Arsip Bulanan: Mei 2008

Inilah Bahagia Sesungguhnya, Agama yang Sempurna

Biarkan setiap orang merumuskan pemahaman yang berbeda tentang misteri semesta. Biar setiap hati mencari jalannya sendiri menggapai tempat tertinggi, meraih tujuan kehidupan yang menurutnya paling penting. Bagaimanapun tak masuk akalnya cara mereka itu buatmu, jangan pernah mengatainya sesat atau sinting.

Tapi dalam perbedaan cara itu, kita semestinya juga merapatkan tersatukan, karena agama-agama yang hebat itu sesungguhnya sama-sama menganjurkan kebaikan, walau dengan cara yang berlainan. Apakah Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Yahudi, Konfusius, semuanya, semua ajaran mulia yang mengawal kehidupan, menuntun kepada kebahagiaan. Baca selebihnya…

Iklan

Adam Ciptaan Tuhan, Hawa Hasil Kreasi Setan

Ini temuan menarik, dan kisah yang seragam di tiga agama langit itu, terancam harus direvisi. Mulai dari proses penciptaan Adam, yang bahan bakunya tanah, sampai pembangkangan Iblis – ciptaan superior Tuhan yang berbahan baku api – untuk tunduk kepadanya, tak ada masalah. Perbedaan versi ini, muncul setelah episode itu. Nah, begini ceritanya.

Iblis tak habis pikir. “Apa-apaan sih, Tuhan itu, masa saya harus tunduk kepada Adam, junior yang terbuat dari tanah,” gumannya, mundar-mandir dalam gelisah, di sebuah pojok surga. Baca selengkapnya…

Dari Mana Setan Dapat Kekuatan, Jika Bukan dari Tuhan?

Doktrin agama kerap terjebak memangkas otoritas Tuhan, dan pada saat yang sama melebih-lebihkan kekuasan setan. Bahkan pada titik tertentu, mereka digambarkan sebagai rival sepadan, bertarung sengit, kalah menang silih berganti sepanjang zaman. Maka umat pun diseru untuk berbaris di belakang Tuhan, memberinya bantuan, menebas leher mereka yang menyeberang, memilih jadi laskar setan.

Sehebat itukah setan? Juga selemah itukah Tuhan? Maaf-maaf saja, doktrin seperti ini kuanggap menggelikan. Mungkin dampak dari kebanyakan nonton film action, di mana dunia adalah panggung pertarungan kebaikan dan kejahatan. Baca selebihnya

Mau Terbang kok Takut Jatuh, Mau Bercinta kok Takut Hamil

Pada setiap tahap evolusi manusia, ketika kita mengembangkan alat-alat dengan manfaat yang makin dan makin hebat, saat itu pula kita meningkatkan kemampuan untuk menghancurkan. Begitu sebaliknya.

Setiap pedang bermata dua, setiap peralatan juga senapan. Sebuah Boeing 747 ternyata bisa jadi missil paling mematikan dalam sejarah. Anak-anak muda dengan impian besar tentang kebebasan – melilit tubuhnya dengan bahan peledak – malah membuat sebuah bangsa terpenjara dalam teror dan ketakutan.

Selengkapnya…

Jika Semua Agama Benar, Tuhan Tampaknya Sedang Belajar

Tuhan yang begitu “galak” di kitab Taurat atau Perjanjian Lama, dan memuliakan hari Sabtu, secara drastis melunak, menjadi begitu penuh maaf dan cinta kasih di Perjanjian Baru, dan memajukan hari baik menjadi Minggu. Eh, balik lagi menjadi tegas dalam Al-Qur’an, dan malah memundurkan penghulu hari menjadi Jumat.

Maka jika ketiga agama ini benar (datang dari sisi Tuhan), bukankah Ia kelihatannya sedang belajar, atau seperti sindiran iklan minyak kayu putih, Tuhan kok coba-coba?

Selengkapnya…

Let’s Go Nesiaweek, for an End is Another Beginning

Apa yang kita sebut sebagai akhir, seringkali merupakan sebuah permulaan. Mencapai sebuah akhir berarti memulai sebuah awal. Akhir adalah sebuah titik, di mana kita bermula.

Salah satu anugerah kehidupan terbesar yang kudapat tahun 2007 lalu, adalah blogosfir. Meski sudah ngeblog beberapa tahun sebelumnya, mulai April ’07 lalulah, di wordpress, aku benar-benar terperosok pada “kenyataan” tak terlukiskan, sah menjadi warga sebuah dunia di mana kata dan rasa adalah segalanya.

Temen-temen yang suka dugem, ops!, pasti tau lagu Fly Away, hasil adukan (mixing) Jean Claude Ades. Selain beat-nya enak, konon, lagu ini seperti sebuah senandung menyambut mereka yang bergegas lari dari himpitan kenyataan, meski hanya bisa bersembunyi dalam dekapan hiruk gairah, untuk satu malam, atau malah hanya beberapa jam. Baca lebih lanjut

Lebih Enak Mana, Mencintai atau Dicintai

Bagaimana perasaanmu, jika aku menjadi kekasihmu?” tanya wanita jelita itu, saat mentari memerah jingga dijelang ufuk cakrawala. Si Wartawan sempat terbelalak, sebelum menjawab mengatasi gagap.

“Aku pasti akan cemburu pada surya yang hendak terbenam itu, karena ia telah membelai kedua pipimu dengan tangan-tangan cahayanya. Aku takut, surya itu akan mencuri sesuatu darimu sebelum ia beranjak pergi, sampai ke peraduannya. Aku juga tidak akan rela senyum manismu dicuri kedua kawanku ini. Di mataku, kedua lelaki ini berubah menjadi dua pencopet yang terus mengincar permata darimu, senyummu, kata-katamu, lirikan matamu. Baca lebih lanjut