Telanjang Mencari Jiwa, atau Menelanjangi Diri Sendiri

Blog adalah salah satu ladang, di mana kugali jauh ke dalam diri, kubertali berhubung pada dunia yang lebih besar. Begitu banyak kebenaran, nilai, ihlam bercucuran – setiap hari – kubiarkan hilang, seperti sisa air sehabis mandi, mengalir pelan, mengucur di kedua bahu.

Aku yakin, menulis adalah satu-satunya cara bisa menggambar apa yang terasa, sedekat mungkin. Lidah seringkali bergerak lebih cepat – atau justru lebih lambat – dari getaran rasa, sementara jemari bisa mengikuti iramanya: melambat, atau bergegas seperti merapal mantra.

Menulis adalah proses kreatif, menjangkau jauh ke dalam diri, ke sebuah tempat yang selama ini aku tak pernah sadar ada. Ini tidak sekadar menulis diari, atau bahkan pekerjaan jurnalistik – profesi yang selama ini menjadi jalanku mencari nafkah.

Menulis juga sebuah langkah keluar dari dimensi waktu, beranjak dari dunia keseharian. Ini sebuah dunia alternatif, tercipta dalam sebuah momen, dari ruang di antara ujung jemari dan hamparan papan kunci komputer, juga antara pandanganmu dan miliaran bit warna di monitor. Ini sebuah persambungan antarrasa, antar dunia-dunia yang kesepian sendiri.

Tidak selalu indah, dan memang tidak perlu indah. Sebaiknya ia menantang, membuat udara tiba-tiba menggumpal dan tak ingin keluar dari paru-parumu; sesak, menggelegak.

Aku sedang telanjang, mencari jiwa, mencari sesuatu yang kutahu bisa saja tak akan pernah kutemukan selamanya, tapi harus tetap kucari. Kuajak kau ikut, jika ada perkenanan. Kadang kau lihat aneh, kadang mengganggu sesuatu yang kauayakini, kadang seperti menyuarakan sesuatu yang lama ingin kau suarakan.

Mari telanjang, di sepanjang perjalanan mencari jiwa.

Iklan

6 thoughts on “Telanjang Mencari Jiwa, atau Menelanjangi Diri Sendiri

  1. R

    cape lelah kusut sakit pencarianku

    telanjang mencari sesuatu yang bisa saja tak akan pernah ditemukan selamanya tapi tetap harus dicari, aduh … mudah2an raga ini tidak keburu mati

    Balas
  2. mikekono

    Kita mesti menelanjangi diri,
    agar tak menjadi sebuah misteri
    Kita mesti menelanjangi diri
    agar tak lupa pada esensi
    Kita mesti menelanjangi diri
    supaya bisa mempertegas jatidiri

    *lama2 jd bingung sendiri*

    Balas
  3. Irawan

    Jiwa…selalu ada pada diri setiap manusia.
    Jiwa…lebih mengenali diri kita.
    Dan diri kita tidak mengenali Jiwa kita.
    Carilah jiwamu di dalam kesunyian dirimu.
    Mendekatlah kepada Sang Maha Jiwa.
    Karena hanya dia yang bisa mempertemukanmu.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s