Begitu Bergegasnya Waktu…

null

Seperti baru kemarin aku sendiri yang mengenakan seragam putih merah itu. Seperti baru tadi pagi, aku bangun habis subuh, membantu emak membungkus bubur panas, yang harus dijual tuntas sebelum mulai berkemas ke sekolah. Seperti baru beberapa jam lalu, di tengah terik hari menghujam bumi, aku menenteng termos, penuh berisi es lilin, untuk dijajakan keliling kampung.

Kini kau, Nak, yang mengenakan seragam itu. Sebisaku, tak akan kubiarkan kau sampai harus membungkusi bubur panas, apalagi menjajakan es lilin. Kau terlalu cantik, terlalu ringkih untuk itu. Kita memang tak kaya, Nak, tapi keadaan kita saat ini, dulu, mengimpikannyapun Bapak tak berani.

Hayo Nak, dalam belitan kemiskinan itu dulu, Bapak bisa lho, selalu ranking satu di kelas… Emang sih, saingannya anak-anak kampung pelahap singkong, tak seperti kau yang harus berebut nilai dengan anak-anak kota pengunyah keju. Peringkat I di TK kemarin itu, sudah menjadi awal yang baik. Oiya, TK Bapak dulu di pematang sawah. Pelajaran utamanya, adu cepat mencari cacing tanah, jadi umpan memancing ikan gabus. Itu sumber gizi utama Bapakmu ini dulu. Selengkapnya…

Iklan

2 thoughts on “Begitu Bergegasnya Waktu…

  1. alex®

    Wah…

    Umur memang ndak terasa, bro. Saya pun masih sering merasa takjub melihat anak-anak sekolah di sekolah-sekolah dimana saya pernah jadi murid…

    Rasa-rasanya baru kemarin 😕

    Balas
  2. gilang mahardika

    persis yang dibilang bapakku dulu saat aku masih bersekolah.. aku cuma pesan bang,, jangan seperti bapaku yang memakai pengalamanya sebagai guru untuk anak abang.. biarkanlah anak abang mempunyai daya pikir yang tiada batasan..
    dulu aku bersekolah hanya untuk bisa mendapatkan nilai yang terbaik dan membuat orang tua ku tersenyum melihat rapot yang kuberikan..
    sehingga aku membuat dalam otak ku satu hal yang salah,, ORANG TUAKU AKAN SENANG JIKA DIA MELIHATKU DENGAN NILAI BAIK.. bukankah salim mencium tangan abang membuat jiwa abang merasakan cinta dari anak abang,, bukankah ciuman di kening adalah semangat yang membuat jiwa anak membara daripada les yang diberikan setiap harinya… kulewatkan masa kecilku hanya dengan belajar di depan meja,, yang seharusnya waktu itu untuk menyapa orang tuaku saat pulang dari kerjanya..

    biarkanlah anak abang membuka jalanya sendiri saat abang sudah merasa dia bisa mengambil parang untuk melebarkan jalan yang sudah abang buat sebelumnya.. bukan memperlihatkan batu sandungan yang akan membuat dia terus mengikuti abang..
    (duh , jadi curhat kan)
    yanhh kurang lebih bgituu lah tanggapan dari seorang anak yang rindu akan ciuman saat pagi dan pelukan hangat pengantar membukanya hari…

    🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s