Anda akan menemukan kesulitan).

Nah, selain kolom nama, Anda tentu harus mengisi sekian banyak rincian identitas, tidak cuma agama. Artinya, yang memengaruhi, yang membentuk kedirian seorang manusia itu tidak cuma agama, tetapi banyak hal lain; usia, pendidikan, kultur, strata sosial, dsb. Jadi keliru itu si Samuel Huntington yang bilang bakal ada benturan peradaban antara Barat-Kristen dengan Islam Timur. Emangnya di Barat ngga ada Islam. Di Nanggroe Aceh Darussalam juga banyak gereja.

Stereotip itu memang pedih. Ini kenyataan yang sering saya alami. Begitu saya memperkenalkan diri sebagai Toga Nainggolan, orang akan langsung menyimpulkan saya Kristen. Saya sebal bukan karena sangat anti dengan Kristen – insya Allah Islam yang pahami adalah islam yang rahmatan lil ‘alamin, kebaikan bukan saja buat seluruh manusia, tetapi juga bagi segenap alam raya – tapi orang yang sok tau memang menyebalkan!

Itu sama menyebalkannya misalnya, ketika orang melihat Anda pakai tindik di mana-mana, lantas mereka bilang, “Anak metal ya?”, padahal Anda fans tulen Rhoma Irama. Bete kan? Terlalu!

Memangnya jadi Rhomanista ga boleh pake tindik? Itulah penyakit peradaban kita, suka banget merampatkan, menggeneralisir, memukul rata, atau apalah itu, yang tidak memberi ruang kepada perbedaan dan keunikan.

Seorang manusia, terikat atau setidaknya terhubung ke banyak himpunan, dan agama adalah salah-satunya, tetapi bukan satu-satunya. Ingat pelajaran Matematika tentang himpunan. Sebuah bilangan bisa menjadi anggota dari beberapa himpunan sekaligus!

Hanya berkonsentrasi pada satu identitas seseorang, terutama agama, dan mengabaikan semua identitas yang lain, terbukti akan membawa kita ke jebakan permusuhan yang sangat fatal, kejam, merusak, mortal, hal-hal yang justru ingin dicegah oleh agama, katanya.

Tanah Batak, sepertinya contoh yang baik tentang bagaimana sebuah identitas sama pentingnya dengan identitas yang lain. Bukan hendak membangga-banggakan kampung sendiri. nyaris tidak pernah kita dengar konflik horizontal berbasis agama di daerah ini.

Bagi banyak orang Batak, identitas kebatakan justru terasa lebih penting dari agama. Karenanya, begitu mereka bertemu, yang ditanya adalah, “Ai marga aha do hamu?“, atau “Marga Anda apa ya?”. Baru setelah itu dijawab, dengan kalimat yang sangat enak, mungkin akan menyusul pertanyaan semacam, “Taringotna, par Ari Minggu do hamu tahe? Manang par ari Jumahat?” Artinya kira-kira, “Omong-omong, Anda ini berhari Minggu atau berhari Jum’at?”

Atau malah seringkali lupa nanya soal itu, karena mereka sudah langsung sibuk mencari pertalian kekerabatan. “Bah, berarti Anda masih amangborunya tulang dari amangudanya pariban adik kandung dari istri saya di rumah? Ah, horas ma bah, salaman lagilah kita!” Dan jika sudah bicara begitu, hari minggu atau jum’at menjadi so unsignificant. So sweet kan? Tuh, kan siapa bilang Batak pasti serem, ada juga yang manis. 😉

Yakin deh, hayah deh!, dengan memberi ruang kepada semua identitas yang kita sandang, kita akan menemukan lebih banyak saluran untuk saling terhubung dengan orang lain. Entah itu melalui etnis, zodiak, hobbi, tipe body wanita yang disukai, makanan kesukaan, bintang film favorit, atau tim jagoan di F1.

Jadi, perkenalkan, saya Toga Nainggolan, Batak, Taurus, suka musik dan jalan-jalan, pasti gemes melihat wanita dengan pinggul proporsional, suka makan apa aja, fans-nya Tom Hanks dan Nicolas Cage, pecinta Mc Laren, sejak bermesin Honda di era Ayrton Senna sampe pake Mercedes Benz yang ditunggani Lewis Hamilton.

Tuh, kan, pasti udah ada deh, beberapa orang di sana yang berpotensi punya hubungan dengan saya, terutama tentu saja, wanita yang punya pinggul proporsional.

Bedakan misalnya, bila dari awal saya hanya menonjolkan identitas agama, konon lagi kalau dalam identitas agama itu saya kerucutkan lagi kepada mahzab/sekte tertentu. Saya hanya akan terhubung dengan kelompok yang itu-ituuuuuuuuuuuuuu aja, dan akhirnya saya pun makin mantaf bin solid menutup diri dari yang lain.

Jika kita sudah menutup diri, maka cahaya Ilahi, kebenaran, kemuliaan, kearifan, calon kekasih yang tepat, rezeki, juga akan enggan menyapa apalagi singgah di hidup kita.

Cape deh!

Iklan

17 thoughts on “Memangnya, Satu-satunya Identitasmu Cuma Agama?

  1. Ama Hendrik Simatupang

    Huahahahaha… Mantap Lae mantap. Horasma.
    Terus terang sayapun sebenarnya sudah punya perasaan tidak enak kepada saudara2 yang islam. Sering lae kami merasakan penderitaan membangun rumah ibadahpun sangat sulit, beresiko dibongkar pula. Walaupun sering dikatakan islam itu agama damai, tapi yang terlihat dilapangan sering bertolak belakang. Mohon maaf dulu lae.
    Di Alkitab tertulis bahwa pohon dinilai dari buahnya. Bagaiamana kami mau percaya islam membawa kedamaian dan keadilan, kalau kenyataan yang kami rasakan sungguh jauh dari itu.
    Lae pasti tahu persis, di kampung kita sana mana pernah orang dipersulit membangun mesjid. Tak ada itu izin ini-itu.
    Begitulah jadi curhat saya lae.
    Dan untuk Lae Toga tau, orang2 seperti lae, membuat saya harus mempertanyakan lagi asumi2 yang selama ini mulai saya yakini.
    Ada juga rupanya buah yang ranum, seperti pinggul proporsional itu. Hahaha, Horas Lae.

    Balas
  2. unai

    Pake tindikan dan tatoo di sana sini, ehhhh penggemar Dewi Persik. Aha..betul betul kita menelan bulat2 hal hal baku yang sudah sejak lama mengakrabi kita.

    ehmmm pinggul saya ok loh Lae..hahaha

    Balas
  3. Nesia!

    @Uncle
    Chubby emg kesannya sehat dan innocent. Kesannya loh…

    @Gun
    Wow. Ini dia hamba ‘kesayangan’ Tuhan.

    @S’tupang.
    Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya, Lae… kecuali diseret-seret semut.

    @Ira
    Sipit… *lirik foto di pojok atas* Hm, cukup sipit, atau lebih tepatnya disipit-sipitkan. Tp konon, org bermata sipit, susah ditebak lo ekspresinya…

    @Sitijenang.
    Menggemaskan? Mm, punya pinggul proporsional juga ya? 😀

    @Unai.
    *tak berkata-kata, cukup berimajinasi*

    Balas
  4. irna

    wajarlah kalau bung toga langsung ditanya agamanya terutama oleh orang jawa ( karena mereka kebanyakan tahunya kalau orang bata mayoritas kristen), ga mungkinlah sama oang jawa langsung ditangya marganya apa bung? ini terjadi karena emang orang jawa ga “ngeh” sama yang namanya marga. sama halnya denganku ketika memperkenalkan diri saya dari jepara, pasti langsung ditangya punya usaha mebel ya mbak? karena memang terkenalnya kota mebel

    Balas
  5. HeLL-dA

    Saya lebih dr itu..
    Kalo’ saya memperkenalkan nama saya, Helda Waty Sihombing.
    Terutama jika yg nanya ini agamanya Kristen, dia langsung nanya, “Gereja mana?”
    😆

    Langsung to the point tapi point yg salah. Padahal belum tentu saya Kristen dan apalagi belum tentu saya pernah ke gereja manapun.

    :mrgreen:

    Balas
  6. Nesia!

    @Irna
    Kalo ditanya agama apa sih, wajar bin normal. 😀 Lha ini ga ditanya, langsung disimpulin sendiri.

    @Hell-DA
    Ck ck ck… Young lady yg satu ini emg sangar, euy!

    Balas
  7. Rocketer

    Wah wah wah… Semuanya kok jadi fokyius kemasalah pertubuhan neh? Berarti itu identitas terpenting ya?

    I think i got the point here…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s