Arsip Bulanan: Juli 2008

Begitu Bergegasnya Waktu…

null

Seperti baru kemarin aku sendiri yang mengenakan seragam putih merah itu. Seperti baru tadi pagi, aku bangun habis subuh, membantu emak membungkus bubur panas, yang harus dijual tuntas sebelum mulai berkemas ke sekolah. Seperti baru beberapa jam lalu, di tengah terik hari menghujam bumi, aku menenteng termos, penuh berisi es lilin, untuk dijajakan keliling kampung.

Kini kau, Nak, yang mengenakan seragam itu. Sebisaku, tak akan kubiarkan kau sampai harus membungkusi bubur panas, apalagi menjajakan es lilin. Kau terlalu cantik, terlalu ringkih untuk itu. Kita memang tak kaya, Nak, tapi keadaan kita saat ini, dulu, mengimpikannyapun Bapak tak berani.

Hayo Nak, dalam belitan kemiskinan itu dulu, Bapak bisa lho, selalu ranking satu di kelas… Emang sih, saingannya anak-anak kampung pelahap singkong, tak seperti kau yang harus berebut nilai dengan anak-anak kota pengunyah keju. Peringkat I di TK kemarin itu, sudah menjadi awal yang baik. Oiya, TK Bapak dulu di pematang sawah. Pelajaran utamanya, adu cepat mencari cacing tanah, jadi umpan memancing ikan gabus. Itu sumber gizi utama Bapakmu ini dulu. Selengkapnya…

Iklan

Kata Mereka, Al-Qur’an (dan Alkitab) Itu tak Logis, Bahkan Menggelikan Secara Sains

Bumi nan imut dilihat dari bulan. Itu baru dari bulan, objek yang sangat dekat dengan bumi (dalam standar jarak benda-benda antariksa). Konon lagi dari matahari, apalagi alpha century, bintang terdekat dengan tata surya kita. Begitu mungil, begitu ringkih, begitu tiaada… Dan di sanalah miliaran makhluk bernama manusia hidup dengan sombongnya, merasa sudah memahami segalanya. Bukankah katak di dalam tempurung masih jauh lebih bijaksana?

______________________________________________________________

Saya buat tulisan panjang lebar berjudul “Justru Setelah Jadi Muslim, Aku Tahu Kristen Itu Benar“, berisi tentang betapa banyak sebenarnya persamaan dan potensi kerja sama antariman yang bisa dibangun antara penganut kedua agama terbesar di dunia itu. Sekian ratus komentar terhadap entri itu malah didominasi oleh pertengkaran. Pesertanya, orang-orang yang merasa, sekali lagi merasa, sudah menggenggam kebenaran.

Merasa posting itu “gagal”, saya pertajam lagi pesannya, lewat posting yang judulnya saja sudah Islam vs Kristen, Pemenangnya Atheis. Yeee, di sini malah lebih parah lagi, saling maki. Ada juga yang mengancam memenggal leher saya.

Saya kadang geli, kadang sedih kalau materi pertengkaran itu menyentuh ketidaklogisan masing-masing agama, ketika ayat-ayat di kitab suci dikuliti, dibuat terkulai tak berdaya, ketika disandingkan dengan fakta-fakta sains. Baca lebih lanjut

Turunlah dari Langitmu, Jemput Perihmu

Pernah tidak merasa seperti mau melayang, terbang, tinggal menunggu situasi yang pas, alat yang tepat, kesempatan yang memadai, dan pada akhirnya tak apapun yang terjadi?

Saat untuk pelarian yang sempurna itu tak pernah kunjung tiba — atau jika pun sudah, semua seperti terlalu redup, dan kau pun tak bisa sungguh mengenalinya, atau orang-orang terlalu riuh dan jalanmu pun sesak, macet, atau apalah… Semuanya serasa tak pernah pas!

Mungkin, bokongmu memang mesti ditendang dulu biar akhirnya kau meloncat dalam kagetmu. Perlu sebuah momen di mana pikiran tak lagi dilibatkan, sehingga ragu dan timbang-menimbang tak jadi penghalang. 

Kita memang mesti diusir keluar dari sarang, terjun bebas, dan hanya naluri yang disertakan Tuhan dalam dirimu, yang bisa menyelamatkan dari sedotan gravitasi yang perkasa. Selanjutnya…