Pungguk yang Mendamba Bulan, Hamba yang Merindukan Tuhan

Bila sungguh pungguk pernah mengidamkan bulan, betapa menggelikan sekaligus mengenaskannya. “Kaciaaan de lu, Ngguk!” Derazat yang terlalu jauh berbeda, jarak yang terlalu jauh untuk direngkuh.

Tapi bukankah sang pungguk tidak seberapa gila, dibanding seorang hamba yang merindukan Penciptanya? Bukankah perbedaan antara pungguk dan bulan menjadi tidak terasa, dibanding selisih antara makhluk dan Khaliknya?

Tetapi juga, apa bisa memberi batas pada rindu? Bukankah sia-sia mengepung cinta dengan tembok-tembok logika, mencoba mengukur rasa dengan satuan-satuan fisika?

Cinta hanya sungguh cinta, bila kau siap kehilangan segala yang kau miliki, untuk mendapatkan semua yang kau inginkan. Dan di hadapan kebesaran Pencipta, bukankah serta merta kita kehilangan segalanya, bahkan keberadaan kita sendiri?

“Oh bagiku cukuplah Engkau,” rintih sufi mabuk cinta. Lha iya, wong memang cuma Dia yang kita punya, bahkan cuma dia yang sungguh ada.

Kita lihat – atau sebagian kita termasuk – orang yang memeras keringat, mengumpulkan dan menabung sen demi sen, agar punya ongkos bertandang ke rumah Tuhan di tanah suci; Makkah, Betlehem atau Sungai Gangga. Manusia lainnya berebut membangun tempat ibadah yang megah, dengan kubah dan menara yang mencabik langit, seolah berlomba memikat Tuhan agar betah berumah di sana. Keindahan apa gerangan yang layak kita tawarkan kepada Sumber Segala Keindahan, kepada Asal Muasal Segala Rasa?

Makkah yang di jantungnya tegak Ka’bah dan Masjid Al Haram bisa, dan pernah, lumpuh diterjang banjir. Betlehem juga bisa, dan selalu, luluh lantak karena angkara permusuhan sepanjang sejarah. Masjid manapun bisa dirubuhkan, gereja manapun bisa dimusnahkan, kuil manapun bisa diratakan dengan tanah. Betapa terlalu memilukan sebenarnya, ternyata “kediaman” Tuhan bisa dimusnahkan semudah menggusur lokalisasi pelacuran?

Rumah Kapolres aja berat lo ngerusaknya, harus bisa bisa melewati penjagaan berlapis, dan kalaupun berhasil, ancaman penjara belasan tahun akan menanti, plus bonus bogem-bogem yang tak pernah matang saat dalam tahanan. Lha ini rumah Tuhan, kediaman Sang Mahaperkasa!

Ah, tapi mungkin itu cuma sebuah usaha untuk mengkonsepsikan Tuhan. Mustahil Tuhan berumahkan benda, seluas apapun dimensinya, sekokoh apapun konstruksinya.

Hancurkanlah semua yang bisa dihancurkan, tapi tidak hati seorang manusia yang penuh cinta, karena di sanalah sesungguhnya Tuhan bertahta.

“Pasukan Saladin boleh menaklukkan Kerjaan Surga di Jerusalem, tapi tidak Kerajaan Surga di hati kita,” bisik Balian dari Ibelin dalam film Kingdom of Heaven. Dari tokoh yang sama juga muncul kutipan yang menurut saya paling penting sekaligus terindah dari film itu: “How can you be in hell, when you are in my heart?”

Atau di film Titanic, Jack memang akhirnya tenggelam perlahan ke dasar samudera yang dingin membeku. Itu yang kita saksikan dengan hati tercabik kepedihan. Tapi bagi Rose di sepanjang sisa usianya, “You are safe in my heart, and my heart will go on and on…”

Kenyang kita membaca kisah, bagaimana kepala seseorang dipenggal karena keyakinannya. Algojo memang memaksa nyawa beranjak, terpisah dari tubuhnya. Tapi dia tahu, keyakinan yang berakar di hati si mati itu, tak pernah tercabut sehelai akar pun.

Bisa jadi satu kitab tebal, bila kita tuliskan ilustrasi yang menggambarkan kehebatan, keluasan, keperkasaan, pokoknya keluarbiasaan hati. Tapi toh kita selalu saja lupa memberi penghargaan yang layak untuknya.

Kita berebut masuk ke masjid, bergerombol menerobos gerbang gereja, berdesakan untuk menjadi yang pertama masuk ke kuil. Tapi pernahkah kita sungguh berusaha memasuki, menyelami diri sendiri, mencapi dasar hati, di pucuk keheningan, di mana tak ada lagi suara, kecuali debur jantung diburu rindu?

Kau perangi setan setiap hari, tapi terlalu enggan untuk menaklukkan ego sendiri, yang menjadi parasit penjajah hati.

Kita kejar apa yang hilang, tapi apa yang ada, keluasan hati itu, malah kita sisihkan.

Jadi, berhentilah menertawai pungguk yang merindukan bulan. Jangan lagi mencibir para pecinta, seabsurd apapun dia kelihatannya.

Karena rindu dan cinta, sesuatu yang datang dari hati itulah, yang memberi pungguk tenaga merayapi malam hingga ke pucuknya. Rasa yang absurd itulah yang memberi pecinta kekebalan untuk membendung semua derita.

Jangan pernah sepelekan hati, karena jika Tuhan saja bisa bertahta di sana, apatah lagi yang terlalu jauh untuk diraihnya, yang terlalu mulia untuk dirinduinya, terlalu indah untuk didambanya.

Betapa Tuhan yang Mahamulia tak pernah melecehkan cinta dan rindu yang ditujukan pada-Nya oleh siapapun; manusia, satwa, telaga, bahkan buih yang hanya hidup sekejap di punggung gelombang.

Sesuatu yang dari hati tak bisa dikasih harga.

Maka kenanglah kini, betapa angkuhnya kau dulu, kemarin, atau barusan saja tadi, ketika menertawai hati yang bersimpuh mengharap cintamu. Kau telah mencibir tempat Tuhan bertahta.

Apa sih susahnya menyambut penyerahan hati, tanpa harus ada yang terlukai? Tinggal bilang “Aku terima dengan segala penghargaan cintamu padaku. Tapi pahamilah, hatiku sendiri telah lebih dulu menyerah kepada seorang penakluk lain.”

Yaa, itu sih contoh doang. Bisa juga dengan format bahasa lain, yang penting datang dari hati. Misalnya,  “Beneran gue terharu banget pas tau lu ternyata udah lama nyimpen rasa ama gue. Gue juga jadinya kesel banget tau nggak, ngapain juga gw selalu ngarepin cinta dari dia. Tapi lu tau kan, hati kita emg ga bisa diatur. Plis, jangan brenti ya nyayangin gue, itu berarti banget, beneran, berarti banget.”

Kurang gaul juga? Try this one. “Busyet dah! Kita emang dari dulu senasib ya… Sama-sama jatuh hati ama yang ngga memerlukannya. Yee, mukelu jangan ngenes gitu dong. Elu mah mending, lha gue kaga pernah punya keberanian nyampein ama anak jahanam sialan itu.”

Apalagi usai mengungkapkan kata-kata itu, desain bahasa yang manapun yang kamu rasa paling pas, matamu dengan teduh menatap wajahnya, seolah memberi pesan, betapa kau mengerti, bahkan juga tengah merasakan, beratnya menanggung beban rasa kepada seseorang yang tak merasa perlu menerima konon lagi membalasnya.

Bila hati disambut dengan hati, maka hati yang patah akan tinggal menjadi kisah, musnah dikunyah sejarah. Hati terlalu lembut untuk dilukai, konon lagi untuk melukai.

Andai saja aku bisa menghayati pemikiran ini, bukan cuma bisa menuliskannya dengan bertele-tele seperti ini, Obbie Messakh mungkin tak perlu menciptakan lagu hits di tahun 80-an itu buat Betharia Sonata… “Hati yang luka…”

——————————————————-

Tulisan ini lahir, pas mengubek-ubek gudang, nemu sampul kaset Hati yang Luka. Kasetnya sendiri entah di mana. Hilang, mudah-mudahan karena luka itu telah sembuh ditutup debu waktu. Hehe, Betharia Sonata pernah culun juga ya, pada masanya. 😀

 

Iklan

17 thoughts on “Pungguk yang Mendamba Bulan, Hamba yang Merindukan Tuhan

  1. Nesia!

    Ya, Mbok. Tp konon periode keculunan kami orang Batak, relatif pendek. Sejak masih bayi, sudut-sudut keras di wajah itu sudah mulai menunjukkan pola.

    Tp kelak, sejarah mungkin akan merindukan wajah keras itu, ketika batas ras makin kabur dikubur pernikahan lintas-etnis, atau bagi penggemar situs porno, dikenal dengan kategori “Interracial XXX” alias esek-esek warna-warni. 😛

    Balas
  2. goop

    cinta yang bertahta dan beristana
    pada tempatnya yang pas, yaitu hati
    dan biarkan pungguk mengudarakan kerinduan dan cinta pada bulan
    meskipun itu culun,hihi 😆

    Balas
  3. sisusie

    Hi Bang Toga apa kabar ?? ceritanya nih lg mengenang masa lalu ?? persisnya peran yg mana ne ?? yg di tolak atau yg menolak ?? 😀 😀

    Balas
  4. maya

    biar gag terluka , selain yang diberi hati mau mengerti, memahami dan menghargai , yang memberi hati juga sebaiknya gag berharap . tapi apa bisa? :d

    Balas
  5. ridya

    salut dengan tulisanmu bang !!!

    benar sekali, sejatinya setiap orang berhak untuk memiliki dan merasakan kebhagiaan mencintai…karena sungguh tak ada kebahagiaan yang lebih tinggi dibanding semua itu…

    Balas
  6. nindityo

    sungguh beruntung sang pungguk yang telah menatap langit dan memandang rembulan.
    sebab terkadang bayangan bulan di air yang kita sangka bulan.
    dan ketika sang bulan berkenan pada kita, kita malah mencibirnya bahkan (mungkin telah) menyalibnya.

    Balas
  7. Ryan Shinu Raz

    Horas lae…
    Emang kalo laekku inilah..
    Dari Bulan sampe “Hati yang luka” nya betharia Sonata…

    Salut!!

    Horas !!!

    Balas
  8. azaxs

    Salam bang.. dah lama ga mampir…
    mantap nian tulisan abang ni…
    Yup, biarlah kita menikmati dan mengamini keyakinan masing2 tanpa harus ada yang terluka…

    Balas
  9. Humbang Hasundutan

    Tulisan luarbiasa lae Toga.

    …“Pasukan Saladin boleh menaklukkan Kerjaan Surga di Jerusalem, tapi tidak Kerajaan Surga di hati kita,”…
    …Tapi dia tahu, keyakinan yang berakar di hati si mati itu, tak pernah tercabut sehelai akar pun…

    Orang-orang mau hina dan cacimaki agama kita, Tuhan kita, bukanlah urusan kita untuk membelanya.
    Yang perlu kita bela dan pertahankan adalah hak kita untuk kepercayaan yang kita yakini, kerajaan surga di hati yang kita imani. Tidak seorangpun yang dapat mencabutnya dari kita.

    Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan.

    Salam

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s