Arsip Bulanan: September 2008

Malam Lebaran, Bulan di Atas Kuburan

Crescent Moon Over the East End Cemetery karya Elizabeth Fraser

Crescent Moon Over the East End Cemetery karya Elizabeth Fraser

Salah satu puisi yang paling banyak diperdebatkan maknanya adalah “Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisinya cuma sebaris, “bulan di atas kuburan”. Pertama puisi itu sangat pendek. Kedua, malam lebaran yang berarti malam 1 Syawal, adalah saat di mana bulan sama sekali tidak kelihatan.

Dan saya tak ingin memperpanjang debat itu.

Lebaran adalah hari kemenangan, tetapi juga kekalahan; kekalahan bagi yang tak berhasil meningkatkan barang segaris kualitas kemanusiaannya, juga kekalahan bagi yang tak bisa membelikan barang sepotong baju baru untuk anaknya.

Hari kemenangan itu telah menjadi beban, karena terjadi pengeluaran besar-besaran. Ironis, ketika hari kemenangan justru disambut dengan kepanikan, kenaikan harga-harga barang, dan penambahan saldo utang.

Segala hal telah berkiblat kepada kebendaan. Tak ada lagi yang peduli menyelami, apa yang semestinya terjadi di Idul Fitri. Apakah merenungi, menelanjangi jiwa sendiri, atau ke sana ke mari wara-wiri dengan baju baru dan gemerlap perhiasan warna-warni. Mengapa menjelang hari itu segalanya justru menjadi sesak; mall, pasar tradisional, toko sembako, seperti sesaknya dada si fakir yang tak tau harus membelanjakan apa menyambut hari raya, sesak pengap membekap, padahal namanya lebaran, bukan sempitan.

Jika begitu, lebaran memang menjadi bulan di atas kuburan. Pedih, menyayat, sepi, mencekik.

Kemampuan Pikiran Manusia Itu Terbatas, Jangan Makin Dibatasi Pula

Monyet aja mikir, manusia kok malah memilih tunduk tanpa berpikir

Monyet aja mikir, manusia kok malah memilih tunduk tanpa berpikir

Salah satu kritik paling umum yang saya terima di blog ini adalah, terlalu mengagungkan pikiran, padahal katanya pikiran itu terbatas kemampuannya.

Lha saya malah bingung jadinya. Sudah tau kemampuan pikiran itu terbatas, kok malah dibatas-batasi pula? Geber dong sampai batas kemampuannya.

Ini sama dengan ungkapan hidup ini sudah sulit, ngapain pula makin dipersulit?

Ada kesan seakan keagungan Tuhan di “atas” sana, akan “terganggu” karena kebebasan berpikir itu. Yang menghina Tuhan itu sekarang siapa sih? Bukankah pikiran seperti itu justru sudah mengerdilkan keagungan Tuhan, seolah-olah Dia bisa diganggu oleh keliaran pikiran manusia? Baca lebih lanjut

Tuhan Bagai Cewek Seksi yang Diperebutkan Pemuda Mabuk

Kemarahan dan peperangan karena agama dan Tuhan, bisa digambarkan seperti perkelahian segerombol lelaki mabuk, memperebutkan seorang gadis.

Salah satu atau bahkan semua pemabuk itu bisa cedera atau mati, padahal tak satu pun dari mereka yang sebenarnya punya perhatian apalagi cinta kepada gadis itu. Mereka saling bunuh karena harga dirinya sendiri, yang sebenarnya tak punya harga!

Di bataknews saya pernah posting cerita ini. Baca lebih lanjut

Fisik Bukan Segalanya, tapi dari Sana Segalanya Bermula

Begitukah? Entah! Yang jelas, pantun klasik “Dari mana datangnya lintah, dari sawah turun ke kaki. Dari mana datangnya cinta – eh, mestinya cintah dong ya – dari mata turun ke hati”, menggambarkan betapa mata adalah gerbang ke istana cinta. Apa yang bisa ditangkap oleh mata? Ya rupa, masa aroma?

Selain berbagai perbedaan lain, perbedaan “kualitas” fisik antarmanusia, seringkali dianggap sebagai bentuk ketidakadilan yang kejam dalam kehidupan. Jika memang seseorang memiliki rupa dan tubuh yang, katakanlah kurang simetris, layout atau perjawahannya ngga rapi, pokoknya sama sekali tak nyaman dipandang, apalagi untuk jangka panjang, apa hendak dikata? Berusaha memoles dan merias habis-habisan, justru akan membuat makhluk itu kelihatan makin menyedihkan.

Orang yang sangat miskin, mungkin saja menjadi kaya bila dia gigih sekaligus “bernasib” baik. Tapi orang yang sangat jelek… Kegigihan dan nasib baik apa gerangan yang akan mengubahnya menjadi cakep? Operasi plastik? Nah, itu dia masalahnya. Bila dia berubah menjadi cakep dengan proses yang “maksa” itu, dia bukan dirinya lagi …

Kemiskinan, status sosial, derazat pendidikan, dan berbagai “kekurangan” lain, jelas akan mengganggu kepercayaan diri seseorang. Namun “kesadaran” akan buruknya kualitas “perwajahan dan pertubuhannya”, bukan lagi mengganggu, tetapi menggerogoti! Baca lebih lanjut

Memangnya, Satu-satunya Identitasmu Cuma Agama?

Identitas agama bukan harga mati. Jiwa manusia tidak dibentuk oleh satu warna, tetapi oleh spektrum yang luas, kaya warna, dan memesona.

dphotojournal.com

dphotojournal.com

ANDA pasti pernah mengisi formulir; entah saat mendaftar ke sekolah, melamar pekerjaan, atau melamar anak orang. (Emang ada calon mertua nyodorin formulir sama peminat anak gadisnya? Kalau ada, pastikan Anda tidak lupa me-mark up data di kolom isian penghasilan bulanan, atau Anda akan menemukan kesulitan).

Nah, selain kolom nama, Anda tentu harus mengisi sekian banyak rincian identitas, tidak cuma agama. Artinya, yang memengaruhi, yang membentuk kedirian seorang manusia itu tidak cuma agama, tetapi banyak hal lain; usia, pendidikan, kultur, strata sosial, dsb. Jadi keliru itu si Samuel Huntington yang bilang bakal ada benturan peradaban antara Barat-Kristen dengan Islam Timur. Emangnya di Barat ngga ada Islam. Di Nanggroe Aceh Darussalam juga banyak gereja.

Stereotip itu memang pedih. Ini kenyataan yang sering saya alami. Begitu saya memperkenalkan diri sebagai Toga Nainggolan, orang akan langsung menyimpulkan saya Kristen. Saya sebal bukan karena sangat anti dengan Kristen – insya Allah Islam yang pahami adalah islam yang rahmatan lil ‘alamin, kebaikan bukan saja buat seluruh manusia, tetapi juga bagi segenap alam raya – tapi orang yang sok tau memang menyebalkan! Baca lebih lanjut

Al Hallaj dan Fir’aun Sama-sama Mengaku Tuhan, Tapi Mereka Berbeda!

Dalam wacana agama, khususnya Islam, kedua figur ini sangat terkenal. Baik Fir’aun maupun Al Hallaj, sama-sama mengguncang sejarah, dengan ucapan yang menyamakan diri mereka dengan Tuhan.

Tapi mereka berbeda. Kata Maulana Jalaluddin Rumi, ucapan “Akulah Tuhan” oleh Fira’un adalah kegelapan yang pekat, tapi pernyataan “Akulah Sang Kebenaran” oleh Al Hallaj, justru cahaya yang benderang.

Yang kupahami dari ucapan Maulana, Fir’aun melontarkan pernyataan itu berdasar pada keangkuhan. Dia maharaja dengan kekuasaan absolut. Keadaan itu kemudian yang membuatnya merasa, dan menyatakan diri telah menjadi tuhan. Baca lebih lanjut

Bagaimana Mungkin Tuhan yang Mahacinta Mengirim Seseorang ke Neraka?

Ini pertanyaan udah jadul banget! Tantangan iman yang sangat klasik kepada semua agama, terutama yang berklasifikasi langit! (Keren nian sebutan itu, seolah agama lain agama kelas dua, made in earth).

Mau ke neraka? Pastikan Anda tidak nyasar ke mana-mana. No place like hell. source: consumptionaddict.wordpress.com

Sebenarnya, ada jawaban yang sangat tangkas, efektif, dan telak: Tuhan tidak mengirim siapapun ke neraka. Manusialah yang mengirim dirinya sendiri ke sana. Tuhan justru sudah all out, abis-abisan mencegah manusia dari mengirim dirinya sendiri ke tempat api dan derita abadi itu.

Dalam perspektif Islam misalnya, Dia harus “berepot-repot” menurunkan 25 utusan, menerbitkan 4 kitab! Dalam perspektif Kristen bahkan lebih dahsyat lagi. Dia rela mengorbankan anak tunggalnya. Buat apa? Semata-mata mencegah manusia dari tindakan bodoh mengirim dirinya sendiri ke neraka itu. Keren kan?

But… our problem then… Daripada sebegitu “repot” dan “tragisnya” mencegah kita migrasi ke neraka, lha kok ga nerakanya aja yang di-delete? Ctrl A neraka, trus delete. Beres kan? Ga ada masalah dong, buat yang Mahakuasa, yang Mahaberkehendak? Baca lebih lanjut